Peneliti BRIN Wanti-wanti Risiko Ini Akibat Pencemaran Pestisida di Cisadane

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ignasius Sutapa memaparkan potensi dampak pencemaran pestisida di Sungai Cisadane usai kebakaran gudang. Ignas mengatakan tumpahan zat kimia itu bisa berisiko menimbulkan efek kesehatan kronis.

Ignas menerangkan terdapat potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi yang diakibatkan oleh perpindahan residu pestisida atau metabolit yang terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.

"Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis," kata Ignas seperti dilansir Antara, Minggu (15/2/2026).

Baca juga: Pemilik Gudang Janji Pulihkan Sungai Cisadane dari Cemaran Kimia Usai Kebakaran

Ignas mengatakan kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama.

Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.

Dari sisi kesehatan publik, lanjut Ignas, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.

Ia menyebut terdapat jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, yang dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.

"Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," ungkap Ignas.

Untuk mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.

Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.

Baca juga: KLH Ambil Sampel Air Sungai Tercemar Pestisida di Tangsel, Karbon Aktif Ditebar

Ignas menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.

Menurutnya, restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.

"Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," pungkasnya.




(lir/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenal Saldo Mengendap dan Manfaatnya untuk Dana Darurat
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Catat! Ini Jadwal dan Aturan Pembelajaran Selama Puasa-Lebaran 2026
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Sejoli Diduga Mesum di Taksi Online Viral, Polisi Kantongi Identitas Penumpang
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
4 Rekomendasi Film Bioskop Terbaru untuk Libur Panjang 16-18 Februari 2026
• 52 menit lalukompas.tv
thumb
Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik dan Peluang Bisnis Pengisian Daya SPKLU
• 10 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.