EtIndonesia. Seiring ekonomi Tiongkok terus melemah, banyak sektor tradisional terpuruk atau mengalami kelesuan. Kelompok pekerja lepas yang disebut sebagai “pekerja fleksibel” semakin kesulitan bertahan hidup. Sebagian dari mereka disebut terpaksa menjual data pribadi, bahkan menjual darah demi menyambung hidup.
Baru-baru ini, seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa Rumah Sakit 301 di Beijing diduga telah menjadi salah satu titik transaksi perdagangan darah ilegal, memicu perhatian publik terhadap praktik di balik layar ini.
Pasar Pekerja Lepas dan Fenomena “Jual Darah”
Seorang blogger Tiongkok baru-baru ini mengunggah video yang memperlihatkan Pasar Tenaga Kerja Lepas Maqiao di Distrik Tongzhou, Beijing. Dalam video tersebut terlihat banyak orang masih berkumpul hingga larut malam, berharap mendapatkan pekerjaan.
Ia mengatakan bahwa banyak orang datang setiap hari dari pagi hingga malam untuk mencari pekerjaan, mencerminkan tekanan ekonomi yang berat.
Peneliti media independen Li Banjiang mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitiannya, antara pukul 05.00 hingga 07.00 pagi, kurang dari sepersepuluh pencari kerja di pasar tersebut berhasil mendapatkan pekerjaan.
Selain orang yang mencari dan menawarkan pekerjaan, disebutkan pula adanya sekelompok orang yang berteriak menawarkan diri untuk “menjual darah”.
Sheng Xue, Wakil Ketua Global Federasi Demokrasi Tiongkok, menyatakan bahwa banyak warga Tiongkok berada dalam situasi sulit untuk bertahan hidup. Ketika tidak memiliki harta atau sumber penghasilan lain, sebagian orang terpaksa menjual tubuhnya sendiri demi bertahan.
Seorang blogger lain mengakui bahwa sebelumnya ia menolak anggapan bahwa orang sampai harus menjual darah karena kemiskinan. Namun kini, karena tidak memiliki uang untuk biaya hidup, ia terpaksa mengakui kenyataan tersebut.
Praktik Terselubung di Balik “Donor”
Laporan menyebutkan bahwa sejak 2023, fenomena orang yang mengandalkan penjualan darah untuk bertahan hidup tidak hanya terjadi di sekitar Stasiun Beijing Barat, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Tiongkok. Harga darah disebut berbeda tergantung golongan darah.
Seorang pria di Guangdong mengaku pernah menjual darah beberapa kali ketika benar-benar tidak memiliki biaya hidup. Ia mengatakan bahwa transaksi biasanya dilakukan dengan mendatangi rumah sakit atau bank darah secara informal. Karena tidak boleh secara terang-terangan menyebutnya sebagai “menjual darah”, mereka biasanya menanyakan apakah ada “kompensasi” untuk donor darah.
Padahal sejak 1998, Tiongkok telah memberlakukan Undang-Undang Donor Darah yang mengatur sistem “donor sukarela tanpa bayaran”.
Namun, seorang perantara yang memperkenalkan penjual darah kepada media menyatakan bahwa transaksi dilakukan atas nama “donor darah”. Ia mengklaim dapat menghubungkan penjual darah dengan berbagai rumah sakit di Beijing, termasuk Rumah Sakit 301, dan membantu mengatur jadwal.
Sheng Xue menilai bahwa dalam sistem yang sangat terpusat dan otoriter, kepentingan dan keuntungan ekonomi dapat meresap ke berbagai sektor masyarakat, termasuk sektor medis.
Kekhawatiran Risiko Kesehatan
Informasi publik menunjukkan bahwa Rumah Sakit 301 merupakan fasilitas medis penting yang melayani pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok serta menangani kasus medis kompleks militer dan sipil.
Muncul kekhawatiran bahwa praktik jual beli darah yang tidak transparan dapat menimbulkan risiko serius. Tidak hanya kesehatan penjual darah yang terancam, tetapi juga potensi penyebaran penyakit menular melalui darah.
Menurut Sheng Xue, persoalan ini bukan sekadar isu medis, melainkan juga risiko kesehatan masyarakat dan persoalan sistem serta hak dasar warga untuk bertahan hidup. Ia memperingatkan bahwa selama masih ada perdagangan darah bawah tanah atau kegagalan pengawasan, risiko penyebaran penyakit menular melalui darah akan tetap tinggi.
Bayang-Bayang “Ekonomi Plasma Darah” di Henan
Tiongkok pernah mengalami tragedi besar pada 1990-an di Provinsi Henan, yang dikenal sebagai “ekonomi plasma darah”. Praktik pengumpulan plasma secara massal demi keuntungan ekonomi saat itu menyebabkan penyebaran HIV secara luas.
Laporan menyebutkan bahwa lebih dari satu juta orang terinfeksi HIV dan puluhan ribu meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Hingga kini, kebenaran penuh mengenai tragedi tersebut disebut masih tertutup dan jarang dibahas secara terbuka.
Fenomena meningkatnya penjualan darah di tengah tekanan ekonomi ini kembali menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi sosial, pengawasan medis, serta jaminan hak hidup warga di Tiongkok. (Jhon)
Sumber : NTDTV.com




