Bisnis.com, JAKARTA — PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia menyampaikan produk asuransi kesehatannya saat ini banyak dimiliki segmen usia produktif di akhir 30-an hingga 40 tahun ke atas.
SVP Marketing & Corporate Planning Tokio Marine Life Alexander Mahendrawan menjelaskan kelompok tersebut umumnya memiliki kesadaran kesehatan yang lebih tinggi.
“Serta kondisi finansial yang relatif lebih mapan, sehingga lebih siap memiliki perlindungan kesehatan bagi diri sendiri dan keluarga,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Jumat (13/2/2026).
Adapun, secara umum Alexander menyebut tren klaim asuransi kesehatan di perusahaan masih berada dalam batas wajar dan sejalan dengan pertumbuhan bisnis perusahaan, khususnya pada portofolio asuransi kesehatan kumpulan.
Berdasarkan data internal perusahaan, imbuhnya, jenis klaim yang paling banyak diajukan adalah layanan rawat inap (inpatient) dan diikuti oleh klaim rawat jalan (outpatient).
Untuk menjaga keseimbangan rasio klaim asuransi kesehatan, Tokio Marine Life konsisten mengevaluasi portofolio secara berkala untuk menjaga keberlanjutan produk, termasuk penyesuaian harga (repricing) yang dilakukan secara selektif dan dalam batas kewajaran, dengan tetap memperhatikan hak nasabah sebagaimana diatur dalam ketentuan polis yang berlaku.
Baca Juga
- Prudential Buka-bukaan Cara Jaga Rasio Klaim Asuransi Kesehatan
- Generali Bayar Klaim Rp1,3 Triliun Sepanjang 2025, Klaim Asuransi Kesehatan Dominan
- AAJI Sebut Kenaikan Biaya Medis jadi Aral Penjualan Asuransi Kesehatan
“Selain itu, perusahaan mengembangkan produk dengan struktur manfaat yang lebih seimbang melalui penerapan mekanisme co-sharing, deductible, serta no-claim discount, yang dirancang untuk mendorong penggunaan manfaat secara bertanggung jawab tanpa mengurangi kualitas perlindungan dan pelayanan kepada nasabah,” jelasnya.
Tidak sampai di situ, perusahaan turut aktif meningkatkan literasi kesehatan melalui kerja sama dengan 11 grup rumah sakit. Dari sisi layanan, perusahaan bekerja sama dengan lebih dari 8.000 institusi layanan kesehatan rekanan untuk memastikan efisiensi biaya perawatan dan kemudahan akses layanan.
Lebih jauh, Alexander membeberkan tantangan utama yang dihadapi dalam memasarkan produk asuransi kesehatan. Di antaranya kecenderungan overutilization layanan kesehatan serta tingginya inflasi medis (medical inflation), yang berdampak langsung pada peningkatan rasio klaim.
“Tantangan ini menuntut perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan produk, keterjangkauan premi, serta pemenuhan hak nasabah sesuai ketentuan polis,” ujarnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan terdapat peningkatan aktivitas klaim pada lini usaha asuransi kesehatan yang perlu dikelola secara hati-hati oleh industri.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menuturkan pada November 2025, klaim asuransi kesehatan di asuransi jiwa tercatat sebesar Rp22,10 triliun atau meningkat 11,20% (year on year/YoY).
“Dari sisi rasio klaim, lini usaha kesehatan mencatat rasio klaim sebesar 71,66%,” ungkap Ogi.
OJK, katanya, terus memantau perkembangan itu dan mendorong perusahaan asuransi untuk memperkuat manajemen risiko, kecukupan pencadangan, serta menjaga kualitas layanan kepada pemegang polis agar kinerja industri tetap terjaga secara berkelanjutan.





