Jayapura: Wakil Gubernur Papua, Aryoko AF Rumaropen, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Papua dalam memperkuat kolaborasi dengan Universitas Cenderawasih (Uncen) guna meningkatkan mutu dan keberlanjutan pendidikan profesi dokter di Tanah Papua.
"Kita harus menyiapkan anak-anak Papua sendiri menjadi dokter yang berkualitas. Tidak mungkin kita terus bergantung pada tenaga medis dari luar daerah. Karena itu, seluruh tahapan pendidikan, termasuk penyelesaian administrasi mahasiswa koas, harus dipastikan tuntas dan berjalan optimal," tegas Wagub dalam rapat koordinasi bersama Fakultas Kedokteran Uncen dan manajemen rumah sakit pendidikan di Jayapura, Jumat, 13 Februari 2026.
Wagub juga menekankan pentingnya peran dokter senior dan akademisi dalam mendampingi para dokter muda Papua guna mewujudkan kemandirian pelayanan kesehatan berbasis putra-putri daerah.
Kolaborasi antara Pemprov Papua dan Uncen menjadi langkah strategis mengingat Fakultas Kedokteran Uncen sejak berdiri hingga tahun 2026 telah menghasilkan 1.393 dokter umum. Pada tahun 2025, Uncen meluluskan 177 dokter umum dengan 134 di antaranya merupakan putra-putri Orang Asli Papua (OAP). Sementara pada awal tahun 2026, sebanyak 83 dokter baru dilantik, dengan 43 orang berasal dari OAP.
Dalam skema kerja sama baru, RS Dok II Jayapura tetap berperan sebagai rumah sakit pendidikan utama yang difokuskan pada pengembangan program pascasarjana dan spesialis, sementara RS Abepura ditetapkan sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan profesi dokter (koas) dengan kurikulum baru.
Kebijakan penataan peran rumah sakit pendidikan ini merupakan respons terhadap dinamika yang berkembang. Sebelumnya, Komite Koordinasi Pendidikan RSUD Jayapura menyampaikan aspirasi ke Majelis Rakyat Papua terkait pengalihan pendidikan profesi dokter FK Uncen dari RSUD Dok II ke RSUD Abepura. Selama hampir 20 tahun, pendidikan profesi dokter FK Uncen berlangsung di RSUD Dok II dengan dukungan 66 dokter spesialis dan subspesialis sebagai pembimbing.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Papua dan Uncen akan meluncurkan program pendidikan dokter spesialis anestesi pada 27 Februari 2026, yang akan diresmikan langsung oleh Gubernur Papua bersama Rektor Uncen. Program ini menjadi program pendidikan dokter spesialis berbasis universitas (university-based) pertama di Tanah Papua .
Program spesialis anestesi dinilai strategis mengingat kebutuhan layanan bedah dan penanganan kasus kegawatdaruratan di Papua yang terus meningkat. Papua selama ini mengalami kekurangan dokter spesialis anestesi yang serius, sehingga rumah sakit sering mengandalkan tenaga dari luar daerah atau menunda operasi penting karena keterbatasan dukungan anestesi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Uncen, Inneke Viviane Sumolang, menyatakan kesiapan pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran melalui penguatan peran rumah sakit mitra dan pengembangan program spesialis.
"Ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk mengamalkan ilmu dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pengabdian kepada masyarakat," tutupnya.



