JAKARTA, KOMPAS.com - Belum dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berjalan, dorongan agar Prabowo menjabat untuk dua periode sudah disuarakan sejumlah partai politik.
Menariknya, dari partai-partai yang ada, belum ada yang mendorong secara terbuka agar Prabowo kembali berduet dengan Gibran untuk masa pemerintahan 2029-2034 mendatang.
Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Lili Romli menilai dukungan partai-partai terhadap Prabowo untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 merupakan langkah yang realistis.
Baca juga: Partai-partai Mulai Dukung Prabowo 2 Periode, Bagaimana Nasib Gibran?
Ia berpandangan, partai-partai tersebut merasa tidak enak jika tidak kembali memberikan dukungan, terlebih mereka adalah bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo.
“Sebagai bagian koalisi tentu ketika Prabowo maju kembali, tentu akan memberikan dukungan kembali karena merasa ewuh pakewuh atau tidak enak,” ucap Lili saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Selain itu, status Prabowo sebagai petahana dengan tingkat popularitas tinggi juga dinilai meningkatkan peluang kemenangan pada kontestasi mendatang.
Baca juga: Peneliti BRIN Menganalisis Sebab Parpol Enggan Dukung Wapres Gibran 2 Periode
“Sementara jika mendukung calon lain belum tentu menang. Sebagai petahana, kecenderungan untuk menang tinggi dibandingkan bukan petahana,” kata dia.
Kemudian, partai-partai pendukung juga tidak memiliki figur calon presiden yang popularitasnya sebanding dengan Prabowo, sehingga khawatir blunder apabila memaksakan memajukan calon sendiri.
Alasan Gibran tak otomatis didukungSementara itu, Lili menilai ada beberapa faktor yang membuat partai-partai enggan mendukung duet Prabowo dan Gibran pada Pilpres 2029.
Salah satu alasannya karena kontroversi pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 yang masih melekat menjadi pertimbangan utama partai.
"Tampaknya para parpol tersebut tidak mau lagi ada cawapres yang kontroversial karena bisa merugikan elektabilitas partainya,” ujar Lili.
Baca juga: Pengamat Nilai Gibran Tak Termasuk dalam Dukungan Dua Periode ke Prabowo
Alasan lainnya terkait kinerja Gibran juga kerap mendapat citra negatif di mata publik.
“Kedua, kinerja Gibran selalu mendapat citra negatif dari publik. Tentu ini menjadi catatan bagi para parpol tersebut,” kata Lili.
Lili juga menambahkan, kemungkinan lain terkait keinginan setiap partai ingin mengusung kadernya sendiri atau tokoh lain sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo pada 2029.
“Ketiga, bisa jadi masing-masing parpol tersebut ingin mengusung sendiri sebagai kandidat yang mendampingi Prabowo baik dari kader sendiri atau dari luar,” kata Lili.
Baca juga: Belum Ada 1,5 Tahun Memimpin, Gelombang Dukungan Prabowo Dua Periode Mencuat, Apakah Terlalu Dini?





