Bisnis.com, JAKARTA — Mitsubishi Power Indonesia mencatatkan kontribusi signifikan dalam sistem kelistrikan nasional dengan memasok sekitar 19 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit atau setara 25% dari total kapasitas terpasang di Indonesia.
Mitsubishi Power Indonesia merupakan perusahaan asal Jepang yang berfokus pada penyediaan solusi pembangkit listrik, ramah lingkungan, dan teknologi dekarbonisasi. Perusahaan ini mendesain, memproduksi, dan merawat infrastruktur energi terkemuka, seperti turbin gas (GTCC).
Presiden Direktur Mitsubishi Power Indonesia Nobuhiro Kawai mengatakan, capaian tersebut mencerminkan posisi strategis perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus transisi menuju target net zero emission (NZE) 2060.
“Kami telah beroperasi di Indonesia sejak 1971. Tahun ini menjadi 55 tahun perjalanan kami. Saat ini, sekitar 25% kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia menggunakan teknologi Mitsubishi Power,” ujar Kawai dalam wawancara khusus dengan Bisnis dikutip Jumat (13/2/2026).
Dia memerinci, dari total portofolio tersebut, sekitar 65% berasal dari turbin uap batu bara, 35% turbin gas, dan 5% turbin panas bumi.
Khusus turbin gas, Mitsubishi Power mengklaim menguasai sekitar 40% pangsa pasar nasional, menjadikannya pemain terbesar di segmen tersebut.
Menurut Kawai, turbin gas akan memegang peran penting dalam mendukung bauran energi baru terbarukan (EBT) yang saat ini masih berada di kisaran 15%.
Pasalnya, sumber energi seperti surya dan angin bersifat intermiten sehingga membutuhkan pembangkit yang fleksibel dan andal sebagai penopang.
“Energi terbarukan seperti surya dan angin tidak stabil, terutama pada malam hari. Gas turbin dapat menjadi fondasi untuk menjaga keandalan sistem sekaligus mendukung integrasi EBT,” ujarnya.
Dari sisi teknologi, Mitsubishi Power mengandalkan turbin gas dengan temperatur pembakaran (firing temperature) mencapai 1.500 derajat Celcius.
Adapun, untuk memastikan keandalan, setiap unit diuji selama 1 hingga 2 tahun di fasilitas pengujian sebelum dikirim ke pelanggan.
Kawai menyebut, proses validasi yang panjang menjadi faktor pembeda perusahaan di tengah kompetisi global, sekaligus meminimalkan risiko kegagalan operasional di pembangkit listrik.
"Tanpa verifikasi ini, jika kita memasok produk ke pembangkit listrik klien, ada kemungkinan besar terjadi kegagalan atau kecelakaan. Oleh sebab itu, sebelum kami kirim, kami tes dulu, 1 atau 2 tahun, baru dikirim," jelas Kawai.
Baca Juga
- Bidik PLTU Jawa, Mitsubishi Power Lirik Proyek Baru di RUPTL Teranyar
- PLN Belum Kantongi Kandidat PLTU Pengganti Cirebon-1 untuk Disuntik Mati
- ESDM Identifikasi 15 PLTU yang Berpotensi Dipensiunkan Dini





