Bisnis.com, JAKARTA — Arus dana asing atau outflow diperkirakan terus meninggalkan pasar saham domestik hingga Mei 2026 sejalan dengan kecenderungan wait and see pelaku pasar atas perkembangan rencana aksi otoritas bursa dalam merespons Morgain Stanley Capital International atau MSCI.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, outlow asing di pasar saham secara year to date mencapai Rp14,46 triliun per Rabu (12/2/2026). Salah satu saham yang menjadi sasaran jual asing ialah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang membukukan akumulasi net sell sebesar Rp14,2 triliun sejak awal tahun.
Head of Research and Chief Economist Rully Wisnubroto menilai aksi net sell yang terjadi saat ini mayoritas berasal dari active funds, bukan semata akibat rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI sehingga nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terjadinya rebalancing. Artinya, tekanan masih bersifat dinamis dan bisa berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Menurutnya, tekanan jual oleh investor asing yang belum akan mereda dalam waktu dekat ini perlu diwaspadai oleh pemerintah.
“Untuk 1-2 bulan ke depan, peluang inflow masih relatif sulit. Paling tidak sampai Mei menunggu dari MSCI, potensi outflow masih ada. Ini hal yang semestinya sangat dihindari oleh pemerintah,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Rully melanjutkan kembalinya arus dana asing sangat bergantung pada kecepatan respons regulator dan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola serta meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia. Perbaikan struktur pasar dan kebijakan yang pro-investasi dinilai menjadi kunci.
Sejauh ini, dia mencermati dana asing justru lebih banyak mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN), mencerminkan preferensi investor terhadap instrumen yang lebih defensif di tengah ketidakpastian global dan tingginya imbal hasil obligasi.
Berdasarkan data DJPPR Kemenkeu, kepemilikan investor asing di SBN tradeable sebesar Rp882,86 triliun per 11 Februari 2026. Posisi itu mencerminkan net buy Rp4,21 triliun dari nilai kepemilikan asing Rp878,65 triliun pada akhir 2025.
Selain sentimen MSCI, Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai pelaku pasar juga mengantisipasi arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, stabilitas nilai tukar rupiah, harga komoditas utama, serta perkembangan kebijakan domestik. Kombinasi faktor makro global dan kredibilitas reformasi domestik akan menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek hingga menengah.
IHSG ditutup melemah di level 8,212.27 atau turun 0,64% pada perdagangan Jumat (13/2/2026). Investor cenderung berhati-hati menjelang libur long weekend.
Saham sektor infrastruktur mengalami koreksi terbesar, sedangkan sektor transportasi membukukan penguatan terbesar seiring adanya katalis positif dari adanya insentif dari pemerintah bagi industri galangan kapal.
Pada pekan depan, investor akan mencermati Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan masih akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75% (19/2).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





