Warna ”Ngejreng” Pemikat Selera Pasar

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Apa pun nama jenama dan segmennya, mobil di Indonesia selama ini tampak nyaris seragam. Warna konvensional seperti putih, hitam, atau silver mendominasi jalanan. Bukan hanya karena selera konsumen, melainkan juga lantaran terbatasnya pilihan warna lain.

Namun, belakangan, warna-warni ”ngejreng” mulai bermunculan. Di jalan mulai jamak dijumpai warna yang lebih berani menyita perhatian. Di tengah arus kendaraan yang cenderung monoton, warna-warna tersebut seolah memberi aksen baru pada lanskap jalanan perkotaan.

Fenomena warna-warni kendaraan itu juga terlihat jelas di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 pada 5–15 Februari 2026 di Jakarta. Pameran otomotif tahunan itu tidak hanya menjadi etalase produk terbaru dan pembaruan teknologi, tetapi juga menampilkan kesegaran melalui pilihan warna kendaraan yang kian beragam.

Di sejumlah stan, kendaraan dengan warna ”ngejreng” pun menjadi magnet pengunjung. Pada hari pembukaan IIMS, pengunjung yang menanti peluncuran produk terbaru dibuat tercengang dengan kehadiran desain dan gradasi warna kendaraan yang cukup mencolok.

Beberapa mobil berkelir kuning cerah dan hijau mencolok tampak dikerubungi pengunjung yang bergantian mengambil gambar dan bertanya kepada tenaga penjual.

”Warnanya beda, jadi langsung kelihatan. Menarik, makin banyak aja yang berani bermain warna” ujar Rani Kinanti (29), salah satu pengunjung, yang sedang asyik mengamati sebuah mobil listrik berwarna hijau terang.

Baca JugaIIMS 2026, Paduan Otomotif dan Gaya Hidup

Rani yang datang bersama suaminya itu antusias dengan kehadiran produk mobil di IIMS yang berani menawarkan warna-warna baru, yang membuatnya berbeda dan unik.

”Asyik dan keren. Warnanya cantik, ada kesan dan dimensi berbeda. Sudah terlalu banyak mobil yang itu-itu saja (warna konvensional). Perlu diwarnai jalan kita ini dengan mobil-mobil cerah berwarna,” kata Eza (35), suami Rani.

Pasangan muda itu tidak sekadar datang untuk cuci mata, tetapi uji coba kendaraan (test drive) dan membeli mobil impian mereka. ”Kenapa tidak, warna-warna dari beberapa brand bagus. Enggak norak. Kalau hitam-putih sudah biasa,” lanjut Eza.

Di IIMS 2026, sejumlah agen pemegang merek secara terbuka menampilkan lini produk dengan palet warna yang lebih ekspresif. Bahkan, beberapa model baru diluncurkan dengan warna khusus yang hanya tersedia untuk varian tertentu. Strategi ini menciptakan kesan eksklusif.

Pengunjung lain, Andi (38), mengaku tertarik pada sebuah jenama dengan kendaraan berwarna oranye terang dan hijau muda yang dipajang di salah satu hall pameran.

”Dulu mungkin saya pilih hitam atau putih, tapi sekarang rasanya ingin yang beda. Lebih mencerminkan gaya hidup, percaya diri,” kata pengusaha bahan bangunan itu.

Pameran otomotif IIMS 2026 pun menjadi ruang uji coba. Di sana, produsen mengukur respons publik terkait daya tarik warna-warna nonkonvensional sebelum memutuskan produksi massal dalam jumlah lebih besar. Antusiasme pengunjung menjadi indikator awal bahwa pasar tidak lagi sepenuhnya terpaku pada warna aman.

Sebagai merek yang relatif baru masuk pasar Indonesia, Changan memilih untuk tidak langsung bermain aman meski warna konvensional tetap mereka hadirkan.

Makna strategis warna

Di tengah hiruk-pikuk peluncuran model baru dan teknologi baru yang mutakhir, warna mungkin terkesan sebagai aspek sederhana. Namun, ia menyimpan makna strategis tentang bagaimana industri membaca psikologis konsumen, membangun citra produk, dan merespons perubahan generasi pembeli.

Di tengah dominasi warna konvensional itu, Changan mencoba menawarkan gradasi dan palet warna berbeda. Hijau muda nebula green dan oranye cerah, contohnya, dihadirkan bukan sekadar sebagai variasi, melainkan sebagai hero color atau warna andalan sebagai identitas merek untuk menarik minat konsumen.

Chief Executive Officer (CEO) Changan Indonesia Setiawan mengakui, selama ini selera konsumen otomotif Indonesia cenderung konservatif. ”Kalau kita lihat, memang warna-warna aman seperti putih, hitam, dan silver masih dominan. Itu warna yang secara umum mudah diterima,” ujarnya.

