Sekjen PDI-P Nilai Bencana Sumatera Jadi Teguran untuk Koreksi Kebijakan Lingkungan

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menilai, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera harus dimaknai sebagai teguran agar mengevaluasi kebijakan pengelolaan lingkungan.

Menurutnya, kejadian ini mengingatkan pentingnya politik tata ruang serta peningkatan kemampuan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.

Adapun pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam acara pemberian apresiasi kepada relawan kesehatan pasca-misi kemanusiaan di Sumatera, yang berlangsung di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Hasto: Bangsa Indonesia Perlu Kesabaran Revolusioner Melawan Ketidakadilan

“Kita belajar dari bencana. Semoga ini akan mendorong upaya-upaya koreksi terhadap berbagai kebijakan yang justru di masa lalu memberikan dampak penderitaan pada rakyat,” kata Hasto, Jumat.

Ia menyatakan, tidak ada satu pihak pun yang merasa senang atas terjadinya bencana alam di Indonesia.

Sikap waspada, kata Hasto, adalah keniscayaan karena letak geografis Indonesia berada dalam "cincin api" (ring of fire).

“Apakah kita senang menghadapi bencana? Tentu saja tidak. Persoalan bencana ini merupakan suatu teguran bagi kita semua yang telah membiarkan bumi kita menderita melalui kebijakan-kebijakan yang salah di masa lalu,” beber dia.

Baca juga: PDI-P Ungkap Ekonomi RI Diterpa Badai, Presiden Prabowo Harus Pimpin Langsung Mitigasi

Oleh karenanya, ia berharap para pemimpin bangsa disadarkan bahwa kerusakan ekologis memerlukan tindakan korektif yang nyata, bukan sekadar respons saat kejadian berlangsung.

PDI-P, lanjut Hasto, juga mengusung agenda politik ekologi.

Politik tata ruang yang diatur dengan kedisiplinan menjadi salah satu rekomendasi yang dikeluarkan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) beberapa waktu lalu.

“Kita mengusung politik ekologi agar dengan menjaga kelestarian lingkungan dan hutan-hutan kita, kita menyelamatkan bumi agar bumi menyatukan kita,” ujarnya.

Selain langkah preventif, Hasto juga mendorong pemerintah untuk menguasai teknologi prediksi bencana guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Baca juga: PDI-P: Saling Sindir Purbaya dan Trenggono Seharusnya Tak Perlu Terjadi

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menekankan pentingnya sistem mitigasi yang lebih terkoordinir, cepat, dan efektif. Hasto juga mengatakan, pemerintah perlu terus merangkul semua pihak untuk bergotong-royong memulihkan bencana.

"Sebaiknya mari kita merangkul semuanya agar kita fokus di dalam membantu rakyat yang sekarang, yang terkena korban bencana itu belum sepenuhnya pulih. Infrastruktur umumnya belum pulih, fasilitas publiknya belum pulih, sehingga pemerintah tentu seharusnya merangkul siapapun yang punya niat baik untuk bersama-sama bergotong royong," tandas Hasto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kematian YBS di Ngada, Cukup Sudah Kisah Miris Seperti Itu... 
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Hari Radio Sedunia 13 Februari 2026: Latar Belakang hingga Tema
• 14 jam laludetik.com
thumb
Erdogan Serukan Integrasi Transportasi untuk Perkuat Ekonomi Negara Muslim
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Inovasi Produk Berkelanjutan, Pertamina Raih Anugerah Avirama Nawasena 2026
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Jalan Rusak di Jakarta Picu Puluhan Kecelakaan di Awal 2026, Mau Sampai Kapan?
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.