TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, tampak ramai peziarah yang berlalu-lalang. Langkah mereka langsung tertuju ke makam kerabat dan orang tersayang.
Di antara para peziarah itu, tampak pula sejumlah orang berjalan lebih bergegas sambil membawa perkakas seperti sapu, gunting rumput, alat siram tanaman, dan lap. Mereka mengikuti peziarah yang baru datang.
Tanpa banyak bicara, makam yang hendak diziarahi langsung mereka bersihkan. Jika peziarah tidak menolak, mereka akan menuntaskan pekerjaannya hingga makam benar-benar bersih dan rapi. Namun jika tak diperlukan, mereka pun menghentikan aksinya tanpa protes.
Mereka adalah perawat makam yang tersebar di area TPU Karet Bivak. Membersihkan makam menjadi sumber penghasilan bagi mereka.
"Ya namanya kita cari rezeki, cari duit, Mas. Jadi kita kerja di kuburan gitu," ujar Warsi (54), salah satu perawat makam.
Sudah dua tahun terakhir, TPU menjadi tempat Warsi mencari nafkah setiap hari. Sejak pagi hingga matahari terbenam, ia berada di area pemakaman. Namun, menjelang bulan puasa, jumlah peziarah biasanya meningkat.
"Kita sih kalau hari biasa ada empat, lima orang. Kadang tujuh. Banyak dari mana-mana kalau munggahan begini. Tapi kalau nggak munggahan ya kurang," ungkap Warsi.
Penghasilan Tak TentuPenghasilannya pun tak menentu. Dari satu makam, ia bisa menerima Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung pemberian ahli waris. Terkadang hasil itu juga harus dibagi dengan sesama perawat makam.
"Ya tergantung dari ahli waris, Mas. Kadang dikasih sepuluh ribu, lima belas ribu, dua puluh ribu, ramai-ramai. Kadang dapat lima puluh ribu kalau lagi ada rezeki, tapi bagi-bagi," tutur Warsi.
Berbeda dengan Warsi yang mengandalkan penziarah harian, Siman (44) mengaku bekerja secara langganan bulanan. Ia menangani sekitar 30 makam dari 15 keluarga.
"Kalau makam sih hampir 30. Cuma misalnya satu keluarga makamnya dua, dihitungnya satu. Jadi saya megang tiga makam, tapi yang bayar satu keluarga," kata Siman.
Untuk biaya perawatan bulanan, tarifnya bervariasi.
"Yang per bulan ada yang Rp 100 ribu, ada yang Rp 50 ribu, beda-beda," sambungnya.
Siman menjelaskan, makam langganan biasanya ia bersihkan lebih dahulu. Setelah selesai, hasilnya difoto dan dikirimkan kepada keluarga sebagai laporan.
"Kalau bagus ya dikirim uangnya. Kalau jelek bisa dimarahin. Kalau bagus ya aman," ujarnya.
Meski begitu, ia mengaku kerap menghadapi kendala pembayaran.
"Ya tantangannya kadang nggak dibayar. Kita nggak marah, paling cuma nanya, 'Bu, ini gimana masalah pembayaran per bulannya?' Kuburan sudah bagus, tapi kadang nggak dibayar, ya sudah kita nyerah," katanya.
Selama dua tahun menjadi perawat makam, Siman memahami alur perawatan yang rutin ia lakukan. Mulai dari menyiram tanaman, menggunting rumput, hingga memberi pupuk.
"Pertama siram dulu. Sebelum kasih pupuk, gunting rumput dulu, baru dikasih pupuk. Biasanya seminggu atau dua minggu sekali. Kalau sudah panjang lagi, kita potong lagi, begitu terus," jelas Siman.
Bahan pupuk ia beli dari toko tanaman maupun platform belanja daring. Setelah itu, pupuk diracik kembali dan dicampur obat antisemut.
"Belinya di toko tanaman atau online, cari yang promo. Lumayan beda sepuluh ribu. Yang mahal itu obat semutnya," kata Siman.
Selain pelanggan tetap, Siman juga menerima bayaran dari penziarah yang datang sewaktu-waktu, seperti halnya Warsi. Penghasilan semacam itu biasa ia sebut sebagai uang saweran atau uang rokok.
"Kalau ada yang datang, ya saweran lah, uang rokok," ungkapnya.
Dengan pengalamannya, Siman menyebut ada dua prinsip agar bisa bertahan menjadi perawat makam: sabar dan ikhlas.




