Bisnis.com, JAKARTA - Pengiriman bijih nikel dari Filipina ke Indonesia diproyeksi melonjak dua kali lipat menjadi 30 juta ton tahun ini seiring langkah pemerintah Indonesia membatasi produksi besar-besaran.
“Jika mereka [Indonesia] memangkas pasokan domestik, mereka mau tidak mau mendapatkannya dari tempat lain,” kata Dante Bravo, Presiden Global Ferronickel Holdings Inc., produsen bijih nikel terbesar kedua di Filipina, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (14/2/2026).
“Kekurangan pasokan mereka akan dipenuhi dari sumber lain, dari Filipina, dari New Caledonia, dari berbagai belahan dunia lainnya," imbuhnya.
Menurutnya, ekspor nikel Filipina ke Indonesia tahun ini berpotensi meningkat dua kali lipat dibandingkan 2025 yang mencapai sekitar 15 juta ton.
Filipina memproduksi sekitar 65 juta ton bijih nikel setiap tahun dan sebagian besar produksinya selama ini dikirim ke China. Namun, penjualan ke Indonesia melonjak sejak 2024 setelah Indonesia memberlakukan pembatasan produksi yang membuat smelter-smelter kelimpungan mencari pasokan.
Pembatasan produksi nikel masih berlanjut. Baru-baru ini, otoritas energi Indonesia meminta tambang nikel terbesar di dunia, PT Weda Bay Nickel, untuk mengurangi produksi secara signifikan. Perusahaan patungan Eramet (Prancis), Tsingshan Holding Group Co (China), dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) itu hanya menerima persetujuan kuota produksi dan penjualan sebesar 12 juta wet metric ton (wmt) tahun ini.
Baca Juga
- Weda Bay Nickel Ajukan Revisi RKAB Usai Kuota Produksi Turun 71%
- Tok! ESDM Resmi Pangkas Produksi Nikel jadi 260 Juta-270 Juta Ton Tahun Ini
- Pasokan Nikel Terancam Defisit saat Smelter HPAL Baru Mulai Beroperasi
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Kementerian ESDM mengumumkan pemangkasan produksi nikel di level 260 juta-270 juta ton pada tahun ini. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuota produksi yang disetujui dalam RKAB 2025, yakni 379 juta ton.
"Nikel [RKAB] sudah kami umumkan hari ini, 260 [juta] sampai 270 [juta] lah, in between range-nya itu," ucap Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026).
Langkah tersebut diambil oleh Kementerian ESDM guna mendongkrak harga nikel di pasar global yang sempat stagnan di level US$14.000-US$15.000 per ton pada 2025.
Adapun, produksi nikel Filipina diperkirakan diuntungkan oleh curah hujan yang tidak terlalu tinggi tahun ini. Namun, jika produksi tetap stagnan, pengiriman ke China mungkin sedikit menurun dan dialihkan ke Indonesia, kata Bravo, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Industri Nikel Filipina.
“Saya yakin akan terjadi persaingan antara pasar Indonesia dan China,” ujar Tulsi Das Reyes, Presiden Unit Pertambangan DMCI Holdings Inc., dalam pesan teks kepada Bloomberg.
Reyes memperkirakan pengiriman nikel Filipina ke Indonesia tahun ini berpotensi meningkat 20%.
“Penurunan produksi Indonesia akan menciptakan peluang bagi produsen bijih Filipina, terutama jika permintaan global tetap kuat,” imbuh Reyes.
Sementara itu, Nickel Asia Corp., produsen nikel terbesar di Filipina, dapat memasok lebih banyak bijih dari tambang Manicani di Filipina bagian tengah untuk musim penambangan mendatang.
“Kami siap meningkatkan produksi sesuai kebutuhan situasi,” ujar Wakil Direktur Keuangan Nickel Asia Corp Andre Mikael Dy dalam jawaban melalui email.
Namun demikian, menurut Presiden Global Ferronickel Holdings Inc Dante Bravo, produksi Filipina mungkin tidak akan meningkat dengan cepat, karena lebih dari separuh dari 37 tambang nikel yang beroperasi di negara itu sudah berusia tua dan proses ekspansi berjalan lambat.
“Jika pemerintah ingin memanfaatkan peluang ini, kuncinya adalah mempercepat proses perizinan,” imbuh Bravo.
Ekspansi pesat industri nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong negara tersebut ke posisi dominan. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menekan harga dan menyulitkan produsen pesaing di Australia dan New Caledonia.
Filipina merupakan produsen bijih nikel terbesar setelah Indonesia, tetapi pengembangan industri hilirnya belum sebanding dengan Indonesia.
Meski Filipina sempat mewacanakan pelarangan ekspor bijih nikel, kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan. Hingga kini, Filipina masih mengekspor sebagian besar nikelnya dalam bentuk mentah.





