HARIAN FAJAR, PANGKEP – Praktik tebang pilih dalam penegakan aturan Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) di Kabupaten Pangkep memicu polemik tajam.
Itu setelah, SPPG Mappasaile langsung dipaksa berhenti beroperasi hanya bermodal foto viral di media sosial yang belum terverifikasi sumber kebenarannya, sementara SPPG Tumampua yang berkali-kali kedapatan menyajikan menu berbahaya oleh siswa, terakhir berupa peluru hekter di dalam tahu justru seolah kebal hukum dan tetap beroperasi tanpa sanksi penutupan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pangkep, dr. Muhammad Ishak, mengunkap pihaknya tengah melakukan penelusuran mendalam terkait dugaan adanya peluru hekter yang bercampur di menu MBG yang berasal dari SPPG Tumampua.
“Saat ini saya juga di Kantor BGN untuk koordinasi lebih lanjut terkait peran Satgas kami dalam pengawasan,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Ia pun menduga peluru hekter tersebut berasal dari olahan tahu. “Tim sudah turun dan pengakuan pihak dapur tidak ada hekter di dapur, kemungkinan memang dari suplaer tahunya,” paparnya.
Olehnya itu, pihaknya mengaku masih melakukan penelusuran mendalam terkait dugaan adanya peluru hekter dalam sajian menu MBG tahu goreng itu.
“Kami masih penelusuran lagi dan mendengarkan sejumlah pihak untuk tetap menjaga program ini berjalan dengan baik,” jelasnya.
Sementara itu, Salah seorang orang tua siswa yang memeroleh manfaat dari SPPG Mappasaile, kepada FAJAR berharap agar SPPG tersebut segera beroperasi kembali.
“Semoga segera beroperasi, karena anak-anak bisa dapat MBG, kalau tidak beroperasi disiapkan lagi bekalnya, selama ini kehadiran MBG sangat membantu, tolong agar segera dioperasikan kembali SPPG ini,” harapnya. (fit)





