Standar kecantikan telah menjadi persoalan pelik yang menghantui perempuan sejak dahulu. Dalam catatan sejarah, beberapa negara pernah memiliki batasan kecantikan yang dianggap ekstrem dan tak masuk akal.
Untuk dianggap menarik pada masanya, banyak perempuan rela menahan rasa sakit hingga mengorbankan kesehatan mereka sendiri. Mulai dari mengikat kaki agar tampak kecil, hingga meniru penampilan penderita tuberkulosis yang dianggap cantik saat itu.
Berikut rangkuman lima standar kecantikan ekstrem dalam catatan sejarah versi kumparanWOMAN.
1. Lotus FeetSekitar abad ke-10, perempuan dianggap menarik dan pantas menikah jika memiliki kaki yang mungil. Bentuk itu didapatkan dari pengikatan kaki yang dimulai sejak masih kecil.
Tradisi ini bermula saat Kaisar Li Yu (961-975) jatuh cinta dengan penari Yao yang kemudian menjadi selir. Ia meminta perempuan itu mengikat kakinya agar membentuk bulan sabit, sehingga tampak seperti seorang balet. Setelah itu, selir lainnya mengikuti jejaknya.
Mulai pada saat itu, lotus feet ini dijadikan sebuah tradisi yang mengakar selama ratusan tahun di Tiongkok.
2. Gigi Hitam (Ohaguro)Saat ini, gigi putih menjadi standar kecantikan yang melekat di masyarakat. Namun, pada 794-1185, perempuan di Jepang dianggap cantik dan dewasa jika memiliki gigi yang hitam.
Oleh karena itu, perempuan di masa itu melakukan teknik menghitamkan gigi yang disebut “Ohaguro”. Untuk mendapatkan hasilnya, perempuan akan menggunakan larutan bernama “Kanemizu”, yakni campuran serbuk besi, cuka, teh, dan sake.
3. Dahi Tinggi dengan Alis dan Bulu Mata BotakPada era Renaisans (abad ke-17), standar kecantikan perempuan ditandai dengan dahi yang lebar dan tinggi. Untuk mendapatkan tampilan tersebut, banyak perempuan rela mencabut rambut di bagian depan kepala, alis, hingga bulu mata.
Dahi yang tinggi membuat wajah terlihat menyerupai bayi, dan inilah tujuan utamanya. Penampilan yang tampak seperti bayi dianggap mencerminkan sifat polos dan lugu.
4. Wajah Seputih SaljuSekitar abad ke-16, kulit seputih salju menjadi standar kecantikan di Eropa. Agar dapat tampilan tersebut, banyak perempuan menggunakan berbagai produk kecantikan yang berbahaya agar kulit mereka tampak sangat putih dan dianggap cantik.
Produk-produk ini kerap mengandung bahan beracun seperti merkuri, timbal, hingga asam karbolat yang mampu memberikan efek kulit putih sesuai keinginan. Namun, penggunaan bahan-bahan tersebut dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.
5. Meniru Penampilan Penderita TuberkulosisTuberkulosis pernah menjadi wabah mematikan di dunia pada abad ke-18 hingga ke-19. Penderita penyakit ini umumnya memiliki kulit pucat, bibir kemerahan, dan tubuh yang tampak ramping. Pada abad ke-19, penampilan tersebut justru dianggap menarik dan bahkan dijadikan standar kecantikan.
Banyak perempuan berusaha meniru tampilan ini, misalnya dengan memutihkan kulit menggunakan merkuri. Tak hanya itu, ada pula yang sengaja membiarkan dirinya terpapar penyakit tersebut demi dianggap cantik





