Militer Amerika Serikat (AS) dikabarkan sedang mempersiapkan kemungkinan operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu melawan Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan. Informasi itu disampaikan dua pejabat AS yang menyebut situasi berpotensi menjadi konflik serius.
Dilansir Reuters, Minggu (15/2/2026), para pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena sifat sensitif dari perencanaan tersebut, menyebut ada pertaruhan bagi diplomasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan mengadakan negosiasi dengan Iran pada hari Selasa di Jenewa, dengan perwakilan dari Oman bertindak sebagai mediator. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa meskipun preferensi Trump adalah mencapai kesepakatan dengan Teheran 'itu sangat sulit dilakukan'.
Sementara itu, Trump telah mengumpulkan pasukan militer di wilayah tersebut, meningkatkan kekhawatiran akan aksi militer baru. Para pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa Pentagon mengirimkan kapal induk tambahan ke Timur Tengah, menambah ribuan pasukan lagi bersama dengan pesawat tempur, kapal perusak rudal berpemandu, dan kekuatan tempur lainnya yang mampu melancarkan serangan dan bertahan melawan serangan tersebut.
Trump, berbicara pada hari Jumat setelah acara militer di Fort Bragg di Carolina Utara, secara terbuka mengemukakan kemungkinan untuk mengganti pemerintahan di Iran. Dia mengatakan bahwa 'sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi'.
Dia menolak untuk menyebutkan siapa yang dia inginkan untuk mengambil alih Iran, tetapi mengatakan 'ada orang-orang'.
"Selama 47 tahun, mereka terus berbicara dan berbicara dan berbicara," kata Trump.
(haf/imk)





