Pantau - Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Keselamatan Transportasi Fakultas Teknik Universitas Indonesia Martha Leni Siregar mendorong penerapan desain jalan berbasis batas kemampuan manusia guna menekan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas.
Pernyataan tersebut disampaikan di Depok, Jawa Barat, Sabtu 14 Februari 2026, dalam pemaparannya terkait penguatan sistem keselamatan transportasi.
Ia menegaskan, "Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko kematian. Karena itu sistem transportasi harus dirancang dengan mempertimbangkan batas kemampuan tubuh manusia saat terjadi benturan".
Menurutnya, pengaturan dan pengendalian kecepatan menjadi faktor kunci dalam membangun sistem transportasi yang berkeselamatan.
Penanganan kecelakaan, lanjutnya, harus dilakukan secara proaktif melalui pencegahan, bukan hanya reaktif setelah kejadian terjadi.
Upaya pencegahan tersebut dilakukan dengan memastikan pengaturan kecepatan berada pada batas aman sehingga jika kecelakaan terjadi tidak menimbulkan korban jiwa.
Prof. Martha menekankan pentingnya desain jalan yang tepat agar kendaraan melaju dalam batas kecepatan yang masih aman bagi manusia.
Ia menyampaikan, "Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antar-kendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan,".
Ia menjelaskan dalam pendekatan Sistem Berkeselamatan, manusia dapat melakukan kesalahan sehingga sistem transportasi harus mampu mengantisipasi kesalahan tersebut.
Menurutnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi siapa yang salah, melainkan mengapa sistem yang ada memungkinkan benturan terlalu keras hingga melebihi batas kemampuan manusia.
Prof. Martha menegaskan, "Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal,".
Ia menambahkan bahwa kecepatan berkeselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip inti dalam perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi.
Keselamatan transportasi, katanya, harus dipandang sebagai produk sistem transportasi sehingga seluruh upaya menekan kecelakaan dilakukan dalam kerangka Sistem Berkeselamatan secara proaktif untuk mengarah pada nol fatalitas.




