Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan rupiah pada pekan depan berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis, seiring sikap pelaku ke depan dalam merespons rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Direktur Traze Andalan Features Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah cenderung volatil mengikuti respons terhadap rilisnya data inflasi Amerika Serikat atau AS pada pekan depan.
“Pada perdagangan pekan depan Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS,” ujarnya dikutip, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, secara keseluruhan, arah rupiah pekan depan akan sangat ditentukan oleh dinamika dolar AS dan ekspektasi suku bunga global. Selama belum ada kejutan besar dari eksternal, pelemahan diperkirakan masih terbatas.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup terkoreksi 0,25% ke level Rp16.828 per dolar AS pada Jumat (14/2/2026). Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS bergerak menguat 0,01% ke level 96,84.
Ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi sentimen utama pasar. Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid, sehingga memicu penguatan dolar AS dari posisi terendah mingguannya. Kondisi ini memberi tekanan tambahan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Baca Juga
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat 13 Februari 2026
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (12/2) Dibuka Melemah ke Rp16.813 per Dolar AS
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (9/2) Parkir di Level Rp16.805 per Dolar AS
Fokus investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS Januari. Inflasi dan kekuatan tenaga kerja merupakan dua indikator utama yang menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Melansir Bloomberg, Inflasi inti AS sedikit meningkat pada awal tahun, sesuai dengan perkiraan, karena kenaikan biaya jasa lebih dari mengimbangi harga barang yang stabil.
Indeks harga konsumen (IHK) inti, tidak termasuk biaya makanan dan energi yang sering fluktuatif, meningkat 0,3% dari Desember, tertinggi sejak Agustus, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis pada Jumat (13/2/2026). Pada saat yang sama, IHK inti naik dari tahun lalu dengan kenaikan terkecil sejak 2021.
Meski pasar memperkirakan inflasi mulai melandai, data Januari dalam beberapa tahun terakhir kerap lebih tinggi dari ekspektasi. Jika kembali terjadi kejutan kenaikan inflasi, dolar AS berpotensi menguat dan menekan rupiah lebih lanjut.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah muncul sinyal negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Namun, situasi di Eropa kembali memanas menyusul serangan drone terhadap fasilitas kilang minyak Rusia.
Meski kondisi tersebut belum berdampak signifikan pada pasar keuangan, ketidakpastian global tetap membayangi sentimen investor.
Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026, meski menghadapi perlambatan ekonomi Asia dan global. Tren inflasi global yang mulai menurun juga membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap.
Selain itu, Indonesia dinilai memiliki daya saing ekspor yang kuat, dengan potensi besar dalam kapasitas manufaktur dan tenaga kerja. Berdasarkan sejumlah indikator potensi ekspor global, Indonesia berada di peringkat lima, menunjukkan peluang jangka menengah yang tetap positif.





