Lebih dari dua bulan setelah bencana hidrometeorologi melanda wilayah Sumatera bagian utara, sejumlah ruas jalan utama di Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues, Provinsi Aceh, masih terputus. Pembangunan jalan sementara pun masih berlangsung.
Jalan utama yang masih terputus akibat banjir, antara lain, terdapat di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara. Saat Kompas melintasi area itu pada Rabu (12/2/2026) sore, sedikitnya terdapat lima titik ruas jalan yang terdampak banjir. Area ini berada di sekitar Sungai Alas.
Ruas Jalan Kutacane-Blangkejeren itu terdampak banjir dari Sungai Alas dan tanah longsor pada akhir November 2025. Panjang jalan yang putus bervariasi, dari sekitar 100 meter hingga lebih dari 500 meter. Di area itu, tampak batu besar dan batang pohon dengan diameter hingga sekitar satu meter.
Tebing jalan yang tingginya hingga lebih dari lima meter juga ambrol. Meskipun jalan utama terputus, kendaraan masih bisa melintas melalui jalur sementara di sekitar sungai. Pengendara harus mengurangi laju kecepatannya menjadi sekitar 5 kilometer per jam.
Pengendara harus bergantian melalui jembatan sementara yang tengah dibangun di beberapa titik. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membersihkan material, meratakan jalan, serta membangun jembatan. Di Desa Kati Maju, misalnya, terdapat lima alat berat yang membuat jembatan sementara.
Ruas jalan utama yang terputus juga terjadi di Desa Rumah Bundar, Ketambe. Di area ini, pengendara dialihkan untuk melalui jalan yang lebih kecil di antara pepohonan. Sejumlah polisi setempat tampak berjaga dan mengarahkan pengendara yang melalui jalur tersebut.
Sejumlah ruas jalan yang terdampak bencana juga terjadi di Gayo Lues. Di kawasan Putri Betung, yang berbatasan dengan Aceh Tenggara, misalnya, terdapat tanah longsor yang membuat jalan menyempit, tidak bisa dilalui dua kendaraan roda empat saat berpapasan. Kendaraan pun bergantian melintas.
Fadhil (27), pengendara, mengatakan, sejumlah jalan utama yang terputus merupakan jalur penghubung antara Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan Blangkejeran, Gayo Lues. Jalan ini merupakan lintas tengah yang menjadi jalur utama pengendara dari Medan, Sumut, ke Blangkejeren.
”Waktu banjir dan longsor terjadi (akhir November 2025), akses dari Medan ke Blangkejeran terputus. Tapi, awal Januari 2026 sudah diperbaiki dan sudah bisa dilewati,” ujarnya. Meski demikian, jalan utama yang terputus belum sepenuhnya pulih. Pengendara masih harus melintasi jalan atau jembatan sementara.
Waktu tempuh perjalanan pun lebih lama. Ia mencontohkan, sebelum bencana, waktu tempuh dari Berastagi ke Blangkejeren berkisar lima atau enam jam. Saat ini, lama perjalanannya bisa lebih dari tujuh jam. Fadhil yang bekerja di rental mobil pun berharap perbaikan jalan dapat segera tuntas.
Tidak hanya memutus akses jalan, banjir juga menghanyutkan rumah warga. Rumah keluarga Rasidah (42), warga Desa Kati Maju, misalnya, lenyap dihantam banjir dari Sungai Alas. ”Ada tiga rumah dan satu masjid yang hanyut. Airnya sampai rumah kami. Padahal, sungainya jauh,” ujarnya.
Beruntung, ia dan suami beserta tiga anak mereka selamat dari bencana itu. Meski demikian, ia dan keluarga harus tinggal di poskedes yang dijadikan posko bencana banjir. Di sana, terdapat dua keluarga yang tinggal. Akan tetapi, toilet di tempat itu kurang memadai. Ia juga hanya menggunakan kasur bantuan untuk istirahat.
Setelah bencana, katanya, keluarganya mengandalkan bantuan dari pemerintah dan warga. ”Sekarang sudah hampir satu bulan tidak ada lagi bantuan yang masuk. Mengenai tempat tinggal, kemarin memang sudah ada yang datang meninjau lokasi. Katanya mau dibangunkan lagi,” ujar Rasidah yang kehilangan rumah seluas 5 meter x 15 meter.
Sebelumnya, bencana hidrometeorologi menerjang Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir November 2025. Hingga awal 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, 1.178 jiwa meninggal akibat bencana Sumatera. Korban jiwa terbesar ada di Aceh Utara (229 orang), Agam (194), dan Tapanuli Tengah (128).
Bencana Sumatera berdampak terhadap 53 kabupaten/kota. Jumlah rumah rusak mencapai 175.000 dengan 53.000 di antaranya rusak parah. Akibatnya, 242.000 orang terpaksa mengungsi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/2/2026), mengatakan, pemulihan daerah terdampak bencana di Sumatera terus dilakukan. Terkait hunian, misalnya, sebanyak 5.500 rumah telah rampung dibangun dalam kurun dua bulan. Sebanyak 1.500 rumah di antaranya telah selesai dalam satu bulan.
Bapak Presiden (Prabowo Subianto) terus memantau perkembangan pemulihan daerah bencana dan ingin seluruh satgas serta menteri terkait menyampaikan ’update’ secara berkala kepada publik.
Di sektor infrastruktur, pemerintah telah menyelesaikan pembangunan 98 jembatan di provinsi terdampak. Selain itu, 99 ruas jalan nasional yang sebelumnya terputus kini sudah kembali berfungsi. Di bidang kesehatan, sebanyak 87 rumah sakit dan 867 puskesmas terdampak kini telah kembali melayani masyarakat.
”Bapak Presiden (Prabowo Subianto) terus memantau perkembangan pemulihan daerah bencana dan ingin seluruh satgas serta menteri terkait menyampaikan update (perkembangan) secara berkala kepada publik,” ujarnya.





