Di suatu tempat, di tepi pantai yang luas, ada butiran-butiran kecil pasir silika. Bentuknya sederhana, kecil, dan tampak tidak berharga. Ia hanya pasir biasa, diinjak orang, tersapu angin, bahkan terbawa ombak tanpa arah.
Pasir silika itu sering berpikir,
"Aku hanyalah butiran kecil. Apa gunanya aku di dunia ini?"
Namun suatu hari, pasir silika itu dikumpulkan. Ia dibawa oleh seorang pengrajin kaca. Pasir silika tidak mengerti mengapa dirinya dipilih.
Ia kemudian dimasukkan ke dalam tungku pembakaran.
Api menyala besar. Panasnya sangat tinggi, mencapai ribuan derajat. Pasir silika itu mulai merasakan perubahan. Ia tidak lagi berbentuk butiran kecil yang bebas. Ia mulai meleleh, berubah menjadi cairan panas.
Pasir silika merasa takut.
"Mengapa aku harus mengalami ini? Mengapa harus seberat ini? Aku merasa seperti dihancurkan!"
Namun sesungguhnya, api itu bukan sedang menghancurkan pasir silika. Api itu sedang memurnikan dan membentuknya.
Setelah meleleh, pasir silika cair itu dituangkan ke dalam cetakan. Ia dibentuk perlahan. Kadang diputar, kadang ditiup, kadang dipotong. Setelah itu, ia didinginkan dengan proses yang sangat hati-hati.
Belum selesai.
Ia kemudian dipoles, dipanaskan lagi, dan didinginkan kembali. Berkali-kali. Sampai akhirnya, pasir silika itu berubah menjadi sebuah gelas yang indah.
Gelas itu bening, kuat, dan berkilauan. Ketika terkena cahaya, ia memantulkan sinar yang menawan. Orang-orang melihatnya dengan kagum. Tidak ada lagi yang menginjaknya seperti pasir. Kini ia dihargai dan dijaga. Pasir silika itu akhirnya mengerti: Ia harus melewati panas untuk menjadi sesuatu yang berharga. Tanpa api, ia akan tetap menjadi pasir biasa.
Begitu Juga KehidupanHidup manusia sering kali mirip seperti pasir silika.
Kadang kita merasa kecil, tidak dianggap, bahkan merasa hidup kita tidak istimewa. Lalu datanglah masa-masa sulit: masalah keluarga, tekanan sekolah atau pekerjaan, kegagalan, kesedihan, dan kekecewaan.
Saat itulah kita merasa seperti berada dalam tungku api. Namun sesungguhnya, masa sulit bukan selalu pertanda kehancuran. Sering kali itu adalah proses pembentukan dan penyempurnaan. Tuhan, kehidupan, dan pengalaman sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, lebih sabar, dan lebih berarti.
Karena seperti pasir silika:
Panas membentuk ketahanan.
Tekanan membentuk kedewasaan.
Proses membentuk keindahan.
Tidak ada gelas yang berkilau tanpa dibakar dan tidak ada manusia yang kuat tanpa perjuangan. Maka saat hidup terasa berat, jangan menyerah. Mungkin kita sedang diproses, dan setelah proses itu selesai, kita akan menjadi pribadi yang lebih indah, lebih berkilau, dan lebih berguna bagi banyak orang.





