Perempuan Penerbang di Balik Kokpit, Kiprah Para Srikandi di Langit

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Di landasan pacu Wing Pendidikan (Wingdik) 100/Terbang yang terik, warna oranye seragam siswa penerbang itu tampak mencolok. Di antara puluhan siswa laki-laki berambut cepak yang mendominasi sekolah penerbang TNI AU itu, terselip sosok Letnan Dua (Letda) Qorinna dengan jilbab dinasnya.

Langkahnya tegap menuju pesawat latih Grob G-120TP berwarna putih yang dipilotinya. Ia tidak menunduk, pun tak canggung. Padahal, statistik rasio siswa penerbang tidak berimbang. Dari total 38 siswa di angkatannya (A-106), hanya ada dua perempuan penerbang.

Darah Angkatan Udara memang mengalir deras di tubuh Qorinna. Ibunya adalah seorang anggota Korps Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau). Tumbuh besar melihat ibunya berseragam loreng menumbuhkan benih keberanian, tetapi Qorinna muda memiliki ambisi yang melampaui sekadar meneruskan tradisi.

”Sebagai seorang anak, tentunya ingin mencapai sesuatu yang lebih dari orang tua kami,” ujar Qorinna saat ditemui saat agenda Press Tour Dirgantara di Kompleks Wingdik 100/Terbang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).

Tantangan terbesar bukan hanya soal menguasai instrumen pesawat, tetapi juga adaptasi sosial. Kami sebagai perempuan hidup di lingkungan laki-laki, sedikit banyak harus beradaptasi.

Motivasinya kian tebal saat melihat sosok-sosok senior penerbang Wanita Angkatan Udara (Wara) seperti Letkol Pnb Sekti Ambarwaty dan Letkol Pnb Fariana Dewi Djakaria Putri yang sukses menembus langit-langit karier militer.

”Itu menjadi figur percontohan kami bahwa perempuan juga bisa sukses, bahkan menjadi seorang Komandan Pangkalan Udara (Danlanud),” tambahnya.

Adaptasi

Jalan menuju kokpit tak pernah bertabur bunga, apalagi bagi seorang perempuan di lingkungan yang sangat maskulin. Qorinna mengakui, tantangan terbesar bukan hanya soal menguasai instrumen pesawat, tetapi juga adaptasi sosial.

”Kami sebagai perempuan hidup di lingkungan laki-laki, sedikit banyak harus beradaptasi. Awalnya berpikir bisa atau tidak? Ternyata begitu dijalani, kami bisa menyesuaikan,” ungkapnya.

Alih-alih merasa terintimidasi atau meminta perlakuan khusus, Qorinna justru memutarbalikkan stigma. Baginya, jender bukanlah batasan kemampuan airmanship.

”Di sini (Sekolah Penerbang) tak ada diskriminasi. Justru kami termotivasi. Kami juga harus bisa seperti laki-laki, bukan malah mengecilkan diri kami,” tegasnya.

Baca JugaPertama Kali, TNI AU Punya Perempuan Penerbang Pesawat Tempur

Di balik keanggunan seorang Wara, Qorinna memiliki mental baja. Menjadi siswa penerbang berarti siap menghadapi situasi terburuk di udara. Ia tidak hanya menghafal prosedur normal, tetapi juga prosedur darurat di luar kepala.

”Pesawat diharapkan selalu serviceable (laik terbang), namun apabila di atas masuk awan atau tiba-tiba menemui cuaca buruk, kami harus bisa mengatasi itu sendiri,” jelasnya.

Tantangan fisik pun tak kalah berat. Kesehatan mata menjadi harga mati. Qorinna menjelaskan toleransi minus mata sangat ketat, maksimal 0,5 atau 0,75, karena tekanan G-Force saat manuver aerobatik bisa membahayakan retina mata yang tidak prima.

Baca JugaYon Arhanud 21, Perisai Terakhir di Langit Selatan Jawa

Kini, Qorinna sedang menjalani fase Latih Dasar Akhir dan bersiap menuju fase Latih Lanjut. Ia membidik kualifikasi Fixed Wing (pesawat angkut) sebagai tujuan kariernya, meski siap ditempatkan di mana saja.

”Perempuan juga bisa menerbangkan pesawat, apabila dilatih dengan baik dan benar,” kata Qorinna.

Semangat untuk menembus batas tidak hanya milik Qorinna. Di angkatan yang sama, semangat itu juga terpancar dari Letda Firjatullah Radita Putra. Sosoknya unik. Firja adalah lulusan National Defense Academy (NDA) of Japan tahun 2025.

Menghabiskan waktu lima tahun pendidikan di Negeri Sakura, termasuk satu tahun pendidikan bahasa, memberinya perspektif global. Namun, saat kembali ke Tanah Air dan masuk Wingdik 100/Terbang, ia dihadapkan pada tantangan mental yang berbeda.

Sebagai Perwira Remaja lulusan 2023, secara hierarki militer, Firja adalah senior bagi sebagian besar rekan seangkatannya di Sekbang. Namun, di dalam kokpit pesawat latih, semuanya dimulai dari garis start yang sama.

Baca JugaMellisa Anggiarti, Perjuangkan Ruang Aman bagi Pilot

”Tantangannya tersendiri. Kami di sini berbeda angkatan dengan adik-adik kami, karena kami paling senior. Kami harus memberikan contoh yang baik, tapi untuk pengalaman terbang; kami belum ada. Jadi harus belajar dari nol lagi,” ungkap Firja.

Bagi Firja, menjadi penerbang bukan sekadar soal keahlian mengendalikan stik kemudi. ”Yang pertama kali dituntut adalah sikap sebagai seorang perwira. Apabila sudah memiliki sikap perwira, barulah skill penerbang dituntut,” tambahnya.

Pesawat angkut

Sama seperti Qorinna, motivasi Firja juga datang dari sosok ayah. Ayahnya adalah prajurit TNI AU, tetapi bukan penerbang. Fakta tersebut yang memicu adrenalinnya. ”Itu menjadi motivasi kami. Dari seorang putra yang (ayahnya) bukan penerbang, bisa menjadi seorang penerbang,” ujarnya.

Baca JugaPertaruhan 30 Detik Perisai Udara Nusantara

Keinginannya untuk mengawaki alutsista TNI AU tumbuh subur saat ia menempuh pendidikan di Jepang. Kini, setelah menyelesaikan fase Latih Dasar dengan pesawat Grob, Firja menatap fase Latih Lanjut dengan optimisme yang sama, membidik kualifikasi Fixed Wing (Sayap Tetap).

Meski tidak menafikan peran vital helikopter (Rotary Wing), Firja memiliki ketertarikan khusus pada pesawat angkut (Transport).

”Kami tidak bermaksud menjelekkan Rotary, tetapi untuk TNI AU sendiri (eksposur) lebih menonjol di tempur atau transport-nya,” jelas Firja tentang alasannya memilih jalur tersebut.

Qorinna maupun Firja, meski berbeda latar belakang, keduanya disatukan oleh satu spirit, yakni semangat juang menjaga kedaulatan dirgantara Indonesia dari balik kokpit.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Kakao Global Jatuh, Ghana Kaji Ulang Skema Harga Domestik
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Jelang Ramadan 2026, Kenali Ciri-Ciri Kurma Berkualitas untuk Buka Puasa
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Rakayan Hari Valentine lewat Film Bertema Self Love
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pihak Clairmont Ngaku Rugi Miliaran Rupiah Akibat Review Tak Benar Codeblu
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Persebaya Surabaya vs Bhayangkara FC di GBT, Rachmat Irianto Yakin Raih 3 Poin
• 9 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.