Logika Tidak Selalu Benar

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dalam kerja tim, berdebat mati-matian berdasarkan alasan belum tentu membuat pekerjaan menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah menciptakan hasil, dan setiap orang merasa dihargai karenanya.

Suatu hari, ketika kami keluar dari area parkir, tiba-tiba sebuah mobil putih menyerobot masuk secara melintang. Anak saya langsung mengerem mendadak dan menekan klakson keras-keras. Mobil itu juga berhenti dan membalas dengan satu kali klakson.

Sepanjang perjalanan pulang, anak saya terus mengomel : “Tidak tahu aturan jalur utama punya hak jalan, kok berani mengemudi!”

Saya tahu mengapa dia sangat marah: karena pihak lain melanggar aturan, dan karena secara logika, dia benar.

Namun justru di situlah saya mulai merasa khawatir.

Jika kita memandang hidup hanya dengan ukuran benar–salah, dan merasa bahwa selama kita punya alasan yang kuat maka kita berhak bersikeras, itu sebenarnya sangat disayangkan.

Sekitar tiga puluh tahun lalu, saya pernah menonton sebuah film berjudul “Judgment at Nuremberg (Pengadilan Nuremberg)”. Saya tidak pernah melupakan dialog terakhir dalam film itu.

Seorang hakim tua berkata kepada seorang pengacara muda Jerman: “Kamu sangat cerdas dan pandai menggunakan logika hukum. Tapi jangan lupa, sesuatu yang masuk akal belum tentu benar.”

Apa arti kalimat “masuk akal belum tentu benar” dalam kehidupan sehari-hari?

Cukup ingat kembali pertengkaran terakhir Anda dengan pasangan, atau perhatikan pasangan lain yang sedang bertengkar.

Apakah pertengkaran itu terjadi karena masing-masing merasa punya alasan yang benar?

Sebuah keluarga yang dalam segala hal selalu menuntut penjelasan logis, yang melihat dunia hanya hitam dan putih, yang tidak berhenti sebelum semuanya dibongkar sampai tuntas, belum tentu adalah keluarga yang bahagia.

Anda bisa menasihati seorang anak pecandu narkoba sepanjang malam, memberikan penjelasan yang sangat masuk akal— dan kemungkinan besar semua itu sudah sering dia dengar. Namun dia tetap akan kembali menggunakan sabu.

Dia bukan tidak tahu bahwa narkoba merusak tubuh. Lalu mengapa tetap dilakukan? Karena manusia bukanlah produk logika semata. Manusia perlu dimengerti, merasa diterima, dihormati, dan merasa bernilai.

Sementara logika—atau menjelaskan sesuatu dengan sangat masuk akal— jarang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar ini.

Dale Carnegie pernah mengatakan bahwa kebutuhan manusia sebenarnya tidak banyak: kesehatan, tempat tinggal, pakaian, kendaraan, dan penghargaan.

Namun entah mengapa, yang terakhir ini justru paling sulit didapat.

Kelak kita akan menyadari bahwa rasa pencapaian terbesar dalam hidup sering kali datang dari kepedulian dan pengakuan yang kita berikan kepada orang lain— dan karena itulah, orang lain pun bersedia bekerja sama dengan kita.

Renungan

Logika adalah fondasi bagi segala sesuatu yang sudah ada. Sementara ketidaklogisan justru sering menjadi fondasi bagi inovasi. Keduanya seperti langit dan bumi, matahari dan bulan— tidak bisa berdiri sendiri.

Karena dunia memiliki logika tertentu yang bisa diikuti, maka keteraturan bisa terjaga. Jika suatu hari semua logika itu hilang, bukankah dunia akan menjadi kacau balau?

Namun jika segala sesuatu hanya berjalan kaku mengikuti logika lama tanpa perubahan, manusia tidak akan berkembang, makhluk hidup tidak akan berevolusi, dan waktu seolah berhenti.

Bagi saya, logika itu sendiri tidak salah. Pertanyaannya adalah: logika siapa yang dipakai? Logika Anda? Logika saya? Atau logika publik?

Setiap orang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, dengan nilai hidup dan cara berpikir yang berbeda pula. Maka benar–salah pun sering kali relatif.

Saya percaya ada dua jenis logika di dunia ini:

  1. Logika alam (logika Tuhan)
    Seperti matahari terbit dan terbenam, pergantian musim— sesuatu yang tidak bisa diubah oleh manusia.
  2. Logika manusia
    Seperti hukum, norma sosial, etika hubungan, dan aturan perusahaan— disepakati bersama agar kehidupan berjalan tertib.

Namun karena manusia tidak sempurna, logika buatan manusia pun selalu memiliki celah. Itulah sebabnya orang-orang bijak sejak dulu selalu menekankan: dahulukan perasaan (情), lalu logika (理), dan hukum (法) adalah pilihan terakhir.

Sepanjang sejarah, ada negara yang maju karena menegakkan hukum secara tegas, tetapi ada pula negara yang runtuh karena terlalu banyak campur tangan kepentingan pribadi hingga rakyat kehilangan kepercayaan.

Kesimpulannya, apa pun yang berlebihan—termasuk logika—tidak pernah membawa kebaikan. (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PIHPS: Harga bawang merah Rp44.350/kg, cabai rawit merah Rp76.500/kg
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Perkuat Kemenagan Pemilu 2029, Bahlil Kukuhkan Akademi Partai Golkar
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Menguasai Teknik Prompting, Peserta SSA Bootcamp “Jago Ngonten with AI” Optimalkan Konten Digital
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dewa United Jinakkan 10 Pemain PSM
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Kemenhaj Integrasikan Siskohat dan Nusuk Arab Saudi, Percepat Proses Visa Haji
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.