Namun, sebagai merek yang relatif baru masuk pasar Indonesia, Changan memilih untuk tidak langsung bermain aman meski warna konvensional tetap mereka hadirkan.

Baca JugaSaat Mobil Beradu Cerita di Panggung GIIAS 2025

Seluruh opsi warna yang tersedia dari Changan Global diboyong ke pasar domestik. ”Kita terima warna-warna ini dari Changan global. Saya yakin mereka sudah melalui riset yang cukup luas, karena pusat riset mereka ada di Eropa, Jepang, dan berbagai negara lain,” kata Setiawan.

Menurut dia, riset global itu menjadi landasan awal sebelum produk diluncurkan di Indonesia. Akan tetapi, karakter konsumen tiap negara tidak selalu sama.

”Negara satu dengan negara lain berbeda. Karena kita baru masuk, akhirnya semua warna kita masukkan dulu. Nanti baru kita pelajari,” ujarnya.

Pada model Deepal S07, misalnya, pilihan warna eksterior dikombinasikan dengan variasi interior yang memberi kesan berbeda. Dominasi warna oranye muncul di hampir seluruh badan mobil. Padanan warna hitam di bagian atap dan beberapa bagian lainnya memberi kesan sporty sekaligus mewah. Warna hitam tetap ada untuk memberi kesan elegan.

Changan juga memunculkan alternatif model lain dari Deepal S07 dengan warna lebih kalem, yaitu nebula green. Seri nebula green ini juga dipadupadankan dengan warna hitam agar muncul kesan anggun dan elegan.

Kombinasi itu menjadi bagian dari strategi membangun citra yang lebih segar dan dinamis. Setiawan menegaskan, warna bukan sekadar kosmetik. Dalam industri otomotif, tiap merek memiliki apa yang disebut ”hero color” atau warna andalan yang menjadi representasi karakter produk.

”Di Deepal ini, hero color kita ada dua, nebula green yang hijau muda dan oranye. Itu yang kita jagokan,” ujarnya.

Strategi itu, menurut dia, merupakan upaya membedakan diri dari kompetitor yang lebih dulu mapan. Warna yang berani diharapkan menjadi daya tarik visual sekaligus penanda identitas.

Persepsi merek

Di tengah persaingan kendaraan, terutama berbasis listrik, yang semakin ketat, diferensiasi desain dan warna dinilai menjadi salah satu elemen penting dalam membangun persepsi merek.

Kalau konsumen Indonesia ternyata lebih suka warna aman, kita bisa naikkan porsi yang (warna) aman.

Meski demikian, Changan tidak menutup kemungkinan untuk menyesuaikan diri dengan preferensi pasar. Menurut Setiawan, enam bulan pertama ini bakal menjadi periode krusial untuk membaca tren.

”Kalau dalam enam bulan penjualan warna-warna yang lebih berani ini tetap kuat, berarti kita pertahankan. Tetapi, kalau konsumen Indonesia ternyata lebih suka warna aman, kita bisa naikkan porsi yang (warna) aman dan turunkan yang warna ngejreng,” katanya.

Pendekatan itu, lanjutnya, merupakan kombinasi antara strategi global dan adaptasi lokal. Data penjualan, kuantitas pemesanan, serta preferensi kombinasi warna eksterior dan interior akan dianalisis sebelum keputusan produksi berikutnya diambil.

Pengalaman baru

Selain Changan, jenama asal Perancis, Citroën, juga masuk ke Indonesia dengan pilihan warna yang cukup berani, yaitu oranye, melalui Citroën Ë-C3.

Sejak kembali mengaspal di jalanan Indonesia pada 2022, Citroën tidak hanya mengandalkan suspensi empuknya atau efek flying carpet ride (seolah berkendara di atas karpet terbang) yang tersohor sebagai nilai jual Citroën, tetapi juga pilihan warga yang berani di tengah dominasi warna konvensional.

Baca JugaSeleksi Alam Industri Otomotif: Siapa Bakal Bertahan Tanpa Insentif?

Beberapa seri tetap membawa warna konvensional, tetapi dipadupadankan dengan warna cerah. Citroën Ë-C3, misalnya, tidak hanya hadir dengan dominasi oranye atau yang dikenal sebagai zesty orange.

Ada pula warna putih polar (polar white) dengan paduan zesty orange di bagian atapnya. Selain itu, warna abu-abu (steel grey dan platinum grey) dengan paduan zesty orange. Ada juga model berwarna putih dengan aksen strip merah. Pilihan lainnya adalah New Citroën C3 Aircross SUV dengan akses navy blue atau biru dongker.

Di negara asalnya, Perancis, serta beberapa negara lainnya, pilihan warna Citroën lebih variatif melalui gradasi warna merah, hijau, biru, dan warna lainnya yang unik.

Menurut CEO Citroën Indonesia Tan Kim Piauw, warna konvensional seperti hitam dan putih masih sangat kuat dan menjadi pasar serta selera masyarakat Indonesia. Tak heran, warna konvensional seperti ini jauh lebih dilirik dan dipilih karena warna yang aman dan netral.

