Dua Cangkir Kopi dan Teh untuk Mencegah Kepikunan

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS-Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kafein memiliki manfaat jangka panjang bagi otak dengan menjaga pikiran kita tetap tajam dari waktu ke waktu. Manfaat kafein ini bahkan berlaku untuk mereka yang memiliki varian genetik APOE4, yang dianggap rentan mengalami demensia.

Yu Zhang, ahli epidemiologi dari Department Nutrition, T.H. Chan School of Public Health, Harvard University dan timnya melaporkan kaitan antara kafein dan kesehatan kognisi ini di JAMA Network pada 9 Februari 2026.

Studi ini menawarkan apa yang menurut para penulis merupakan data jangka panjang terpanjang hingga saat ini tentang hubungan antara konsumsi kafein dan kognisi. Studi ini menemukan bahwa asupan kafein moderat dari kopi dan teh dikaitkan dengan pengurangan risiko demensia dan laju penurunan kognitif.

Zhang menyebutkan, studi kohort prospektif ini yang dilakukannya melibatkan 131.821 individu dari 2 kohort. Selama masa tindak lanjut hingga 43 tahun, tercatat 11.033 kasus demensia. "Konsumsi kopi berkafein yang lebih tinggi secara signifikan berhubungan dengan risiko demensia yang lebih rendah. Konsumsi kopi tanpa kafein tidak secara signifikan berhubungan dengan risiko demensia," kata dia.

Para spesialis memuji studi ini karena ukuran sampel yang besar dan periode pengamatan yang panjang. Namun demikian, hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.

"Ini adalah studi yang dilakukan dengan baik untuk jenis data yang tersedia. Namun, karena menggunakan bukti observasional, bukan eksperimental, temuan tersebut hanya dapat dianggap sebagai sugestif," kata Naveed Sattar, seorang spesialis kedokteran kardiometabolik di Universitas Glasgow, Inggris, mengomentari studi ini, seperti dilaporkan Nature, di tanggal yang sama.

Dua cangkir per hari

Banyak penelitian sebelumnya telah menyelidiki hubungan antara kafein dan kognisi. Namun Yu Zhang mengatakan bahwa penelitian sebelumnya mengikuti peserta dalam periode yang relatif singkat. Padahal demensia berkembang selama beberapa dekade.

Dalam penelitiannya, kelompok Zhang memanfaatkan dua studi kesehatan selama beberapa dekade, yaitu Studi Kesehatan Perawat dan Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan. Mereka melacak kebiasaan minum kafein lebih dari 130.000 profesional perawatan kesehatan selama 43 tahun.

Peserta dalam studi ini mendokumentasikan diet mereka setiap beberapa tahun. Mereka juga mengisi kuesioner tentang fungsi kognitif mereka dan mengikuti tes yang mengharuskan mereka untuk menyebutkan rangkaian kata sebagai ukuran objektif kognisi.

Peneliti menemukan, risiko demensia 18 persen lebih rendah pada orang-orang dalam kelompok konsumsi kafein tertinggi, mencapai lima cangkir kopi sehari, dibandingkan dengan mereka yang minum sedikit atau tidak sama sekali.

Tim menemukan bahwa konsumsi kafein moderat, yang berjumlah 2–3 cangkir kopi atau 1–2 cangkir teh sehari, dikaitkan dengan pengurangan terbesar dalam risiko demensia dan tingkat penurunan kognitif. Namun, tingkat konsumsi yang lebih rendah juga dikaitkan dengan manfaat bagi otak.

Berlawanan dengan penelitian sebelumnya, hubungan antara asupan kafein dan kesehatan kognitif tetap berlaku bahkan pada mereka yang minum kopi dalam jumlah besar. Peneliti menemukan, risiko demensia 18 persen lebih rendah pada orang-orang dalam kelompok konsumsi kafein tertinggi, mencapai lima cangkir kopi sehari, dibandingkan dengan mereka yang minum sedikit atau tidak sama sekali.

Kafein versus genetika

Hubungan protektif tersebut tetap berlaku bahkan untuk peserta dengan varian genetik yang disebut APOE4. Hanya satu salinan varian ini dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demensia terkait penyakit Alzheimer hingga dua sampai tiga kali lipat.

Perlindungan bagi mereka yang membawa varian genetika APOE4 ini mengejutkan Shannon Kilgore, seorang ahli neurologi yang berafiliasi dengan Universitas Stanford di California, yang tidak terlibat kajian ini. Dia mengatakan bahwa kesimpulan penelitian tersebut "sesuai untuk studi observasional-asosiasi", memperkuat beberapa kesimpulan yang ada sambil menawarkan petunjuk baru.

Desain penelitian ini memang tidak memungkinkan peneliti menentukan mekanisme bagaimana kafein bisa mencegah demensia. Namun, satu hal yang menurut Zhang menarik perhatian tim adalah bahwa orang yang minum kopi tanpa kafein tidak melihat manfaat kognitif apa pun yang diamati pada mereka yang minum kopi berkafein.

Ini menunjukkan bahwa manfaat tersebut secara khusus terkait dengan kafein, bukan senyawa lain yang ditemukan dalam kopi yang dianggap bermanfaat, seperti bahan kimia yang disebut polifenol dan alkaloid.

Zhang mencatat bahwa, meskipun kelompok tersebut mencoba untuk mengendalikan efek faktor pengganggu seperti pilihan gaya hidup dan kualitas diet, mungkin ada hal lain, seperti obat-obatan, yang mendorong beberapa temuan tersebut. “Ukuran efeknya kecil dan ada banyak cara penting untuk melindungi fungsi kognitif seiring bertambahnya usia,” katanya. “Studi kami menunjukkan bahwa konsumsi kopi atau teh berkafein dapat menjadi salah satu bagian dari teka-teki itu.”

Sekalipun teh dan kopi telah banyak dilaporkan sebelumnya memberi manfaat kesehatan, namun cara mengonsumsinya juga bisa menentukan. Konsumsi teh dan kopi dengan gula atau creamer misalnya, jutsru dilaporkan bisa meningkatkan risiko kesehatan, seperti diabetes. Peneliti lebih menyarankan untuk mengonsumsi kopi dan teh tanpa tanbahan pemnasi apa pun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komplotan Maling Rumah Kosong di Bogor Terungkap, 3 Pelaku Ditangkap
• 4 jam laludetik.com
thumb
Bahlil: Pemerintah Komitmen Jaga Ketersediaan Energi untuk Generasi Anak Cucu
• 21 jam laludisway.id
thumb
Pria Pakai Jaket Ojol Diciduk Polisi di Jaksel, Ternyata Kurir Sabu
• 13 menit lalukumparan.com
thumb
Pemprov DKI Tegaskan Larangan Sweeping Rumah Makan
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Aturan Baru Prabowo, Ini Objek Tanah Terlantar yang Bisa Disita Negara
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.