Ervyan Ramlan
Guru MIN 2 Wajo
Manusia terlahir di dunia sebagai makhluk yang paling tangguh. Mereka tumbuh dan berkembang melalui proses penyesuaian terhadap keadaan. Dengan kemampuan berpikir kritis, manusia dapat dengan mudah mengaktivasi lingkungan sekitarnya. Haidar Bagir dalam bukunya, Islam Tuhan, Islam Manusia, menyatakan bahwa akal adalah anugerah yang dimiliki manusia sebagai makhluk yang paling mulia (Ahsan Taqwim). Oleh karena itu, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan manusia selain “ketangguhan”. Khususnya bagi seorang muslim, ibadah puasa Ramadan merupakan salah satu sarana pembuktian diri sebagai manusia tangguh.
Dalam pandangannya, Ibnu Mandzur dalam buku Yusuf Burhanuddin yang berjudul Misteri Bulan Ramadhan menjelaskan bahwa kata “Ramadhan” berasal dari kata al-ramadh yang berarti panas batu akibat sengatan matahari. Menjadi pementik, jika kerasnya hati masih membakar maka Ramadan-lah waktu yang tepat menyejukkannya. Selain itu, literatur sejarah mencatat bahwa praktik puasa telah dilakukan jauh sebelum umat Muslim melaksanakannya. Masyarakat Mesir Kuno, misalnya, telah menjalankan puasa sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Isis, sementara bangsa Romawi Kuno melaksanakannya selama setahun penuh demi menghormati Dewa Osiris. Jika dewa dan dewi saja dapat dihormati dengan cara berpuasa maka kita sebagai muslim patut lebih dari sekedar hormat. Menanamkan Iman dan Taqwa serta nilai karakter personal menjadi hal utama menjalankan puasa ramadan.
Perspektif pendidikan karakter. Puasa adalah jalan terdidik menuju kehidupan. Sebagaimana dijelaskan oleh Wardatul Ilmiah dkk. (2021) dalam jurnal Pendidikan Karakter “JAWARA”, Ramadan pada hakikatnya adalah sebuah “Ruang Belajar” yang mengajarkan berbagai disiplin ilmu karakter seperti keikhlasan, kejujuran, kesabaran, pemaaf, kedermawanan, serta sikap rida terhadap ketentuan Allah SWT. Ibadah ini menuntut kejujuran personal karena merupakan ibadah yang bersifat privasi antara hamba dengan Sang Pencipta. Apabila bulan-bulan selain Ramadan kerap bersikap penuh khilaf, Tanpa sengaja mencaci maki, dengan sadar menghina tetangga, mengadu keburukan rekan kepada pimpinan, atau sebegai pelajar melaporkan guru kepada pihak berwajib. Maka jemputlah Ramadan sebagai momentum penolong untuk membersihkan keburukan tersebut.
Ada dua tokoh membahas tentang penggunaan hati sebagai alat pendidikan karakter. Friedrich Frobel, pendidikan seharusnya mengarahkan dan membimbing menusia pada kejernihan dalam diri, kedamaian dengan alam dan kesatuan dengan tuhan. Sama halnya, Imam Al Ghazali dalam buku karangan Muhammad Ghofur, tentang ada bagian terkecil dari dalam diri yakni hati/Sinoartial Node adalah penguasa tubuh yang sebenarnya. Kedua perspektif ini mendakatkan pada tujuan ramadan dengan pembiasaan menahan diri mendewasakan perilaku.
Lebih jauh lagi, puasa memiliki dimensi pendidikan karakter sosial yang kuat. Oki Dermawan (2013) dalam penelitiannya menekankan bahwa melalui puasa, seseorang akan memiliki prinsip yang kuat, kesabaran, dan solidaritas sosial. Pengalaman berpuasa bukan hanya menahan lapar secara langsung melaikan waktu yang tepat memupuk empati terhadap kaum fakir miskin, melalui santunan dan perhatian kesejahteraan. Hal ini sejalan dengan temuan Siti Khodijah (2023) yang menegaskan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an, manfaat puasa mencakup pembentukan akhlak mulia dan perlindungan diri dari perbuatan maksiat. Akhlak mulia dapat kita raih dan perbuatan maksiat dijauhkan dari diri, tanda lahirnya kemenangan hidup sejati.
Tidak hanya bagi rohani, sains juga membuktikan bahwa puasa mendukung ketangguhan fisik sebagai fondasi karakter. Prof. Rafiqi Tantawi (2019) menjelaskan secara medis, puasa sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental, termasuk dalam memperbaiki fungsi tubuh secara keseluruhan. Senada dengan hal itu, Siti Khodijah (2023) menambahkan bahwa dalam perspektif sains, puasa efektif dalam meringankan berbagai penyakit seperti obesitas, penyakit gula (diabetes), dan gangguan lambung. Ketika kesehatan rohani terbangun melalui puasa, hal tersebut otomatis memengaruhi kesehatan fisik karena hati sebagai penuntun tubuh manusia. Tangguh fisik, mental dan rohani, ibarat menyatunya superhero penakluk dunia beserta problematikanya.
Dengan demikian, puasa Ramadan tidak hanya layak dipahami sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai model pendidikan karakter yang komprehensif dalam menghadapi dunia yang dinamis. Melalui puasa, manusia secara umum belajar tentang ketangguhan, kejujuran, kesederhanaan, empati, dan rasa syukur. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan dalam membangun generasi berkarakter di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (ams)





