Bisnis.com, JAKARTA – Harga perak dunia sempat mengalami koreksi yang cukup dalam pada perdagangan Kamis (12/2/2026) malam. Tidak tanggung-tanggung, harga perak di pasar spot bahkan ambles sebesar 8%.
Berdasarkan data Trading View, harga perak pada perdagangan Kamis, semula dibuka pada level US$84,08 per ons dan ditutup pada level US$76,28 per ons. Susutnya harga perak itu terjadi lantaran pada periode pukul 22.15 WIB–23.15 WIB, harga perak ambles hingga 8,00% ke level US$76,31 per ons.
Analis Teknikal Gary Wagner, dalam tulisannya di Kitco, menerangkan bahwa koreksi yang sempat terjadi terhadap harga logam mulia lebih banyak disebabkan oleh forced liquidation, ketimbang faktor fundamental perak itu sendiri.
Aksi jual ini disebut bermula dari sektor kecerdasan buatan (AI), dengan perusahaan raksasa teknologi seperti Nvidia dan Alphabet sempat menunjukkan pelemahan pada perdagangan kemarin waktu Asia.
Tidak lama berselang, aksi jual merembet ke sejumlah saham perusahaan AS. Tecermin dari indeks Nasdaq yang sempat mengalami penurunan 2% dan S&P 500 mengalami koreksi 1,57%. Aksi jual itu juga merembet ke komoditas.
Ahli Strategi Makro Bloomberg MLIV Michael Ball, menilai pergerakan harga komoditas tersebut lebih sebagai penjualan sistemik dan bukan sebagai koreksi fundamental.
Baca Juga
- Catatan untuk Investor Logam Mulia di Rezim Emas dan Perak yang Bergejolak
- Harga Emas dan Perak Perlahan Bangkit Usai Koreksi Tajam
- Ramalan Pasokan-Permintaan Perak 2026, Harga Terus Meroket?
"Nada risk-off di pasar ekuitas pada Kamis yang didorong oleh disrupsi AI mulai meluas, dengan logam yang anjlok tiba-tiba akibat apa yang terlihat seperti algo selling. Meskipun sempat ada pemulihan kecil, secara keseluruhan harga logam terpukul keras, yang terasa lebih seperti penjualan strategi sistemik," katanya dikutip dari Kitco News, Jumat (13/2/2026).
Terhadap sentimen penundaan rilis data lapangan kerja AS pada Rabu lalu, para analis menilai hal ini kurang berkaitan. Menurut para analis, waktu dan pola penjualan logam mulia tersebut tidak mendukung interpretasi itu.
Meskipun begitu, pasar masih akan memantau secara ketat rilis data CPI Januari yang dijadwalkan terbit hari ini. Konsensus memprediksi kenaikan tahunan sebesar 2,5% yang berpotensi mengubah sentimen jangka pendek logam mulia.
Sebelumnya diberitakan, harga perak belakangan telah bertahan di level dengan volatilitas yang cukup tinggi. Permintaan logam mulia putih itu ke sektor investasi diramal akan tetap tinggi pada tahun ini, meskipun fluktuasi harga membayangi.
Silver Institute merilis laporan yang menunjukkan peningkatan pembelian investasi dan melemahnya permintaan industri di tahun mendatang. Dalam laporan terbaru, badan industri perak dunia itu mengatakan bahwa permintaan industri diperkirakan akan sedikit menurun pada 2026.
Meskipun pertumbuhan instalasi fotovoltaik surya terus berlanjut, penghematan yang berkelanjutan dan substitusi langsung dari perak akan mengakibatkan penurunan permintaan perak untuk PV.
Sementara itu, investasi fisik diperkirakan akan meningkat sebesar 20% ke level tertinggi tiga tahun sebesar 227 juta ons. Setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan, investasi fisik negara-negara Barat diperkirakan akan pulih pada 2026. Hal itu karena kinerja harga perak yang luar biasa dan ketidakpastian makroekonomi yang berkelanjutan menghidupkan kembali minat investor.
Di satu sisi, permintaan investasi di India kemungkinan akan meningkat dari keuntungan substansial tahun lalu di tengah sentimen investor yang positif.
Silver Institute memperkirakan pasar perak akan tetap mengalami defisit pada 2026 untuk tahun keenam berturut-turut, pada angka yang cukup signifikan yaitu 67 juta ons.





