Hilman Mufidi anggota Komisi X DPR RI mengecam keras aksi teror yang dialami Tiyo Ardianto Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) usai menyampaikan kritik terkait kasus siswa SD bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hilman menilai tindakan intimidasi tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM, tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas pelaku dan dalang di balik ancaman tersebut.
Ia menegaskan, kritik mahasiswa terhadap kebijakan publik adalah bagian dari kontrol sosial dalam negara demokrasi.
“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa di balik aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo adalah wujud keterbukaan dan kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegasnya.
Hilman juga mengingatkan agar semua pihak menahan diri dalam menyikapi dinamika yang berkembang, terutama terkait tragedi meninggalnya seorang anak SD di NTT yang memicu kritik mahasiswa terhadap pemerintah.
“Kita semua berduka dan sangat prihatin atas apa yang dialami anak kita di NTT. Tetapi menyikapi hal itu perlu keterbukaan hati dan kekuatan berpikir. Kritik terhadap penanganan kasus harus disikapi dengan bijak, bukan dengan teror,” ujarnya.
Sebelumnya, Tiyo Ardianto dilaporkan menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor berkode luar negeri, empat hari setelah BEM UGM melontarkan kritik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto Presiden terkait jaminan hak dasar anak.
Selain ancaman penculikan, pengirim pesan juga menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari sensasi. Pesan tersebut berbunyi, “Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah.” (faz/iss)



