Jakarta, tvOnenews.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, secara blak-blakan mengakui bahwa menjadi juru taktik skuad Garuda ibarat pisau bermata dua. Selain menjadi anugerah, ada sebercak “kutukan” yang menurutnya ikut menyertai jabatan tersebut.
Timnas Indonesia kini memasuki era baru di bawah asuhan John Herdman. Ia resmi diperkenalkan PSSI sebagai pelatih anyar pada Januari lalu.
Kehadirannya menggantikan Patrick Kluivert yang diberhentikan PSSI. Hasil minor dan kegagalan skuad Garuda lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi alasan utama berakhirnya kerja sama dengan legenda Barcelona tersebut.
Penunjukan John Herdman sebagai penanda era baru diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi tim nasional. Terlebih, ia pernah mencatatkan sejarah dengan meloloskan Timnas Kanada ke Piala Dunia 2022.
John Herdman membeberkan bahwa keputusannya menerima pinangan PSSI tak lepas dari tantangan baru yang ingin ia hadapi. Ia pun mengakui bahwa posisinya sebagai pelatih skuad Garuda ibarat pisau bermata dua.
Dari sisi positif, ia memandang kehadirannya bisa menjadi anugerah dalam perjalanan baru Timnas Indonesia. Namun di sisi lain, ada “kutukan” yang menurutnya ikut mengiringi jabatan tersebut.
Kutukan yang dimaksud John Herdman berkaitan dengan ekspektasi besar dari para suporter. Ia merasa belum sepenuhnya berhak memikul harapan setinggi itu karena baru saja memulai tugasnya bersama Timnas Indonesia.
"Di balik itu semua, ada semangat para penggemar. Jadi kami tidak berjuang melawan apa pun, melainkan benar-benar memiliki sesuatu yang mendukung kami," kata Herdman dikutip dari ASEAN United FC, Minggu (15/2/2026).
"Itu bisa menjadi anugerah dan kutukan. Bisa disebut kutukan karena ada begitu banyak ekspektasi, sementara kami belum berhak untuk memiliki ekspektasi itu," tambahnya.
Lebih lanjut, juru taktik asal Inggris tersebut mengungkapkan ambisi dan misinya bersama Timnas Indonesia. Target besarnya adalah membawa skuad Garuda lolos dan tampil di Piala Dunia 2030.
Misi tersebut tertuang dalam kontrak yang diberikan PSSI kepada John Herdman untuk empat tahun ke depan. Ia akan menjalani masa jabatan dengan skema 2+2 tahun.
"Saya kira kita berada di ambang melakukan sesuatu yang dapat membangun kepercayaan dan rasa hormat terhadap diri kita sebagai sebuah bangsa," ujar John Herdman.




