Bisnis.com, JAKARTA — Center of Economic and Law Studies (Celios) mengkritik perubahan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi makanan kering selama Ramadan 2026.
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai penggantian menu tersebut mengurangi nilai gizi makanan yang seharusnya diterima anak-anak dan menghilangkan tujuan program mengenalkan real food.
“Ketika dibagikan makanan kering, nilai gizinya seperti apa? Kan namanya Makan Bergizi Gratis yang seharusnya, gizi dari makanan tidak boleh diubah,” kata Huda kepada Bisnis, dikutip Sabtu (14/6/2026).
Menurut Huda, pemerintah terutama Badan Gizi Nasional (BGN) terlalu fokus pada target pelaksanaan program MBG hingga mengabaikan kondisi di lapangan. Menurutnya, makanan kering seperti kurma, telur rebus, telur asin atau pindang, buah, susu, dan abon tidak lagi memenuhi standar gizi yang diharapkan.
Selain itu, dia juga menduga ada unsur ekonomi dari pihak penyedia Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membuat program tetap dilanjutkan meski manfaat gizi berkurang.
Di sisi lain, Huda memperingatkan potensi gejolak harga pasar, terutama telur ayam dan daging ayam, yang biasanya melonjak selama momentum Ramadan dan Lebaran. Dia menilai program MBG dengan menu makanan kering berpotensi membuat masyarakat harus bersaing dalam memperoleh bahan pangan.
Baca Juga
- Kelakar Kepala BGN, MBG Bikin Kesejahteraan Petani RI Naik
- Dana MBG Rp32,1 Triliun Cair 1,5 Bulan, Rekor Tercepat Dalam Sejarah RI!
- Efek Domino MBG, BGN Sebut Penjualan Motor Honda dan Pikap Ketiban Berkah
Sebelumnya, BGN memastikan program MBG tetap berjalan selama Ramadan dengan penyesuaian jadwal dan menu, di mana anak sekolah muslim menerima makanan kering untuk dibawa pulang saat berbuka.
Sementara untuk sekolah non-muslim, balita, dan ibu hamil tetap menerima MBG seperti biasa, sedangkan pondok pesantren menyesuaikan waktu pemberian MBG menjadi sore hari saat berbuka puasa.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, pelaksanaan program MBG telah mendorong peningkatan kebutuhan bahan pangan secara signifikan, mulai dari telur, buah-buahan, hingga komoditas perikanan dan pakan ternak.
“Dengan adanya Makan Bergizi Gratis, kebutuhan akan telur naik, kebutuhan semua bahan pangan naik,” kata Dadan dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Dia menjelaskan, skala kebutuhan pangan dalam satu SPPG sangat besar. Untuk menu pisang saja, satu kali pemberian makanan membutuhkan sekitar 3.000 buah pisang atau setara 150 sisir. Jumlah tersebut setara dengan 15 tandan atau sekitar 15 pohon pisang dalam sekali pemberian.
“Kalau dua kali seminggu artinya butuh 30 pohon pisang, satu bulan 120 pohon pisang, satu tahun 1.440 pohon pisang, 1 hektare ada 1.000 pisang, jadi dibutuhkan 1,5 hektare kebun pisang untuk satu SPPG,” terangnya
Kondisi serupa juga terjadi pada protein hewani. Dadan menyebut, untuk menu lele, satu kali pemberian makan membutuhkan sekitar 3.000 ekor lele, yang setara dengan dua kolam bioflok setiap kali distribusi. Jika pemberian dilakukan empat kali dalam sebulan, maka dibutuhkan sekitar 32 kolam lele untuk menopang satu SPPG.
Sementara itu, untuk menu berbasis telur, satu SPPG membutuhkan sekitar empat kandang ayam petelur. Kebutuhan tersebut didasarkan pada konsumsi sekitar 3.000 butir telur dengan produktivitas ayam petelur sekitar 0,8 butir per hari, maka membutuhkan sekitar 4.000 ekor ayam.
“Dan kalau ayam dipelihara, maka jagungnya [pakan] pun harus ada,” pungkasnya.





