“Kebutuhan” Dibeli Ayah, “Keinginan” Bayar Sendiri

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah musim ekonomi yang sulit, hal yang paling ingin saya ajarkan kepada anak-anak adalah perbedaan antara kebutuhan dan keinginan—itulah yang disebut nilai hidup.

Suatu hari, putri saya dengan agak sungkan mengajukan permintaan:“Sepatuku rusak, perlu beli yang baru.”

Saya menunduk melihat sol sepatunya. Benar saja, sudah aus dan berlubang besar—memang sudah waktunya diganti.

Saya menanyakan merek dan harganya, lalu menelepon seorang teman yang memiliki toko perlengkapan olahraga.Dia belum memiliki stok sepatu itu, tetapi berjanji bisa memesankannya dengan diskon 30%, karena di toko resmi tidak ada potongan harga.

Saya segera menyampaikan kabar baik itu kepada putri saya.

Namun dia menjawab: “Aku sudah janjian dengan teman-teman. Hari ini juga mau beli.”

Saya menghitung selisih harga— mencapai seribu dolar Taiwan.Hanya perlu menunggu tiga hari. Apakah selisih seribu itu benar-benar harus dihabiskan?

Raut wajah saya menunjukkan sedikit ketidaksenangan.Sejujurnya, beberapa tahun terakhir mencari nafkah memang tidak mudah. Saya memang sudah berencana agar anak-anak lebih awal memahami dari mana uang keluarga berasal.

Sumber penghasilan saya ada dua: memberi ceramah dan menulis. Keduanya berpenghasilan pas-pasan, jauh dari kata kaya.

Terutama dari menulis buku. Jika satu buku dijual seharga 250 dolar, royalti cetakan pertama hanya 25 dolar per buku.

Saya mengajaknya berhitung:
25 × 10 = 250
25 × 100 = 2.500
25 × 1.000 = 25.000

Lalu saya bertanya: “Banyak tidak?”

Setelah itu, saya mengikat 40 buku menjadi satu bundel dan menyuruhnya mengangkatnya.

Saya katakan, “Royalti dari buku-buku ini pas seribu dolar. Kalau kamu ingin beli sepatu hari ini, bawa saja buku-buku ini untuk dijual. Kalau dapat seribu, kamu bisa menutup selisih harganya.”

Saya masuk ke ruang kerja, melanjutkan naskah yang belum selesai.

Sepuluh menit kemudian, dia masuk dan berkata : “Papa, tolong papa saja yang belikan.”

Mungkin dia sudah mulai memahami perumpamaan saya. Saya mengusap kepalanya, berharap dia benar-benar mengerti.

Perbedaan antara ‘keinginan’ dan ‘kebutuhan’ adalah filosofi hidup yang ingin saya tanamkan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang harus ada— seperti beras, minyak, garam, kecap, air minum; tanpa itu kita akan lapar atau haus, segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan juga termasuk di dalamnya.

Sedangkan keinginan adalah nafsu— bukan kebutuhan, tetapi tetap ingin dipenuhi. Misalnya, sudah punya lima pasang sepatu, namun karena tren baru, ingin membeli satu lagi, sementara sepatu lama hanya tersimpan di lemari— itu sama saja dengan pemborosan.

Saya mengingatkan anak-anak, “Yang dibutuhkan, papa yang bayar. Yang diinginkan, bayar sendiri.” Karena saya bukan orang kaya.

Bisa menghasilkan uang adalah sebuah berkah, dan berkah itu harus dijaga. Menyia-nyiakan uang sama saja dengan tidak pernah mendapatkannya.

Saya juga mengatakan, uang hanyalah alat. Setelah memilikinya, uang seharusnya mengantar kita pada kebahagiaan. Jika tidak, yang kita dapat hanyalah kertas, angka, ditambah kesibukan, kelelahan, tekanan, dan kegelisahan— dan tetap saja tidak mampu memuaskan keinginan.

Sepanjang hidup, kebutuhan manusia sebenarnya sangat sedikit, tetapi keinginan selalu terasa terlalu banyak.

Saat itu, anak saya yang masih kelas tiga SD belum sepenuhnya memahami. Namun seiring bertambah usia dan masuk universitas, dia akhirnya mengerti.

