Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi Anda melakukan tindakan serupa. Jika mengalami depresi atau bermasalah dengan kesehatan jiwa, tinggalkan artikel ini dan segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat. Kementerian Kesehatan menyediakan layanan kesehatan mental di healing119.id.
DEMAK, KOMPAS — SA (12) seorang pelajar sekolah dasar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ditemukan meninggal dalam posisi tergantung di rumahnya, Kamis (12/2/2026). Korban diduga kuat bunuh diri lantaran tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya.
Peristiwa itu bermula saat ibu korban pulang ke rumah pada Kamis sekitar pukul 18.00 WIB. Ibu korban kaget melihat anaknya sudah dalam posisi tergantung. Ia langsung berlari ke luar rumah meminta pertolongan.
Dengan bantuan tetangganya, ibu korban membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro. Namun, hasil pemeriksaan menyatakan SA sudah meninggal dunia sejak dua hingga enam jam sebelum pemeriksaan.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Demak, Inspektur Satu Anggah Mardwi Pitriyono mengatakan, korban dinyatakan mati lemas akibat terputusnya asupan oksigen. Pada tubuhnya juga terdapat bekas jeratan di leher.
"Ada tanda-tanda khas gantung diri, seperti lidah yang tergigit, terdapat cairan yang keluar dari alat kelamin, dan jaringan di bawah kuku, baik tangan maupun kakinya itu ada kebiruan," kata Anggah saat dihubungi, Jumat (13/2/2026).
Di lokasi kejadian, polisi menemukan adanya kain jarik yang digantungkan pada alat olahraga pull up. Kain itu yang diduga menjadi alat SA mengakhiri hidupnya.
Anggah menyebut, SA sedang berada di rumah sendirian saat peristiwa itu terjadi. Sebelumnya, SA bersekolah seperti biasa. Kemudian, SA sempat mengikuti latihan taekwondo sepulang dari sekolah.
Menurut Anggah, penyebab SA mengakhiri hidupnya belum diketahui secara pasti. Polisi tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut karena tidak ditemukan dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
Berdasarkan hasil penggalian polisi, hubungan sosial antara SA dengan teman-temannya di sekolah, disebut Anggah, terbilang baik. Dari hasil pemeriksaan riwayat percakapan SA dengan teman-temannya juga tidak ditemukan adanya tanda-tanda perundungan.
Kemudian, hubungan SA dengan keluarganya juga disebut Anggah baik. Sempat ada pesan berantai yang menyebut bahwa SA memiliki hubungan buruk dengan ibunya. Namun, hal itu disebut Anggah tidak terbukti.
Anggah mengatakan, SA memang sempat dimarahi ibunya, tetapi hal itu sudah terjadi jauh sebelum kejadian tersebut. Hingga musibah itu terjadi, para tetangga juga mengaku tidak pernah mendengar keributan, suara pertengkaran, maupun tangisan dari rumah tersebut.
Adapun, SA juga disebut Anggah tidak bermasalah secara ekonomi. Kondisi ekonomi keluarga SA dinilai Anggah berkecukupan.
Dihubungi terpisah, Jumat malam, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Semarang, Raden Rara Ayu Hermawati menyesalkan adanya kasus tersebut terjadi pada anak di Demak.
Menurut Ayu, biasanya anak-anak yang rentan bunuh diri adalah anak-anak yang depresi berat. Sejumlah pemicunya, yakni perundungan, masalah pengasuhan keluarga, hingga tekanan ekonomi.
"Mereka ini rentan karena belum mendapatkan cukup edukasi atau informasi, sehingga tidak tahu harus bagaimana dan harus melakukan apa ketika depresi," ucap Ayu.
Sebenarnya, ada tanda-tanda yang bisa dikenali dari anak-anak yang depresi. Biasanya, anak-anak yang depresi mengalami penurunan nafsu makan, kurang tidur, hingga sering membicarakan soal kematian atau keputusasasn terhadap kehidupan.
Ayu menyebut, tanda-tanda tersebut bisa seharusnya menjadi alarm bagi orang-orang dewasa di sekitar anak, baik orang tua maupun guru di sekolah. Begitu mendapati tanda-tanda tersebut, orang dewasa di sekitar anak harus segera memberi pendampingan secara emosional dan menciptakan ruang dialog yang aman untuk anak.
"Ruang dialog harus terbangun, baik di dalam keluarga maupun di sekolah," ujar Ayu.
Ayu berharap, pemerintah lebih gencar dalam melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan, misalnya dengan memberi edukasi mengenai peran keluarga dan pola pengasuhan yang baik. Sehingga, ke depan, kasus serupa tidak terus berulang.




