Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump memerintahkan Pentagon membeli listrik dari pembangkit batu bara melalui kontrak jangka panjang, mempertegas langkahnya menghidupkan kembali industri batu bara di tengah tekanan transisi energi.
Dalam perintah eksekutif yang dikutip pada Jumat (13/2/2026), Trump menginstruksikan Departemen Pertahanan AS untuk menjalin kontrak pembelian jangka panjang dengan pembangkit listrik berbasis batu bara serta memprioritaskan pelestarian dan pemanfaatan strategis aset energi berbasis batu bara.
Meski demikian, perintah tersebut tidak merinci besaran listrik yang akan dibeli Pentagon maupun skema pembiayaannya. Sementara itu, pada acara di Gedung Putih yang dihadiri para eksekutif dan pekerja industri batu bara, Trump memuji peran sektor tersebut.
“Anda memanaskan rumah kami, menggerakkan pabrik kami, dan mengubah sumber daya alam menjadi kekayaan serta impian Amerika,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Trump juga mengumumkan Departemen Energi AS akan menginvestasikan US$175 juta untuk meningkatkan kapasitas enam pembangkit batu bara di North Carolina, Ohio, West Virginia, Kentucky, dan Virginia.
“Orang-orang terpenting di sini hari ini adalah mereka yang tangannya sedikit kotor untuk menjaga Amerika tetap berjalan dengan kecepatan penuh—para pekerja garis depan batu bara kami,” kata Trump.
Produksi batu bara di AS telah menurun selama beberapa dekade akibat persaingan dari gas alam dan energi terbarukan seperti angin, tenaga air, dan surya. Berdasarkan data US Energy Information Administration, produksi batu bara turun lebih dari separuh antara 2008 hingga 2023, ketika output tercatat 578 juta ton.
Pada 2023, batu bara menyumbang sekitar 16% dari total produksi energi AS, di bawah gas alam sebesar 43% dan energi terbarukan 21%.
Analisis lembaga nirlaba Energy Innovation pada 2023 menunjukkan 99% fasilitas pembangkit batu bara di AS lebih mahal untuk dioperasikan dibandingkan dengan biaya penggantian menggunakan energi terbarukan.
Meski demikian, Trump secara konsisten mendorong kebangkitan “batu bara bersih yang indah” sebagai kunci penguatan manufaktur domestik dan dominasi AS dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), terlepas dari menurunnya daya saing batu bara dan kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.
Trump, yang sebelumnya memulai proses keluarnya AS dari Perjanjian Iklim Paris dan menyebut konsensus ilmiah tentang pemanasan global sebagai “tipuan”, juga mendeklarasikan darurat energi pada hari pertamanya menjabat guna mencegah penutupan pembangkit batu bara tua.
Sejak perintah tersebut diterbitkan, Departemen Energi AS telah memaksa sedikitnya lima pembangkit untuk memperpanjang operasi melampaui jadwal pensiun yang telah ditetapkan.
Pada hari yang sama, Tennessee Valley Authority (TVA)—penyedia utilitas publik terbesar di AS—memutuskan memperpanjang masa operasional dua pembangkit batu bara yang sebelumnya dijadwalkan tutup pada 2035.
Keputusan TVA tersebut diambil setelah bulan lalu dewan direksinya menambahkan empat anggota yang ditunjuk Trump, menyusul pemecatan tiga anggota dewan yang sebelumnya dipilih oleh Presiden Joe Biden.





