BMKG Ungkap Dampak Nyata Perubahan Iklim

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan perubahan iklim menjadi kenyataan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, bukan lagi sekadar ancaman di masa depan. Salah satu indikasi yang semakin nyata adalah meningkatnya intensitas curah hujan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mencontohkan fenomena Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra pada penghujung 2025. Peristiwa tersebut memicu lonjakan curah hujan hingga melampaui batas normal dan bahkan mencatatkan rekor baru di sejumlah daerah.

"Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya," kata Ardhasena dikutip dari Media Indonesia, Jumat, 13 Februari 2026.

Ia menjelaskan, kejadian alam seperti Siklon Tropis Senyar merupakan bagian dari tren pemanasan global yang terus berlangsung. Analisis BMKG juga menunjukkan bukti lain dari perubahan iklim, yakni catatan suhu udara.

Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5°C. Sementara itu, tahun 2025 menempati urutan keenam tahun terpanas dengan suhu rata-rata 27,04°C atau anomali +0,38°C di atas periode normal 1991–2020.
 

Baca Juga :UN Women Indonesia Perkuat Aksi Iklim Responsif Gender Berbasis Orang Muda


Menurut Ardhasena, kondisi iklim Indonesia ke depan berpotensi semakin mengkhawatirkan apabila tidak diikuti langkah mitigasi bersama. Proyeksi BMKG menunjukkan suhu di seluruh wilayah Indonesia dapat meningkat hingga 1,6°C pada periode 2021–2050.

Selain kenaikan suhu, perubahan iklim juga diperkirakan mengubah pola hujan. Wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi lebih basah hingga 8 persen, sedangkan wilayah selatan justru lebih kering hingga minus 9 persen. Dampaknya, hujan dengan periode ulang 100 tahun berpotensi terjadi jauh lebih sering.

"Sebagai contoh, hujan intensitas 250 mm yang tadinya berulang 100 tahun sekali, diprediksi akan muncul setiap kurang dari 20 tahun," ujarnya.


Perubahan iklim. Foto: Ilustrasi Medcom.id

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah mencairnya tutupan es di Puncak Jaya, Papua. BMKG mencatat luas es telah menyusut sekitar 98 persen sejak 1988 dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027. Di sisi lain, kenaikan muka laut di Indonesia mencapai 4,36 milimeter per tahun, meningkatkan risiko banjir rob dan abrasi di kawasan pesisir.

BMKG pun mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan serta upaya adaptasi terhadap variabilitas iklim. Langkah kolektif dinilai penting guna menjaga keberlanjutan ekonomi sekaligus melindungi lingkungan di tengah laju pemanasan global yang terus berlanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emak-emak Pembakar Toko Emas di Makassar Awalnya Pura-pura Ingin Beli Sebelum Mencuri, Beralasan Terlilit Utang
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Bongkar Peredaran 99 Ribu Butir Happy Five di Dumai, Bareskrim Klaim Selamatkan 19 Ribu Jiwa
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Dasco Janji UU Ketenagakerjaan Baru Selesai Oktober: Kami Libatkan Buruh
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Kemudahan Pembayaran Kebutuhan Liburan dengan Skema Cicilan Bunga 0 Persen
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Polisi Ungkap 3 Pelajar di Jakpus Siram Korban Pakai Cairan Kimia, Bukan Air Keras
• 13 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.