Bisnis.com, JAKARTA — Tahun Kuda Api dinilai membuka ruang potensi ekonomi baru bagi Indonesia di tengah dinamika global yang masih bergejolak. Dominasi elemen api dalam konfigurasi energi tahun ini disebut mendorong pertumbuhan, kreativitas, dan daya tarik investasi, meski tetap disertai tantangan eksternal.
Konsultan BaZi Yorita Laksmi mengatakan, dalam perspektif metafisika China, karakter kuda dan api menempatkan kebebasan serta kreativitas sebagai tema utama tahun ini. Energi tersebut dinilai dapat menjadi katalis bagi inovasi dan ekspansi ekonomi, khususnya pada sektor-sektor berbasis ide dan keberlanjutan.
Dalam pembacaan energi tahun ini, Indonesia disebut memiliki red matchmaker star atau daya tarik kuat bagi pihak eksternal. Kondisi tersebut membuka peluang masuknya investor asing, terutama untuk pembangunan wilayah, pemulihan daerah terdampak bencana, serta pengembangan kawasan yang belum optimal.
“Jadi, pengembangan yang menggunakan basis dari alam, itu nanti akan banyak investor-investor yang masuk, karena sumber di alam Indonesia ini kan banyak-banyak. Paling besar itu investor dari AS dan China,” katanya saat berbincang dengan Bisnis, belum lama ini.
Masuknya investasi asing tersebut disinyalir dapat mendorong perputaran ekonomi domestik. Sektor energi terbarukan seperti tenaga surya dan bioenergi disebut berpotensi menjadi tulang punggung pertumbuhan baru, seiring meningkatnya minat global terhadap proyek berbasis keberlanjutan dan sumber daya alam.
Selain energi hijau, sektor pertanian, industri pengolahan, hingga ekonomi kreatif juga diproyeksikan memperoleh momentum. Dominasi elemen api yang merepresentasikan kreativitas dinilai dapat memperkuat daya saing pelaku usaha lokal, termasuk UMKM dan merek independen.
Baca Juga
- Ramalan Tahun Kuda Api 2026, Energi Besar, Peluang Melejit, Tetapi Rawan Burnout
- Nasib IHSG di Tahun Kuda Api 2026, Ahli Feng Shui Beri Bocorannya!
- Menjaga Stabilitas Tubuh di Tahun Kuda Api
Yorita juga memprediksi akan terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat. Merek-merek besar kelas atas berpotensi mengalami penurunan, sementara produk lokal dan merek independen justru memiliki ruang tumbuh lebih besar. Fenomena ini dinilai serupa dengan industri kreatif, termasuk musik, yang semakin didominasi pelaku independen.
Di sisi lain, dia mengingatkan tetap ada dinamika global yang perlu diantisipasi. Dalam konteks persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan China, ketegangan geopolitik dinilai masih membayangi perdagangan dunia. Namun, Indonesia disebut berada pada posisi yang relatif lebih aman dalam arena pertempuran tersebut.
Sementara itu, nilai aset seperti properti, tanah, logam mulia, hingga perhiasan kelas atas diperkirakan mengalami penurunan seiring dominasi elemen api yang “membakar” nilai investasi. Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi pihak yang memiliki likuiditas untuk mengakumulasi aset, meski daya beli masyarakat secara umum masih tertekan.
“Kalau kamu mau beli rumah atau beli apa, cepat. Karena nanti nilai tanah, nilai rumah, nilai segala macam itu akan turun, dan yang saya sampaikan sejalan dengan apa yang disampaikan Pak Purbaya,” sebut Yorita.





