Populasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung Naik 24 Kali Lipat dalam 14 Tahun Terakhir

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Tahukah kamu bahwa keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) dapat mengancam ekosistem? Walau sering ditemui, spesies ini berbahaya bagi keseimbangan perairan Indonesia, terutama karena karakter invasifnya.

Di Sungai Ciliwung, misalnya, populasi ikan sapu-sapu meningkat sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Dari yang awalnya hanya 12 ekor pada penelitian 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian terbaru 2023–2024.

Temuan ini dapat dilihat dalam artikel berjudul "Reinvetarisasi dan Analisis Laju Peningkatan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung" yang dipublikasikan di Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025). Penelitian yang dilakukan Iqbal Mujadid dkk itu dipublikasikan pada 19 Agustus 2025.

Penelitian Mujadid dkk itu dilakukan di 18 stasiun pantauan Sungai Ciliwung yang membentang sepanjang Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan DKI Jakarta. Total panjang aliran Sungai Ciliwung yang diteliti adalah 9 km dari 120 km.

Nah, penelitian tersebut membandingkan temuan mereka dengan penelitian Hadiaty pada 2011 berjudul “Diversitas dan Hilangnya Jenis-jenis Ikan di Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane”. Dalam penelitian Hadiaty, hanya ada 16 stasiun pemantauan, lebih sedikit dibanding 18 stasiun yang disurvei oleh Iqbal Mujadid dkk.

Secara keseluruhan, Iqbal Mujadid dkk sebetulnya menemukan 296 ekor ikan sapu-sapu di 18 stasiun tersebut. Namun, untuk keperluan perbandingan yang adil dengan data Hadiaty pada 2011, mereka menggunakan acuan angka 287 ekor.

Mendominasi Populasi Ikan di Sungai Ciliwung

Mengutip penelitian tersebut, ikan sapu-sapu di Indonesia dikategorikan sebagai spesies ikan eksotis atau ikan alien. Yakni, ikan yang tak berasal dari Indonesia dan secara sengaja dipindahkan ke lokasi baru melalui aktivas manusia.

Namun, ikan sapu-sapu dianggap berbahaya karena invasif, tidak punya predator alami, dan sangat tahan polusi, sehingga mendominasi segmen hilir.

Dalam grafik di bawah ini, ikan sapu-sapu yang digunakan Iqbal Mujadid dkk adalah 296 ekor. Sebab hanya merepresentasikan temuan di 2023-2024.

Ledakan populasi ini membuat ikan sapu-sapu kini menjadi spesies dengan kelimpahan tertinggi, mengungguli 36 spesies ikan lain yang juga ditemukan di Sungai Ciliwung. Jumlahnya mencapai 296 ekor atau 19,08 persen dari total 1.551 ekor ikan yang ditemukan di 18 stasiun pemantauan.

Lonjakan ikan sapu-sapu didorong oleh kemampuan beradaptasinya yang baik pada kondisi perairan berpolutan. Kemampuan ini tidak dimiliki jenis ikan lainnya, sehingga ikan sapu-sapu juga dapat mendominasi di lingkungan berpolutan.

Dalam penelitian ini, ikan sapu-sapu paling mudah ditemui di bagian hilir Sungai Ciliwung, yaitu di segmen DKI Jakarta 1 dan 2. Wilayah tersebut memiliki kualitas air rendah dan tingkat pencemaran tinggi. Kondisi sungai yang dipenuhi berbagai polutan membuat banyak spesies ikan lain tidak mampu bertahan hidup di area tersebut.

Dominasi ikan sapu-sapu juga diperkuat oleh ketiadaan predator alami. Kulitnya yang sangat keras membuat predator lokal sulit memangsa spesies ini, sehingga populasinya berkembang tanpa kontrol alami.

Menginvasi Ikan Lokal

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) secara resmi dikategorikan sebagai spesies invasif. Status ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/KKP/2020, yang melarang pemasukan, pembudidayaan, peredaran, hingga pengeluaran jenis ikan yang dianggap membahayakan atau merugikan ekosistem perairan Indonesia.

Untuk membandingkannya dengan temuan Hadiaty pada 2011, Iqbal Mujadid dkk menggunakan angka 287 ekor. Dalam grafik di bawah ini, terlihat bahwa ikan sapu-sapu yang ditemukan pada 2011 cuma mencapai 12 ekor.

Masuknya ikan sapu-sapu membawa dampak langsung pada keseimbangan ekosistem sungai. Spesies ini mendominasi ruang hidup dan sumber pakan, sehingga memicu persaingan dengan ikan asli.

Akibatnya, populasi ikan lokal seperti ikan regis (Mystacoleucus marginatus) dan ikan benter (Barbodes binotatus) terus tertekan dan menunjukkan tren penurunan.

"Terdapat empat spesies ikan asli yang kelimpahannya menurun, yaitu ikan regis (Mystacoleucus marginatus), benter (Barbodes binotatus), kehkel (Glyptothorax platypogon), dan bogo (Channa limbata). Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan keempat spesies tersebut untuk bersaing dalam mencari pakan dan ruang. Ikan regis dan benter bersaing dengan ikan eksotis sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis), sedangkan kehkel bersaing dengan ikan eksotis bristlenose pleco (Ancistrus sp.)," tulis penelitian tersebut.

Berbahaya untuk dikonsumsi

Ikan sapu-sapu yang kini kerap ditemukan di perairan Indonesia ternyata tidak aman dikonsumsi manusia. Mengutip dari Puspitasari dengan judul artikel "Deteksi Bakteri Pencemar Lingkungan (Coliform) Pada Ikan Sapu-Sapu Asal Sungai Ciliwung" (2018), ikan ini mengandung bakteri koliform, yang bisa memicu gangguan pencernaan.

Tidak hanya itu, studi Ismi (2019) berjudul "Kandungan 10 Jenis Logam Berat pada Daging Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Asal Sungai Ciliwung Wilayah Jakarta" juga menemukan logam berat di dalam tubuh ikan sapu-sapu, yang berpotensi menimbulkan keracunan jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Lalu, penelitian berjudul "Analisis Kelimpahan Mikroplastik pada Ikan Sapu- Sapu Pterygoplichthys Pardalis, Air, dan Sedimen di Dua Daerah Ciliwung, Jakarta Selatan " milik Deriano (2022) menemukan adanya mikroplastik dalam ikan sapu-sapu. Mikroplastik dikenal sulit dicerna tubuh manusia dan bisa menimbulkan efek jangka panjang bagi kesehatan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
No Na Bikin Video Musik dengan Latar Sawah, Promosikan Keindahan Alam Indonesia
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Anggota DPR RI Komisi V Tinjau Jalan Tol Palembang–Betung, Dorong Percepatan Konektivitas di Sumatra Selatan
• 2 jam laludisway.id
thumb
Alam Sutera Akui Data UBO Perorangan Masih Kosong Usai Wafatnya The Ning King
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kasus Sritex, Saksi Mengaku Namanya Dipinjam untuk Transaksi
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Bubarkan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan, Pangkormar: Bukan Langkah Mundur
• 7 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.