Jarum jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Lahan kecil di tengah permukiman pemulung Kampung Sumur sudah ramai. Ibu-ibu membawa anak, bapak-bapak, dan remaja berkumpul. Bukan hanya kerja bakti, melainkan juga menanam harapan di Swara Hijau Farm, Kecamatan Klender, Jakarta Timur.
Tiap orang larut dalam pekerjaannya masing-masing pada Kamis (12/2/2026). Siti Ulfa (35), satu di antaranya. Jari-jemarinya gesit mengisi lubang-lubang instalasi hidroponik dengan bibit pakcoy dan siomak.
”Nambah kesibukan,” kata Siti. Saban hari, ia bekerja sebagai pemulung plastik dan kardus.
Hasil pulungan dikumpulkan hingga berat tertentu sebelum ditimbang. Nilainya mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah.
Setengah tahun terakhir ini rutinitasnya bertambah. Ia bekerja sambilan di Swara Hijau Farm. ”Supaya ada penghasilan tambahan. Daripada waktu senggang hanya di rumah,” kata Siti.
Ia diajak bergabung oleh sesama pemulung. Selain mengurus sayuran hidroponik, Siti juga merawat maggot dan melon.
Waktu kerjanya menyesuaikan kegiatan memulung. Biasanya pagi hari sebelum pukul 08.00 WIB atau sore hari sebelum pukul 15.00 WIB.
Kelebihan hasil panen, seperti sayur dan ikan, bisa dibawa pulang ke rumah. Hal ini sangat berarti karena menghemat ongkos belanja sekaligus mencukupi keperluan sehari-hari.
Pengelola juga rutin berbagi hasil panen kepada anak-anak yatim di Kampung Sumur. Hal itu menambah semangat dan kepedulian antarsesama.
Sementara itu, keuntungan dari hasil penjualan dibagi rata. Siti, misalnya, bisa mengantongi uang hingga ratusan ribu rupiah.
Ia juga dibekali ilmu. Ada pelatihan oleh pengelola Swara Hijau Farm, Pemerintah Kota Jakarta Timur, dan perusahaan melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
"Alhamdulillah, dapat ilmu. Yang enggak punya KTP (kartu tanda penduduk) juga dibikin (diikutkan pelatihan), sama (mendapatkan layanan) BPJS Ketenagakerjaan," ungkap Siti.
Jaminan kesehatan melalui kepesertaan di BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan diurus oleh pengelola Swara Hijau Farm. Tujuannya agar pemulung mendapat perlindungan meskipun bekerja di sektor informal.
Di sudut lain kebun seluas 132 meter persegi itu ada Supriatun (36). Ia cekatan memberi makan maggot. Ia kemudian membersihkan kandang ayam dan mengecek kondisi ikan di bak.
“Daripada di rumah main HP, mending di sini. Ngilangin stres juga karena banyak teman," kata Supriatun semringah.
Ia sudah setengah tahun bergabung dengan Swara Hijau Farm. Dari semula dibimbing, kini ia gantian membimbing sesama pemulung di kebun.
"Kami enggak muluk-muluk pengin dapat uang gede. Di sini jadi tahu nanam siomak begini, piara ikan begini, ayam begini. Jadi tahu banyak," kata ibu empat anak itu.
Maggot, misalnya. Awalnya ia merasa jijik karena kotor. Setelah ditekuni ternyata menyenangkan.
Larva dari lalat tentara hitam (Hermetia illucens) itu mengonsumsi sampah organik sehingga mengurangi limbah rumah tangga. Supriatun dan teman-temannya kerap membawa sisa makanan yang sudah dipilah untuk pakan maggot.
Di sisi satunya anak Supriatun bisa ikut les gratis di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Yayasan ini sekaligus pengelola kebun tempat pemulung bekerja sambilan.
"Kami, kan, pemulung, sangat terbantu. Jadi lebih tenang, kebutuhan rumah cukup, anak-anak juga senang," kata Supriatun.
Swara Hijau Farm dirintis sejak tahun 2018. Tujuannya untuk menciptakan ketahanan pangan di komunitas pemulung dan menjadi tempat edukasi pertanian kota (urban farming), khususnya untuk warga Klender.
Ketua Kelompok Tani Swara Hijau Farm, Endang Mintarja memulainya dari budidaya melon dan membagikan instalasi budidaya ikan dalam ember kepada 50 warga sekitar.
Setelah itu, mereka mengelola maggot sebagai pakan alternatif untuk ikan dan ayam, pupuk organik dan sayuran hidroponik. "Jadi semuanya terpakai di sini," kata Endang.
Saat ini jumlah anggota Swara Hijau Farm mencapai 30 orang. Mereka mendapat penghasilan tambahan dari hasil penjualan telur ayam, sayuran hidroponik, melon hidroponik, ikan, dan maggot.
Pada Februari 2026, misalnya, masing-masing anggota mendapat tambahan Rp 200.000 dari panen ikan. Terdapat sembilan bak ikan nila.
Delapan untuk pembesaran dan satu sebagai penampungan siap panen. Ikan-ikal dijual eceran atau ke warteg. Satu warteg membutuhkan 1–2 kilogram per hari.
"Harapannya, Swara Hijau Farm jadi ruang belajar, ruang kerja, dan ruang berkumpul warga," ujar Endang.
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta mencatat ada 1.235 lokasi urban farming. Lokasi-lokasi tersebut tersebar dalam berbagai bentuk, mulai dari 305 gang hijau di permukiman padat, 267 RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak) sebagai ruang terbuka ramah anak, hingga 131 sekolah yang ikut menghadirkan taman edukatif.
Terdapat juga 249 area perkantoran yang turut menyediakan ruang hijau, 101 fasos-fasum, dan 76 lahan kosong yang dimanfaatkan sementara sebagai taman atau kebun kota.
Selain itu, inovasi vertikal terlihat dari 61 taman di roof top dan 28 kawasan rusun yang menata ruang hijaunya sendiri, serta 17 kawasan agroeduwisata sebagai contoh integrasi antara pertanian dan pembelajaran lingkungan di tengah kota.
Data lainnya menunjukkan SDM pertanian cukup hidup. Tercatat ada 347 kelompok tani dengan dukungan 2.284 pegiat urban farming yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka menjadi garda depan dalam menjaga ketahanan pangan dan penghijauan kota.
Selain itu, terdapat 30 Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya dan 35 kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan yang aktif berbagi pengetahuan serta menggerakkan komunitas petani modern di lingkungan urban.
Masih berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, ada 19 gabungan kelompok tani (gapoktan) yang memperkuat jejaring kolaborasi di tingkat kota. Jakarta juga masih punya 340 hektar lahan padi, sebagian besar di wilayah utara dan barat.
Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak sepenuhnya kehilangan napas agrarisnya. Jakarta justru sedang mengusahakan wujud pertanian yang adaptif di ruang perkotaan.





