Orang Basudara, Laboratorium Hidup Perdamaian di Bumi Rempah

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

VIVA – 'Orang Basudara', bukan sekadar istilah ungkapan persaudaraan, melainkan filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi bagi masyarakat Maluku. Mereka hidup di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Nilai ini menjadi fondasi sosial yang menjaga harmoni masyarakat di wilayah yang sejak dahulu dikenal sebagai 'Surganya' Rempah.

Konsep orang basudara lahir dari kearifan lokal yang menempatkan hubungan kemanusiaan di atas sekat identitas. Warga memaknai perbedaan sebagai kekuatan kolektif, bukan ancaman. Nilai ini tampak dalam berbagai praktik keseharian, mulai dari gotong royong, saling menjaga saat perayaan keagamaan, hingga solidaritas saat bencana melanda.

Baca Juga :
Maluku Perkuat Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Sekolah Didorong Jadi Ruang Tumbuh Toleransi
Istana Sebut 8.000 Pasukan Disiapkan untuk Misi Perdamaian di Gaza

Tak berlebihan jika para tokoh dan akademisi menyebut Maluku sebagai "laboratorium hidup perdamaian" karena masyarakatnya berhasil merawat rekonsiliasi pascakonflik sosial di awal 2000-an. 

Proses penyembuhan tidak hanya dilakukan melalui kebijakan formal, tetapi juga lewat pendekatan budaya yang menekankan persaudaraan. Tradisi pela gandong -- misalnya, mengikat desa-desa dengan latar agama berbeda dalam hubungan kekeluargaan yang kuat.

Di Ambon dan wilayah sekitarnya, semangat orang basudara kerap terlihat dalam ruang publik. Komunitas pemuda lintas iman aktif menggelar dialog, kegiatan seni, hingga aksi sosial bersama. Sekolah dan kampus juga mulai memasukkan nilai toleransi berbasis kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Sekda Provinsi Maluku Sadali Le di seminar LKLB di Kota Ambon, Kamis, 12/2
Photo :
  • Ist

Semangat membangun perdamaian dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal itu pula yang ingin terus didorong melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diinisiasi Institut Leimena, bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan yang ada di Maluku.

Para tokoh masyarakat menilai menjaga semangat perdamaian ini menjadi tantangan di era digital ketika arus informasi bergerak cepat dan kerap memicu polarisasi. Karena itu, generasi muda terus didorong untuk memahami warisan leluhur yang luar biasa, yaitu semangat hidup "Orang Basudara" sebagai sebuah jati diri. Perbedaan agama dan suku seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan perekat dan tidak mudah terprovokasi isu yang memecah belah.

"Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan merupakan kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati," kata Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Provinsi Maluku, Sadali Le dalam seminar bertemakan 'Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)' di Kota Ambon, Kamis, 12 Februari 2026.

Baca Juga :
Media Israel Sebut RI Akan Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza
Jusuf Kalla Nilai Dewan Perdamaian Gaza Harus Libatkan Warga Palestina-Israel
Indonesia Dinilai Harus Mampu Ubah 'Permainan' di Dewan Perdamaian Gaza

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mal terbesar di California gelar perayaan tahun kuda
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
China Lirik Kelapa RI, Mentan: Nilai Hilirisasi Bisa Tembus 100 Kali Lipat
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Dana SPPG Polri, Pinjaman dari Koperasi hingga Bank Himbara
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Meski Jadwal Horor Menanti, Madura United Siap Tempur Habis-habisan
• 9 jam lalubola.com
thumb
Ramadan 2026, Bank BJB Hadirkan Layanan Penukaran Uang SERAMBI
• 5 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.