Namun, kehadiran Citroën di Indonesia bukan hanya ingin menawarkan kenyamanan berkendara bagi pengemudi dan penumpang.

Lebih dari itu, Citroën ingin hadir dalam pengalaman baru melalui pilihan warna-warna yang unik. ”Saya lihat pasar itu dinamis. Generasi muda, keluarga muda cenderung lebih berani dalam memilih warna yang berani,” kata Tan.

Preferensi vs negosiasi

Pop culture and automotive enthusiast sekaligus pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Novaldy Prawhesmara, melihat, tujuan utama permainan warna pada dasarnya tetap klasik, yakni mendorong minat beli.

Sekitar 15–20 tahun ke belakang, mobil putih pernah diasosiasikan dengan kendaraan operasional kantor atau armada perusahaan. Konsumen ritel dulu cenderung enggan memilikinya untuk penggunaan pribadi.

Tren warna tidak lahir semata-mata dari preferensi konsumen, tetapi diciptakan dan dinegosiasikan oleh produsen.

Namun, persepsi itu berubah drastis pada 2009–2010 ketika sejumlah merek menghadirkan edisi warna putih untuk pasar retail.

”Waktu itu seperti ada yang memberi pesan bahwa punya mobil putih untuk pribadi itu oke, sah, bahkan stylish,” kata Valdy.

Setelah warna putih diterima, pasar digoyang oleh warna coklat metalik sekitar lima hingga tujuh tahun lalu. Responsnya juga positif. Warna yang sebelumnya dianggap tidak lazim justru menjadi alternatif bagi mereka yang sudah bosan dengan warna hitam, putih, atau silver.

Di sini terlihat satu pola penting. Tren warna tidak lahir semata-mata dari preferensi konsumen, tetapi juga diciptakan dan dinegosiasikan oleh produsen. Siapa yang berani mengambil langkah duluan dan mampu membingkai narasi dengan tepat lebih berpeluang menggeser selera pasar.

Dalam kompetisi yang kian padat, terutama dengan masuknya merek-merek baru, warna menjadi salah satu arena pertarungan identitas. Beberapa pabrikan bahkan menawarkan warna-warna andalan yang menjadi wajah utama produk.

Salah satu jenama yang serius meriset tampilan warna adalah Mazda dengan identitas warna soul red-nya. Warna itu, kata Valdy, bukan sekadar warna merah. Ia dirancang untuk mewakili prinsip Jinba Ittai, alias kesatuan antara pengemudi dan mobil. Tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga terintegrasi dengan narasi merek.

Namun, Valdy menilai, perilaku konsumen Indonesia cenderung pragmatis. Loyalitas terhadap merek memang ada, tetapi bisa runtuh oleh tawaran harga, fitur, atau kebutuhan yang lebih relevan. Dalam situasi seperti ini, warna sulit menjadi faktor penentu tunggal.

Warna andalan tidak selalu menjamin mobil menjadi varian terlaris. Namun, warna inilah yang hampir selalu muncul di materi promosi, unit test drive media, pemengaruh, dan key opinion leader atau figur publik.

”Bukan karena stoknya cuma itu, tetapi karena ingin membangun persepsi bahwa ini warna yang pantas dipilih,” kata Valdy.

Ketika figur publik atau pengulas otomotif tampil dengan warna tertentu, pesan implisitnya jelas, yaitu warna ini aman, bahkan keren.

Di titik ini, warna bekerja sebagai legitimasi sosial. Ia meminjam otoritas panutan untuk mengurangi keraguan konsumen.

Begitulah, di pasar yang selama ini identik dengan pilihan konservatif, langkah jenama otomotif menawarkan mobil berwarna ”genjreng” menjadi eksperimen menarik.

Apakah konsumen Indonesia siap keluar dari zona nyaman warna atau tetap setia pada putih dan hitam yang dianggap aman?

Jawabannya, bagi beberapa jenama, bukan semata soal selera, melainkan soal bagaimana warna dapat menjadi bahasa pertama yang menyapa konsumen sebelum mesin dinyalakan dan kendaraan melaju di jalan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengapa Hari Valentine Identik dengan Serba Cokelat? Ini Asal Mulanya
• 23 jam lalunarasi.tv
thumb
Bantah Cemari Cisadane, Perusahaan Pestisida: Ini Musibah, Kami seperti Korban Begal
• 14 jam lalukompas.com
thumb
PLN Siap Gaspol! Ini Kesiapan Infrastruktur EV Indonesia 2026 | RENGGINANG
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Kepesertaan BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Penyakit Kronis Kebingungan | KOMPAS MALAM
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Atasi Masalah Sampah di Tangsel, Pemerintah Dorong Kesadaran Warga Jaga Kebersihan
• 19 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.