Sayang Dibuang, Tak Kunjung Diperbaiki: Dilema E-Waste di Rumah Warga Jakarta

kompas.com
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Menimbun barang elektronik bekas yang rusak atau tak terpakai menjadi kebiasaan sebagian orang.

Salah satunya warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, Syamsul (43), yang sengaja menumpuk barang elektronik bekas, seperti keyboard, monitor, kamera, dan mesin cuci di gudang rumahnya. 

Alasan Syamsul tak membuang barang-barang tersebut karena berharap suatu saat bisa diperbaiki lagi.

Tapi, faktanya, sudah bertahun-tahun menumpuk di gudang, barang elektronik itu tak kunjung diperbaiki.

"Mesin cuci rusak udah dua tahun dan tidak pernah diperbaiki, karena keburu beli yang baru," kata Syamsul saat diwawancarai di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (13/2/2026).

Di sisi lain, ia enggan menjual barang bekas itu ke tukang loak karena harga yang ditawarkan sangat murah. Padahal, harga beli barang elektronik itu mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sama seperti Syamsul, warga Koja, Jakarta Utara, Juna (23), juga menimbun banyak barang elektronik bekas milik orangtuanya di rumah. 

"Kalau dispenser di rumah udah tertimbun selama dua tahun. Saya sebagai anak suka kesal rasanya pengin buang, kadang udah saya bilangin mending beli baru daripada perbaikin mahal, ngomongnya doang mau diperbaikin ujungnya beli yang baru," ungkap Juna.

Baca juga: Sayang Dibuang, Mahal Diperbaiki: Alasan Masyarakat Menimbun Barang Elektronik Bekas

Budaya konsumsi modern

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, menilai, menimbun limbah elektronik bekas di rumah merupakan cerminan budaya konsumsi modern.

"Jadi, ini sebenarnya bukan hanya semata-mata tindakan individu ya, tapi melainkan hasil dari budaya konsumsi modern masyarakat yang mendorong pembelian barang baru secara cepat gitu," ucap Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (13/2/2026).

Faktor kedua yang menyebabkan warga senang menimbun limbah elektronik karena kurangnya sistem pengolahan terintegrasi.

Ketiga, adanya norma sosial yang belum kuat mengenai daur ulang, sehingga proses itu masih dianggap baru.

Di sisi lain, kata Rakhmat, dalam teori konsumsi dijelaskan bahwa barang elektronik bukan hanya alat fungsional, tapi juga simbol status dan identitas.

Artinya, ketika rusak, barang tersebut sering ditahan karena belum sepenuhnya kehilangan makna sosialnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Faktor budaya dan sosial

Rakhmat menjelaskan, kebiasaan menimbun limbah elektronik bekas di rumah sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan sosial.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Buka Peluang Panggil Ulang Bupati Buol Terkait Rp10 Juta dan Tiket Blackpink
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Pertamina Sigap Penanganan BBM di Daerah Bencana
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Zodiak yang Dikenal Paling Ramah dan Mudah Berteman
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Masyita Tinggalkan Kemenkeu, Kini Bergabung di Danantara
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Parkir di Samping Pos Polisi, Motor Warga di Penjaringan Raib
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.