Pernahkah Anda terjebak banjir di jalan protokol saat pulang kantor, padahal hujan baru turun satu jam? Atau mungkin Anda mulai merasa gerah luar biasa saat mengakses media sosial di kamar, tanda bahwa suhu kota kita sedang tidak baik-baik saja? Fenomena ini bukan sekadar faktor cuaca, melainkan hasil dari cara kita yang terlalu sering "melawan" alam dengan beton. Padahal, rahasia untuk hidup lebih tenang di Indonesia ada pada kearifan lama yang kini sering disebut para ahli sebagai Nature-Based Solutions (NBS).
Apa Itu NBS dan Kenapa Kita Harus Peduli?
Singkatnya, Nature-Based Solutions (NBS) adalah pendekatan yang menyelesaikan masalah lingkungan dengan cara bekerja bersama alam. Alih-alih hanya mengandalkan tanggul beton dan saluran air, NBS memanfaatkan fungsi alami ekosistem untuk mengurangi banjir dan menjaga ketersediaan air. Strategi ini sangat krusial bagi Indonesia, negara yang rawan banjir, longsor, hingga krisis air musiman.
Belajar dari "Teknologi" Hutan Adat dan Rawa Lebak
Masyarakat kita sebenarnya sudah mempraktikkan NBS sejak lama melalui kearifan lokal. Hutan larangan adat, misalnya, berfungsi sebagai "menara air alami" di daerah hulu. Tutupan pohon di hutan tidak hanya sekadar pohon, tetapi di situ ada lumut, epifit, semak belukar, serasah hutan, dan kayu tumbang yang membusuk. Dengan tutupan pohon yang terjaga, air hujan meresap ke tanah, mengurangi risiko banjir dan longsor di wilayah hilir.
Di Sumatra dan Kalimantan, kita mengenal rawa lebak yang bertindak sebagai "penyimpan air alami". Saat hujan, rawa ini menahan air agar tidak meluap drastis ke permukiman; saat kemarau, rawa melepaskan air secara perlahan untuk ekosistem. Atau dari masyarakat Ciamis yang setiap rumah ada kolam-kolam ikan, selain dapat menangkap aliran air, juga bisa menjadi tempat parkir air sementara. Inilah yang disebut prinsip "slow water": memberikan waktu bagi air untuk menetap di daratan.
Rahasia di Balik "Zona Kritis" dan Spons Raksasa
Mengapa alam bisa begitu hebat? Rahasianya ada pada "zona kritis", yaitu lapisan dari tajuk tanaman hingga air tanah. Di zona inilah nasib air hujan ditentukan: apakah akan langsung mengalir deras menyebabkan banjir, atau meresap menjadi cadangan air. Ketika tidak ada penutup pohon dan lahan terbuka otomatis air tidak punya kesempatan untuk tinggal lebih lama di lokasi tersebut, akan tetapi melimpas menjadi aliran yang berpotensi membawa tanah terjadi erosi dan akhirnya membawa bencana.
Tanah yang sehat bekerja seperti spons raksasa yang menyerap air dalam jumlah besar dan melepaskannya perlahan. Selain itu, akar tanaman berfungsi sebagai "jangkar" alami yang memperkuat struktur tanah di lereng perbukitan, sehingga meminimalisir risiko longsor.
Fokus: Teknik Agroforestri Kopi sebagai Solusi Nyata
Salah satu contoh nyata NBS tipe kedua—yaitu pengelolaan ekosistem yang sudah dimanfaatkan manusia—adalah sistem agroforestri. Di Jawa Barat, Sumatra, dan Sulawesi, teknik ini sudah lama diterapkan pada perkebunan kopi dan kakao.
Bagaimana teknik agroforestri kopi ini bekerja sebagai solusi alam?
• Pohon Naungan sebagai Payung: Petani menggabungkan pohon kopi dengan pohon naungan yang lebih tinggi. Tajuk pohon ini memecah jatuhnya butiran air hujan sehingga tidak langsung menghantam tanah dengan keras, yang dapat memicu erosi. Air bergerak turun dengan lembut tanpa merusak tanah dan mengalir lambat ke dalam tanah.
• Lantai Hutan yang Kaya Serasah: Pengelolaan lantai kebun agar kaya akan serasah (daun kering yang gugur) membantu tanah menyerap air seperti spons. Apalagi bila ditambah metoda konservasi rorak, di mana parit buntu diberi sisa-sisa tanaman agar membusuk dan memperkaya hara tanah.
• Menjaga Kelembapan: Sistem ini meningkatkan resapan air ke dalam tanah, menjaga kelembapan lahan meski di musim panas, dan meningkatkan produktivitas hasil panen secara berkelanjutan.
• Keanekaragaman Hayati: Kebun kopi agroforestri menciptakan koridor alami bagi satwa dan mendukung penyerbuk alami, sehingga petani tidak perlu bergantung berlebihan pada bahan kimia.
Mengapa Beton Saja Tidak Cukup?
Mungkin Anda bertanya, "Kenapa tidak pakai beton saja? buat saja saluran air dan waduk untuk menampung air ". Berbagai riset menunjukkan bahwa solusi berbasis alam sering kali lebih efektif dan berkelanjutan dibanding solusi beton semata. Beton memiliki umur pakai, waduk bisa terkendala sedimentasi hasil erosi di hulu sungai, sedangkan alam memberikan stacked benefits atau manfaat bertumpuk. Satu kawasan agroforestri atau lahan basah bisa sekaligus mencegah banjir, menyaring air bersih, hingga menyerap karbon untuk melawan perubahan iklim. Selain itu tentunya ada nilai sosial dan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan.
Tantangan: Mengapa Belum Semua Daerah Menerapkannya?
Meskipun terbukti ampuh, penerapan NBS masih menghadapi jalan terjal:
• Sulit Diukur: Manfaat gabungan seperti penyerapan karbon dan dampak sosial sulit "diukur dengan angka" finansial yang instan.
• Tata Kelola Terfragmentasi: Kebijakan antara lembaga urusan air, kehutanan, dan tata ruang sering kali tidak selaras.
• Keraguan Publik: NBS sering dianggap hanya sebagai pelengkap, bukan solusi utama dibandingkan infrastruktur konvensional.
Investasi Cerdas untuk Masa Depan
Biaya untuk memperbaiki alam jauh lebih kecil daripada kerugian akibat bencana yang terus berulang. Dengan memasukkan NBS ke dalam rencana pembangunan dan melibatkan masyarakat sejak awal, kita bisa berubah dari sekadar bertahan menjadi tangguh.
Sekarang, coba perhatikan kopi yang Anda minum pagi ini. Apakah ia berasal dari kebun yang "bekerja bersama alam" atau lahan gundul yang memicu banjir? Menurutmu, apakah konsep agroforestri ini sudah cukup dikenal di daerahmu?
Bagikan artikel ini agar makin banyak orang sadar bahwa solusi banjir bisa dimulai dari secangkir kopi dan sejengkal tanah yang terjaga!





