Grid.ID - Bocah di Subang mendadak viral di sosial media usai mengeluh sekolahnya bau kotoran ayam. Ternyata kondisinya memprihatinkan saat ditinjau Dedi Mulyadi.
Sebuah video aksi seorang bocah mengeluh dan mengadu sekolahnya bau kotoran ayam, viral di media sosial. Akibat bau kotoran ayam yang menyengat itu membuat bocah dan lingkungan sekitarnya merasa terganggu.
Bocah di Subang ngeluh sekolahnya bau kotoran ayam, Dedi mulyadi langsung meninjau lokasi. Ternyata kondisinya memprihatinkan.
Seorang anak bernama Afif mengungkapkan bahwa bau tidak sedap itu muncul karena jarak antara kandang ayam dan sekolahnya sangat berdekatan. Ia mengatakan, jarak kandang ayam dengan sekolah hanya sekitar 20 meter.
“Pak Dedi yeuh pak Dedi, jarakna sekola jeung kandang hayam aya 20 meteran, isu abdi bau pak Dedi,” ujar Afif.
Teman-teman Afif juga terdengar mengeluh. Mereka mengaku kerap merasa mual karena tidak tahan dengan aroma menyengat dari kandang ayam tersebut. Bahkan, menurut salah satu temannya, bau kotoran ayam semakin kuat terutama setelah hujan turun, sehingga suasana belajar menjadi sangat tidak nyaman.
Video keluhan itu diunggah melalui akun TikTok milik Afif, @afiffadillah19, dan kemudian menjadi viral. Tak lama berselang, video tersebut sampai kepada Dedi Mulyadi. Ia pun langsung meninjau sekolah Afif.
Kunjungan itu terlihat dalam video terbaru yang memperlihatkan dirinya mengecek langsung kondisi sekolah yang terdampak bau kotoran ayam. Sekolah Afif diketahui berada di Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Setibanya di lokasi, Dedi Mulyadi langsung mencari Afif, siswa yang pertama kali menyampaikan keluhan tersebut. Ia kemudian meminta Afif bersama pihak sekolah menunjukkan letak kandang ayam yang dimaksud.
Dalam perbincangan dengan kepala sekolah, terungkap bahwa kandang ayam tersebut dikelola oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).
Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya berkoordinasi dengan pemerintah desa dan komite sekolah. Namun diketahui bahwa kandang tersebut belum mengantongi izin lingkungan. Sudah ada rencana untuk memindahkan kandang setelah masa panen selesai, dengan tenggat waktu sekitar tiga bulan.
“Sudah pernah ada musyawarah di desa, sudah ada keputusan, mereka meminta waktu tiga bulan,” ungkap sang Kepala Sekolah, dikutip dari TribunJabar.id.
Tak lama kemudian, kepala desa setempat datang dan memberikan penjelasan kepada Dedi Mulyadi. Ia menyatakan bahwa pihak desa memang sudah merencanakan relokasi kandang ayam tersebut.
Menurutnya, kandang itu awalnya dibangun karena berada di lahan milik desa. Namun ia tidak memperkirakan bahwa keberadaan sekitar 500 ekor ayam akan berdampak besar terhadap lingkungan sekitar sekolah.
Kondisi Memprihatinkan: Bangunan Sekolah Hampir Ambruk
Selain persoalan bau kotoran ayam, sekolah tersebut juga menghadapi masalah serius pada sarana dan prasarana.
Beberapa bagian bangunan terlihat sudah lapuk dan hampir runtuh karena tidak pernah direnovasi selama bertahun-tahun. Dedi Mulyadi pun meninjau langsung ruang-ruang yang kondisinya memprihatinkan itu dan mengaku prihatin melihat keadaannya.
“Waduh ini bagaimana kalau menimpa siswa bu,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menyoroti kondisi plafon yang rusak dan dikhawatirkan bisa membahayakan para murid jika sewaktu-waktu jatuh.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menegur soal kurang terjaganya kebersihan lingkungan sekolah. Ia meminta para siswa dan pengelola sekolah untuk rutin melakukan kerja bakti demi menjaga kebersihan area sekolah.
Melihat kondisi bangunan yang sudah tidak layak, Dedi Mulyadi menyatakan akan mengalokasikan bantuan renovasi sebesar Rp 200 juta.
“Ya udah nanti saya bantu Rp 200 juta ya,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa tim dari pemerintah akan diterjunkan untuk berkoordinasi dan merealisasikan perbaikan gedung sekolah tersebut. Pernyataan Gubernur Jawa Barat itu pun disambut antusias oleh para siswa dan pihak sekolah.
Dedi kemudian berpesan agar para murid selalu menjaga kebersihan, khususnya dengan mengaktifkan kegiatan bersih-bersih setiap hari Jumat.
Ia menegaskan bahwa bantuan renovasi tersebut diberikan dengan catatan lingkungan sekolah harus tetap terawat. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya komunikasi berkelanjutan dengan kepala desa agar persoalan kandang ayam segera terselesaikan dan suasana belajar kembali nyaman serta sehat. (*)
Artikel Asli




