Polisi Prancis menembak mati seorang pria bersenjata pisau di bawah Arc de Triomphe pada Jumat (13/2). Pria tersebut ditembak karena mengancam petugas yang tengah bertugas di sekitar bangunan yang menjadi landmark Paris tersebut.
Dikutip dari AFP, pria itu ditembak beberapa kali oleh polisi saat ia mengancam petugas selama upacara untuk menyalakan kembali api di makam prajurit tak dikenal, kata sumber polisi.
Salah satu petugas yang bertugas sebagai pengawal kehormatan mengalami luka ringan akibat tusukan pisau sebelum petugas lain melepaskan tembakan ke arah penyerang.
Kantor kejaksaan anti-terorisme nasional Prancis mengatakan, pelaku merupakan seorang warga negara Prancis kelahiran 1978, meninggal karena luka tembak setelah dibawa ke rumah sakit.
Tersangka, yang diidentifikasi sebagai Brahim Bahrir, dikenal oleh pihak berwenang sebagai orang yang radikal dan telah dimasukkan dalam daftar pantauan, kata sumber yang dekat dengan kasus tersebut, yang enggan disebut identitasnya.
Sumber tersebut mengatakan Bahrir telah menelepon kantor polisi di dekat pinggiran kota Paris tempat dia tinggal sebelumnya untuk mengatakan bahwa dia akan melakukan pembantaian.
Pria itu sebelumnya telah dijatuhi hukuman 17 tahun penjara atas percobaan pembunuhan, teror, dan tuduhan lainnya di Belgia karena menyerang tiga petugas polisi di sana pada tahun 2012, kata kantor tersebut. Dia keluar dari penjara pada bulan Desember tahun lalu.
Presiden Emmanuel Macron memuji aksi polisi yang menghentikan pelaku.





