Ayah Ternyata Juga Bisa Alami Depresi Pascapersalinan, Apa Saja Gejalanya?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Masalah kesehatan mental setelah melahirkan seperti baby blues dan depresi pascapersalinan kerap dikaitkan dengan ibu. Tetapi, yang belum banyak orang tahu, kedua hal tersebut juga bisa dirasakan oleh para ayah baru, Moms.

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, psikolog Adam Borland, PsyD, menyebut depresi pascapersalinan pada pria (paternal postpartum depression) bisa dialami oleh sekitar 10 persen ayah, baik sebelum atau segera setelah anak mereka lahir. Data ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association.

Gejala Depresi Pascapersalinan pada Pria

Pria yang mengalami depresi pascapersalinan (atau depresi yang lebih umum) cenderung lebih mudah terlihat marah, tersinggung, atau agresif. Hal ini mungkin bisa mengejutkan bagi sebagian orang, karena kita sering menganggap gejala depresi itu kesedihan dan mudah menangis.

“Pria yang mengalami depresi bisa disalahartikan sebagai orang yang marah, mudah tersinggung, atau 'pemarah'. Banyak orang beranggapan bahwa depresi sebagai kesedihan. Dan meskipun bisa saja, namun tidak selalu demikian," ujar Borland.

Tanda-tanda umum depresi pascapersalinan (PPD) pada pria dapat meliputi:

Dalam kasus depresi yang berat dapat menyebabkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri, Moms.

Apa yang Menyebabkan Ayah Bisa Alami Depresi Pascapersalinan?

Menurut Dr. Borland, penyebab depresi pascapersalinan pada pria sebagian bersifat biologis dan sebagian lagi disebabkan oleh perubahan dinamika hubungan setelah melahirkan.

Ingat! Depresi pascapersalinan pada ayah bukanlah pertanda bahwa suami Anda tidak mencintai si kecil, pasangannya, atau kehidupan baru yang sedang dibangun.

Borland menjelaskan, masalah ini adalah tentang bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi terhadap beberapa bulan pertama setelah membawa pulang bayi. Hari-hari awal bisa kacau, tidak stabil, dan penuh tekanan bagi sejumlah orang tua baru. Dan itu bisa memicu episode depresi.

“Bahkan orang tua yang paling berdedikasi pun bisa mengalami depresi pascapersalinan. Ini bukan cerminan dari Anda sebagai orang tua atau sebagai pribadi. Ini tidak berarti Anda adalah 'ayah yang buruk'. Dan ini tidak berarti Anda akan merasa seperti ini selamanya,” tutur Dr. Borland.

Kehadiran bayi dapat menyebabkan perubahan hormon pada pria. Beberapa penelitian menemukan kadar testosteron menurun setelah kelahiran anak.

Para peneliti berteori bahwa ini bisa jadi perubahan evolusioner yang membantu ayah menjalin ikatan dan merawat bayi mereka. Namun, kadar testosteron rendah dapat memiliki banyak gejala yang mirip dengan depresi.

“Kita tahu banyak tentang bagaimana hormon wanita berubah selama dan setelah kehamilan. Tetapi pria juga mengalami perubahan kadar hormon setelah melahirkan,” tutur dia.

Beberapa Penyebab Kemungkinan Terjadinya Depresi Pascapersalinan pada Ayah

1. Merasa Tersisih

Para ibu cenderung cepat menjalin ikatan dengan bayi. Para ayah mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Itu normal. Tetapi hal itu dapat membuat Anda merasa tidak nyaman dan tidak yakin dengan peran baru Anda.

2. Tekanan sebagai Pencari Nafkah

Sebagai ayah baru, Anda mungkin merasakan tekanan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sedang berkembang. Hal itu dapat meningkatkan stres terkait keuangan dan karier.

3. Rasa Bersalah

Ada ekspektasi budaya bahwa ayah baru seharusnya sangat bahagia. Tetapi, bagi ayah yang belum merasakannya, tidak perlu khawatir dan tak perlu merasa bersalah.

4. Kurang Tidur

Sebagian besar orang tua baru tidak mendapatkan cukup tidur. Dan malam hari tanpa tidur itu dapat berdampak besar pada kesehatan mental ibu maupun ayah.

5. Riwayat Medis

Pria yang memiliki riwayat depresi mungkin berisiko lebih tinggi mengalami PPD. Begitu pula ayah baru yang pasangannya juga memiliki gejala depresi pascapersalinan.

Ayah Mengalami Gejala Depresi Pascapersalinan, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika pasangan Anda memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, segera cari pertolongan medis. Jika gejala yang dialami tidak terlalu parah, menghubungi penyedia layanan kesehatan, seperti dokter umum atau spesialis kesehatan mental, dapat sangat membantu.

“Pria sering diajarkan bahwa mencari dukungan untuk kesehatan mental mereka adalah tanda kelemahan. Tetapi sebenarnya tidak. Dan jika Anda mengalami depresi pascapersalinan pada pria, itu adalah langkah terbaik yang dapat Anda ambil untuk merawat diri sendiri dan keluarga Anda dengan sebaik-baiknya,” ungkap Dr. Borland.

Untuk menjaga suasana hati yang positif di tengah kesibukan menjadi ayah baru, Dr. Borland menyarankan untuk juga fokus pada hal-hal dasar perawatan diri.

Menyesuaikan diri dengan kehadiran bayi baru membutuhkan waktu. Jadi, wajar jika suasana hati kita mungkin berubah-ubah selama proses tersebut. Tetapi jika gejala Anda berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu, jangan ragu untuk mencari bantuan.

“Menjadi seorang ayah adalah pekerjaan baru yang sangat besar, dengan jam kerja yang panjang dan tanpa bayaran, dan Anda berhak mendapatkan dukungan. Meminta bantuan bukan berarti tidak berdaya. Itu berarti Anda melakukan apa yang perlu dilakukan agar bisa menjadi ayah terbaik," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Celios Kritik Menu MBG Selama Ramadan Diganti Makanan Kering
• 51 menit lalubisnis.com
thumb
Pemprov DKI Rencanakan Haul Ulama dan Pejuang Betawi dalam Rangkaian HUT Jakarta
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Hanya 3 dari 10 Peserta Lolos UTBK SNBT Setiap Tahun, Apa Rahasianya?
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
BPKH Kelola Dana Haji Rp180 Triliun Secara Transparan dan Syariah
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Kini Tinggal Bareng Ruben Onsu, Betrand Peto Ungkap Perbedaan saat Masih Tinggal dengan Sarwendah
• 23 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.