Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) bersama Mandala Consulting meluncurkan buku putih (white paper) yang menyoroti potensi perluasan akses kredit melalui kolaborasi perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) untuk memperluas akses pembiayaan ke masyarakat.
Sekretaris Jenderal Aftech Firlie Ganinduto mengatakan stagnasi akses kredit mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau segmen masyarakat yang belum memanfaatkan layanan keuangan secara maksimal (underbanked). Menurut dia, kolaborasi lintas kanal pembiayaan diperlukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Perluasan akses kredit tidak dapat bergantung pada satu kanal saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci untuk menjangkau segmen yang belum terlayani optimal, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” ujar Firlie dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
White paper berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar yang diluncurkan Aftech dan Mandala Consulting tersebut membahas kesenjangan akses kredit formal sekaligus peluang sinergi antara bank dan fintech peer-to-peer (P2P) lending untuk mendorong inklusi keuangan dan pembiayaan produktif, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penyusunan buku putih tersebut, kata Firlie, dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan, dari hanya Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.
“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab dan berorientasi jangka panjang,” ujar dia.
Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK Jasmi menyampaikan bahwa kolaborasi perbankan dan industri pindar memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara inklusif dan bertanggung jawab, dengan tetap mengedepankan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan dan perlindungan konsumen.
Sinergi lintas lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM.
CEO Mandala Consulting Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.
Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sementara data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025.
Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Kepala Departemen P2P Lending Aftech sekaligus Direktur Utama Easycash Nucky Poedjiardjo mengatakan kolaborasi bank dan pindar perlu diimbangi penguatan tata kelola dan kepatuhan agar sejalan dengan standar perbankan.
Menurut dia, jika dikelola secara hati-hati, sinergi tersebut dapat menjadi jembatan pembiayaan bagi masyarakat yang belum memiliki rekam jejak kredit formal dan mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.
“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri," ujarnya.
Baca juga: BSSN-AFTECH perkuat kerja sama keamanan siber sektor keuangan
Baca juga: Jalin dan AFTECH kerja sama pembentukan konsorsium pendeteksi fraud
Baca juga: Aftech tata ulang fondasi integritas lewat kode etik terintegrasi
Sekretaris Jenderal Aftech Firlie Ganinduto mengatakan stagnasi akses kredit mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau segmen masyarakat yang belum memanfaatkan layanan keuangan secara maksimal (underbanked). Menurut dia, kolaborasi lintas kanal pembiayaan diperlukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Perluasan akses kredit tidak dapat bergantung pada satu kanal saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci untuk menjangkau segmen yang belum terlayani optimal, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” ujar Firlie dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
White paper berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar yang diluncurkan Aftech dan Mandala Consulting tersebut membahas kesenjangan akses kredit formal sekaligus peluang sinergi antara bank dan fintech peer-to-peer (P2P) lending untuk mendorong inklusi keuangan dan pembiayaan produktif, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penyusunan buku putih tersebut, kata Firlie, dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan, dari hanya Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.
“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab dan berorientasi jangka panjang,” ujar dia.
Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK Jasmi menyampaikan bahwa kolaborasi perbankan dan industri pindar memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara inklusif dan bertanggung jawab, dengan tetap mengedepankan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan dan perlindungan konsumen.
Sinergi lintas lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM.
CEO Mandala Consulting Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.
Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sementara data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025.
Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Kepala Departemen P2P Lending Aftech sekaligus Direktur Utama Easycash Nucky Poedjiardjo mengatakan kolaborasi bank dan pindar perlu diimbangi penguatan tata kelola dan kepatuhan agar sejalan dengan standar perbankan.
Menurut dia, jika dikelola secara hati-hati, sinergi tersebut dapat menjadi jembatan pembiayaan bagi masyarakat yang belum memiliki rekam jejak kredit formal dan mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.
“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri," ujarnya.
Baca juga: BSSN-AFTECH perkuat kerja sama keamanan siber sektor keuangan
Baca juga: Jalin dan AFTECH kerja sama pembentukan konsorsium pendeteksi fraud
Baca juga: Aftech tata ulang fondasi integritas lewat kode etik terintegrasi





