Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.837 per Dolar AS

tvrinews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ridho Dwi Putranto

TVRINews, Jakarta 

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Mata uang Garuda tertekan di tengah kombinasi sentimen global dan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 0,05 persen atau 9 poin ke level Rp16.837 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,07 persen ke posisi 96,98.

Mengacu laporan Trading Economics, penguatan rupiah yang terjadi sebelumnya terhenti pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026. Pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang rapat kebijakan suku bunga Bank Indonesia pekan depan.

Dalam laporannya, Trading Economics menyebut sentimen pasar dipengaruhi ekspektasi bahwa bank sentral akan melanjutkan siklus pelonggaran moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Sejak September 2024, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar total 150 basis poin.

Selain itu, kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan bank sentral mencuat setelah pelantikan Thomas Djiwandono sebagai wakil gubernur BI awal pekan ini. Ia merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.

Dari eksternal, risiko datang dari potensi pengawasan Uni Eropa terhadap aliran minyak Rusia yang berpotensi mengganggu perdagangan global.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan turut meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat, meski indeks dolar relatif terbatas penguatannya.

Secara kinerja, Trading Economics mencatat rupiah menguat 0,27 persen dalam satu bulan terakhir, namun masih melemah 3,54 persen secara tahunan. Lembaga tersebut memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp16.812,17 pada akhir kuartal ini dan menguat ke Rp16.554,28 dalam 12 bulan mendatang.

Sementara itu, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.820 hingga Rp16.850 per dolar AS. Pada penutupan Kamis, 12 Februari 2026, rupiah tercatat turun 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah juga dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, perkembangan data ketenagakerjaan AS yang menjadi acuan kebijakan moneter The Fed, serta kondisi fiskal domestik.

Ia menyoroti meningkatnya tekanan fiskal Indonesia seiring lonjakan belanja negara dan kewajiban pembayaran utang pemerintah di tengah ketidakpastian penerimaan.

Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, naik Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BTS World Tour 2026 Arirang Singgah di Jakarta, Ini Jadwal dan Prediksi Harga Tiketnya
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Polemik Ijazah Jokowi, Abdul Gafur: Ada Attention Otoritas untuk Menutupi
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Resmi! Thomas Tuchel Perpanjang Kontrak Latih Inggris hingga 2028
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Soroti Harga Minyak Goreng Sering Mahal, Amran Bakal Sanksi Pengusaha yang Jual di Atas HET
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Tips Puasa Sehat dan Lancar bagi Penderita Asam Lambung, Ini Cara Cegah GERD Kambuh Saat Ramadan
• 22 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.