Beberapa hari lalu, saya menerima kartu ulang tahun darinya. Dia menasihati saya agar menjaga kesehatan, lebih santai, tidak terlalu sibuk, dan tidak perlu memaksakan diri mencari uang. Katanya, dia akan hidup hemat dan belajar memikirkan orang lain.

Tampaknya, dia sudah paham matematika kehidupan:  pendapatan dikurangi pengeluaran, hanya mereka yang hasilnya positif yang bisa hidup dengan tenang dan bermakna. Jika tidak, hidup akan biasa-biasa saja, sibuk mengejar uang, dan akhirnya menjadi budak pekerjaan.

Saya pun merenung, mengapa sekarang begitu banyak orang terjerat utang kartu kredit? Apakah karena orangtua terlalu memanjakan anak, memberi kehidupan yang terlalu berlimpah, hingga anak terbiasa menikmati sesuatu di luar kemampuan yang seharusnya bisa mereka hasilkan sendiri, bahkan terbiasa mendapatkan sesuatu tanpa bekerja?

Baru-baru ini, anak dari seorang kenalan menikah. Pernikahannya begitu mewah hingga membuat banyak orang iri.

Orangtuanya dengan bangga bercerita, cincin berlian pernikahan anaknya saja bernilai 1,5 juta dolar Taiwan, dan harus merek terkenal—tidak bisa yang lain.

Namun kami tahu, anak itu belum pernah bekerja, belum pernah menghasilkan satu sen pun dengan tangannya sendiri, bahkan belum tahu akan hidup dari apa.

Apakah dia tahu berapa banyak usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan 1,5 juta itu?

Jika suatu hari orangtuanya tiada, ke mana lagi dia bisa mencari kesempatan mendapatkan uang tanpa bekerja? Kartu kredit?

Memberi anak kehidupan yang terlalu berkelimpahan, kadang justru tidak baik bagi mereka.

Renungan

Saat membaca kisah ini, saya teringat slogan iklan lotre beberapa tahun lalu: “Mau? Papa belikan.”

Iklan itu memang menggambarkan harapan tak terbatas dalam satu kupon, namun di balik “harapan” tersebut, banyak keluarga justru berakhir dalam keputusasaan.

Artikel ini justru ingin mengajak kita semua untuk menghadapi realitas sosial, mengenali kemampuan diri, menanamkan nilai uang yang benar, dan memahami bahwa usaha adalah syarat dari hasil.

Kalimat : “Dalam hidup, kebutuhan sebenarnya tidak banyak, tetapi keinginan selalu terlalu banyak” benar-benar mengena.

Saat hidup susah, asal ada makan, tempat tinggal, dan tempat tidur, kita sudah merasa bahagia. Namun ketika hidup membaik, keinginan justru semakin bertambah, dan hidup malah terasa semakin berat.

Orang zaman dulu berkata: “Kaya tidak lebih dari tiga generasi, miskin pun tidak lebih dari tiga generasi.”

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga terlalu kaya, sering tidak memahami sulitnya mencari uang. Karena merasa uang mudah didapat, maka uang pun mudah dihabiskan.

Ketika sadar, harta sudah habis, namun mereka tidak tahu bagaimana bekerja untuk bertahan hidup.

Generasi tua yang pernah melewati masa-masa sulit, ingin memberikan yang terbaik bagi anak cucunya. Namun tanpa disadari, kasih sayang yang berlebihan itu seperti racun yang bekerja perlahan— sedikit demi sedikit melemahkan kemampuan hidup anak, dan perlahan-lahan mewujudkan pepatah “kaya tak lebih dari tiga generasi.” (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Kecelakaan Bus di Tol Solo-Ngawi, Kendaraan Tabrak Truk Boks hingga Terguling, Puluhan Korban Luka-luka
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Benarkah Tanah Terlantar Bisa Disita Negara? Ini Penjelasan dan Aturannya
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PIHPS: Harga bawang merah Rp44.350/kg, cabai rawit merah Rp76.500/kg
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Obat Asam Urat Alami yang Bisa Dicoba di Rumah
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Cegah Penyelewengan Dana Desa, Prabowo Kebut Bangun 30 Ribu Koperasi Desa Merah Putih
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.