Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia menyediakan uang hasil cetak sempurna atau HCS atau uang cetakan baru untuk wilayah Sumatera Selatan sebanyak 40 persen lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Bertambahnya jumlah uang baru yang disediakan itu dipicu oleh faktor pertumbuhan ekonomi Sumsel dalam setahun terakhir.
Demikian mengemuka dalam acara ”Kick Off Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026” yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel di Palembang, Jumat (13/2/2026). Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel Bambang Pramono mengatakan, sudah menjadi tradisi, Ramadhan dan Idul Fitri adalah momen masyarakat untuk bersedekah, saling berbagi, ataupun memberikan uang tunjangan hari raya (THR).
Atas dasar itu, kebutuhan uang baru pasti meningkat memasuki Ramadhan atau menjelang Idul Fitri. Sebab, uang baru menjadi simbol penting masyarakat untuk memberikan kesan terbaik dalam momen bersedekah, saling berbagi, ataupun memberi THR.
”Saat permintaan uang baru meningkat, BI akan memastikan semua kebutuhan masyarakat terpenuhi baik dalam jumlah denominasinya maupun layak edarnya. Apalagi, dalam momen Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat ingin memberikan kesan terbaik. Di situlah, kami menyediakan rupiah yang bermakna untuk bulan atau momen yang penuh berkah,” ujar Bambang.
Untuk tahun ini, Bambang menuturkan, pihaknya menyediakan HCS atau uang baru sebesar Rp 5,6 triliun untuk wilayah Sumsel. Jumlah itu meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 3,9 triliun. Bahkan, persentase peningkatan jumlah HCS yang disediakan untuk Sumsel jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang naik sekitar 14 persen.
Kenapa demikian, salah satu alasan BI meningkatkan jumlah HCS untuk Sumsel karena pertumbuhan ekonomi Sumsel yang positif dalam setahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi di provinsi berjuluk ”Bumi Sriwijaya” mencapai 5,42 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 5,11 persen.
Angka pertumbuhan ekonomi itu menandakan bahwa kegiatan ekonomi di Sumsel terus meningkat. Kegiatan ekonomi itu diprediksi jauh lebih bergeliat memasuki Ramadhan dan jelang Idul Fitri. Umumnya, masyarakat akan lebih konsumtif untuk kebutuhan berbuka puasa Ramadhan maupun memeriahkan hari raya Idul Fitri.
”Saat kegiatan ekonomi bertumbuh, tidak mungkin uang yang beredar atau yang dibutuhkan tidak meningkatkan. Oleh karena itu, kami menyiapkan HCS yang lebih besar untuk Sumsel di tahun ini,” kata Bambang.
Menurut Bambang, HCS untuk wilayah Sumsel akan diedarkan melalui sejumlah program. Itu dimulai dari layanan standar dengan penukaran HCS di 110 titik loket perbankan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Layanan itu bisa diakses melalui aplikasi https://pintar.bi.go.id dengan jadwal pelaksanaan 19 Februari, 26 Februari, 5 Maret, dan 12 Maret. Kuota layanan ditargetkan 100 orang di titik lokasi masing-masing.
Melalui layanan tersebut, BI bersama TNI Angkatan Laut pun menyiapkan program jemput bola berupa ”Susur Sungai Musi”. Program itu bertujuan menghadirkan HCS untuk masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Sumsel yang sebagian besar berada di pesisir sungai maupun laut.
”Masyarakat di wilayah 3T Sumsel jarang tersentuh ataupun merasakan uang baru. Kondisi uang di sana biasanya sudah luar biasa tidak karu-karuan. Jadi, dengan didatangi melalui program Susur Sungai Musi, kita ingin menghadirkan uang baru untuk masyarakat di sana. Dari tahun-tahun sebelumnya, masyarakat sangat antusias menyambut program tersebut,” tutur Bambang.
Bambang menyampaikan, pihaknya pun menyiapkan program ”BI Peduli Mudik” untuk memperluas layanan penukaran HCS. Program itu dibuka di sejumlah titik di jalur mudik, mulai dari Stasiun Kertapati Palembang pada 23 Februari dan 3 Maret, Pelabuhan Boom Baru Palembang pada 24 Februari dan 4 Maret, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada 26 Februari, serta rest area Jalan Tol Palembang-Lampung pada 26 Februari dan 5 Maret.
