Langit Tak Mengenal Gender: Kisah Letda Tek Qorinna, Calon Penerbang Perempuan TNI AU

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, kokpit pesawat tempur maupun latih kerap dibayangkan sebagai ruang maskulin, identik dengan ketegasan, keberanian, dan dominasi laki-laki.

Seolah-olah langit memiliki batas tak tertulis tentang siapa yang boleh dan pantas mengendalikannya.

Namun, bayangan itu perlahan berubah.

Baca juga: KSAD Tunggu Perintah Mabes TNI Terkait Kasus Penembakan Smart Air

Di Skadron Pendidikan 101 Wingdik 100/Terbang, Sleman, Yogyakarta, Letda Tek Qorinna berdiri sebagai penanda bahwa langit tak pernah menetapkan syarat jenis kelamin bagi siapa pun yang ingin menaklukkannya.

Motivasi dari ibu

Jejaknya menuju kokpit bukan perjalanan yang tiba-tiba.

Sejak kecil, Qorinna telah akrab dengan dunia militer.

Ia tumbuh di lingkungan TNI Angkatan Udara, menyaksikan langsung ritme kehidupan prajurit dari rumahnya sendiri.

Sang ibu adalah Wanita Angkatan Udara (Wara) yang kini berdinas sebagai Polisi Militer Angkatan Udara. Dari sosok itulah keyakinannya tumbuh.

Ia belajar bahwa menjadi prajurit bukan soal laki-laki atau perempuan, melainkan keberanian untuk mengambil peran dan memikul tanggung jawab.

“Motivasi saya dari ibu. Ibu saya Wara, dan sejak kecil saya hidup di lingkungan TNI AU. Dari situ saya yakin perempuan juga bisa menjadi tentara,” tutur Qorinna, saat ditemui di Wingdik 100/Terbang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).

Keyakinan itu ia bawa hingga menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU), lalu berlanjut ke Wingdik 100/Terbang di bawah naungan Sekolah Penerbang TNI AU, ruang yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

Baca juga: Wamenhan Tegaskan HGU di Atas Lahan TNI AU di Lampung Akan Segera Dicabut

Di satu angkatan AAU yang berjumlah 146 siswa, hanya sekitar belasan yang merupakan Taruni.

Ketimpangan itu terasa semakin nyata ketika memasuki pendidikan penerbang.

Di Skadron Pendidikan 101, Qorinna hanya berdua dengan Letda Demi Salma.

Selebihnya laki-laki. Realitas tersebut bukan hal baru.

Rekrutmen Taruni memang lebih sedikit dibanding Taruna, dan dampaknya berlanjut hingga tahap pendidikan lanjutan.

Namun, bagi Qorinna, angka-angka itu bukan batas akhir, melainkan garis awal untuk membuktikan diri.

“Sebagai Wara, hidup di lingkungan yang didominasi laki-laki, kami memang harus banyak beradaptasi,” ujar dia.

Pertanyaan sempat muncul dalam dirinya: mampukah ia mengikuti ritme yang sama?

Mampukah memenuhi standar yang tak dibedakan?

Jawabannya lahir dari proses yang dijalani hari demi hari.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Begitu dijalani, bisa menyesuaikan dengan laki-laki tanpa adanya diskriminasi atau hal-hal yang bikin orang berpikir itu. Bisa kok dijalani di sini,” ujar dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Terbaru Tahapan Seleksi PPDB SMA Unggul Garuda Baru, Cek di Sini!
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Saham ASII dan UNTR Menguat usai Prabowo Buka Ruang Evaluasi Tambang Martabe
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Preview Pisa vs AC Milan:  Sesumbar Hiljemark
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Menolong Pelaku Kezaliman
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Senggolan Motor dengan Bus di Bogor, 1 Orang Tewas dan 1 Luka-luka
• 21 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.