Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Subang
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk membahas kesiapan penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026, di Subang, Jawa Barat, Sabtu, 14 Februari 2026.
Pertemuan tersebut menitikberatkan pada penguatan pengawasan di sejumlah titik rawan yang berpotensi memicu kepadatan dan gangguan keselamatan selama arus mudik dan balik.
Menhub menegaskan, Jawa Barat memegang peran strategis dalam periode angkutan Lebaran karena menjadi salah satu daerah asal pergerakan terbesar sekaligus jalur utama menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Jawa Barat memiliki posisi yang sangat strategis dalam penyelenggaraan Angkutan Lebaran. Selain sebagai daerah asal pergerakan terbesar, wilayah ini juga menjadi lintasan utama menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujar Dudy dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.
Potensi Pergerakan Capai 143,91 Juta Orang
Berdasarkan Survei Angkutan Lebaran 2026, potensi pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total populasi Indonesia. Meski angka tersebut lebih rendah dibanding survei tahun sebelumnya, Menhub mengingatkan bahwa realisasi di lapangan berpotensi lebih tinggi.
Ia mencontohkan, realisasi berbasis Mobile Positioning Data (MPD) pada Lebaran 2025 mencapai 154,62 juta orang, melampaui angka survei. Karena itu, pemerintah tetap menyiapkan kapasitas maksimal, khususnya di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Jawa Barat.
“Potensi realisasi 2026 bisa saja melampaui hasil survei. Ini menjadi dasar kita untuk tetap menyiapkan kapasitas secara optimal,” jelasnya.
Dominasi Mobil Pribadi dan Jalur Tol
Menhub juga menyoroti dominasi penggunaan mobil pribadi yang dipilih sekitar 53 persen masyarakat untuk perjalanan mudik. Mayoritas pengguna kendaraan pribadi diprediksi akan memadati jalur tol, terutama koridor Jakarta–Cikampek yang kerap menjadi titik kritis setiap Lebaran.
Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terutama dalam sinkronisasi pengaturan lalu lintas di jalur arteri serta pengendalian titik rawan kemacetan.
Dalam rapat koordinasi tersebut, Menhub meminta pengawasan diperkuat pada sejumlah titik krusial seperti pasar tumpah di jalur arteri, kawasan wisata yang diprediksi padat setelah hari pertama Lebaran, serta perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan.
“Kami meminta dukungan penuh Pemprov Jawa Barat dalam pengendalian pasar tumpah, penataan kawasan wisata, pengawasan perlintasan sebidang, serta penguatan rekayasa lalu lintas di jalur arteri maupun tol,” tegasnya.
Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Titik Rawan Bencana
Selain kepadatan lalu lintas, Menhub juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan titik rawan bencana di Jawa Barat, seperti daerah rawan banjir, longsor, dan rob yang dapat mengganggu kelancaran transportasi.
Untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sarana dan prasarana lintas moda, meliputi angkutan darat, laut, penyeberangan, udara, dan perkeretaapian. Peningkatan keselamatan juga dilakukan melalui ramp check di seluruh moda transportasi.
Menhub turut menekankan pentingnya penguatan manajemen operasional di simpul-simpul transportasi padat seperti terminal dan stasiun di Jawa Barat guna menjamin keamanan dan kenyamanan pemudik.
Ia optimistis penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan lebih aman dan tertib melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
“Melihat besarnya pergerakan dari dan melalui Jawa Barat, keberhasilan Angkutan Lebaran 2026 sangat ditentukan oleh kerja sama yang solid antara pemerintah pusat dan daerah. Kami optimistis Jawa Barat dapat menjadi contoh pengelolaan arus mudik dan balik yang aman dan tertib,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran pejabat tinggi madya Kementerian Perhubungan serta perangkat daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait.
Editor: Redaktur TVRINews