Selain itu, BI membuka layanan tersebut di pusat-pusat keramaian di Palembang, seperti di Pasar Tradisional Plaju pada 23 Februari dan Pasar Tradisional Sako pada 25 Februari. Kemudian, mereka juga menyiapkan layanan kas keliling terpadu di halaman Masjid Agung Palembang selama 8-12 Maret. Layanan itu melibatkan lima perbankan dengan kuota 1.000 orang per hari.
Adapun plafon penukaran HCS dibatasi Rp 5,3 juta per orang. Rinciannya, nominal Rp 50.000 sebanyak Rp 2,5 juta, Rp 20.000 sebanyak Rp 1 juta, Rp 10.000 sebanyak Rp 1 juta, Rp 5.000 sebanyak Rp 500.000, Rp 2.000 sebanyak Rp 200.000, dan Rp 1.000 sebanyak Rp 100.000. ”Pembatasan itu diterapkan untuk pemerataan penerima HCS,” terang Bambang.
Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Daerah Provinsi Sumsel Basyaruddin Akhmad mengatakan, pihaknya menyambut positif program Serambi 2026 yang dilaksanakan oleh BI. Itu menjadi langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan uang layak edar di masyarakat yang meningkat setiap Ramadhan ataupun jelang Idul Fitri.
Di sisi lain, program itu diyakini secara tidak langsung akan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi yang meningkat selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Lagi pula, sebagaimana rilis Badan Pusat Statistik Sumsel, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada 2025 mencapai 5,35 persen. Angka itu melampaui rata-rata nasional yang sebesar 5,11 persen.
Di samping itu, tingkat inflasi Sumsel pada Januari 2026 tercatat 3,33 persen secara year on year dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 110,18. Angka itu berada di bawah rata-rata nasional pada periode Januari 2026 yang sebesar 3,55 persen.
”Capaian itu menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Sumsel relatif stabil dan terkendali. Untuk itu, selama Ramadhan hingga Idul Fitri, aktivitas perekonomian Sumsel kemungkinan akan semakin bergeliat,” ujar Basyaruddin.
Kendati demikian, Basyaruddin menuturkan, semua pihak terkait harus tetap mencermati variasi inflasi antar wilayah. Sejauh ini, inflasi tertinggi di Sumsel terjadi di Kota Lubuk Linggau yang tercatat 3,57 persen dengan IHK 108,55, sedangkan inflasi terendah di Kabupaten Muara Enim sebesar 2,96 persen dengan IHK 112,29.
Perbedaan tingkat inflasi di setiap daerah itu harus menjadi perhatian bersama agar pengendalian inflasi bisa dilakukan lebih terarah dan efektif. Apalagi ada sejumlah komoditas penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2026, antara lain emas perhiasan, tarif listrik, beras, dan daging ayam.
Memasuki Ramadhan dan jelang Idul Fitri, konsumsi masyarakat terhadap komoditas-komoditas penyumbang inflasi terbesar itu diprediksi akan jauh lebih besar. Setidaknya, ada budaya di masyarakat harus menyediakan menu makanan terbaik saat berbuka puasa Ramadhan dan memeriahkan hari raya Idul Fitri.
Memasuki Ramadhan dan jelang Idul Fitri, konsumsi masyarakat terhadap komoditas-komoditas penyumbang inflasi terbesar itu diprediksi akan jauh lebih besar. Setidaknya, ada budaya di masyarakat harus menyediakan menu makanan terbaik saat berbuka puasa Ramadhan dan memeriahkan hari raya Idul Fitri.
Komoditas lainnya, seperti ikan untuk bahan baku pembuatan pempek pun diperkirakan akan melonjak selama Ramadhan maupun jelang Idul Fitri. Di tradisi masyarakat Palembang ataupun Sumsel, pempek dengan segala bentuk turunannya menjadi menu berbuka puasa dan hidangan istimewa pada hari raya. ”Di sini, buka puasa maupun hari raya belum afdal kalau tidak ada pempek,” kata Basyaruddin.
Dalam kesempatan tersebut, Basyaruddin mengajak semua pihak terkait yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumsel terus memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi. Hal itu harus dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
”Salah satu langkah krusial yang perlu dilakukan adalah memperbanyak operasi pasar murah selama Ramadhan di semua kabupaten/kota di Sumsel. Itu akan memberikan dampak besar untuk memastikan ketersediaan bahan pokok guna menjaga kestabilan harga maupun daya beli masyarakat,” tuturnya.
Stabilitas harga komoditas harus terus terjaga agar daya beli masyarakat tetap kokoh selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Dengan begitu, peredaran uang baru bisa betul-betul dinikmati masyarakat pada puncak hari kemenangan mendatang.




