Banjir di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak hanya menggenangi pemukiman dan persawahan di 22 desa, tetapi juga berdampak ke nelayan.
Sekitar 12 perahu nelayan dilaporkan hanyut. Bahkan, puluhan perahu nelayan lainnya yang hendak pulang dari melaut kesulitan bersandar ke dermaga.
Kondisi tersebut terjadi di perairan Kecamatan Puger. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti nasib perahu-perahu nelayan di kawasan pesisir selatan Jember itu.
"Ya, memang benar ada laporan belasan perahu hanyut terbawa arus sungai sampai ke laut ketika banjir. Tapi, update sampai sekarang belum ada lagi perkembangannya. Saya mau tanya dulu ke Camat Puger," kata Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, Sabtu (14/2).
Posisi dermaga tempat sandar perahu nelayan Puger berada di aliran sungai Bedadung. Muara sungai yang disebut plawangan adalah akses keluar dan masuknya perahu dari atau ke laut.
Sungai Bedadung adalah sungai terbesar dan terpanjang yang membelah wilayah Jember. Alirannya memanjang mulai dari pegunungan purba Argopuro ke tengah pusat kota hingga pantai selatan.
Sungai Bedadung menjadi salah satu dari delapan sungai yang airnya meluap dan mengakibatkan banjir sejak Jumat (13/2) kemarin. Sekitar 22 desa dalam 9 kecamatan diterjang banjir.
Sebanyak 7.249 kepala keluarga (KK) korban terdampak banjir yang di dalamnya ada 557 orang harus mengungsi. Pengungsi adalah warga yang rumahnya tenggelam dan juga lapisan rentan seperti anak-anak, lansia, perempuan, dan difabel.
Pemkab Jember masih memberikan sembako kepada seluruh korban terdampak. Disamping menyuplai makanan siap konsumsi yang dibuat melalui dapur umum.
Menurut Edy, penanganan bencana akan berlangsung hingga 14 hari ke depan. Setelah baru saja terbit keputusan Bupati Jember tentang penetapan status bencana dan tanggap darurat.
"Saya dapat kabar Bupati sudah menerbitkan keputusan. Tapi, nanti seperti apa bentuk dan isinya surat keputusan biasanya dirilis melalui Diskominfo. Yang jelas, keputusan Bupati itu berlaku sampai dengan tanggal 26 Februari," jelas mantan Kepala Bappeda Jember itu.
Edy menjelaskan, prioritas pada tahap awal ini menangani keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup korban-korban terdampak. Sedangkan, berikutnya pasca bencana berupa pemulihan kondisi fasilitas umum yang rusak akibat banjir.
"Selain sembako ada juga pertolongan medis yang disiapkan. Kalau untuk pasca bencana ada tim yang diterjunkan mengidentifikasi setiap fasum yang rusak dan selanjutnya akan diperbaiki," ulasnya.
Pantauan di sejumlah lokasi terlihat aspal jalan raya banyak yang mengelupas. Paving-paving jalan lingkungan di sekitar pemukiman juga tergerus arus banjir.
Sejumlah jembatan bahkan rusak dalam kondisi amblas dan putus, sehingga tidak berfungsi lagi. Sementara ini, warga sekitar dalam beraktivitas dengan kendaraan memakai jalur alternatif yang jaraknya lebih jauh.
Mengenai Bupati Jember, Muhammad Fawait yang menerbitkan keputusan tanggap darurat bencana turut dibenarkan Kepala Diskominfo, Regar Jeane Dealen Nangka.
"Ya, sudah ada," jawabnya meski belum diumumkan secara terbuka melalui konferensi pers dengan kebiasaan Bupati Fawait yang hadir langsung.





