Harga Bitcoin (BTC) berhasil kembali menembus level US$70.000 di Minggu (15/2). Kenaikan ini terjadi menyusul data inflasi yang lebih rendah dari Amerika Serikat (AS).
Dari Negeri Paman Sam, Consumer Price Index (CPI) Januari secara tahunan naik 2,4%. Capaian tersebut sedikit di bawah proyeksi pasar sebesar 2,5%. Angka ini memicu spekulasi bahwa penurunan suku bunga acuan dolar dapat dilakukan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, sehingga mendorong penguatan saham dan aset kripto.
Baca Juga: Sudah Ada Polanya, Analis Sebut Harga Bitcoin (BTC) Akan Turun Jadi Segini
Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah membuat aset berisiko seperti bitcoin menjadi lebih menarik, seiring turunnya imbal hasil instrumen bebas risiko. Kondisi tersebut memberi ruang bagi reli jangka pendek di pasar kripto.
Meski demikian, indikator sentimen menunjukkan kondisi pasar belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih bertahan dalam zona extreme fear sejak awal bulan, mencerminkan kecemasan yang masih kuat dalam kalangan investor.
Volume perdagangan yang relatif tipis turut menopang kenaikan harga, terutama selama akhir pekan, bersamaan dengan tanda-tanda seller exhaustion. Namun, rasa takut ekstrem masih menjadi tantangan utama.
Baca Juga: Gegara Hal Ini, Harga Bitcoin (BTC) Diproyeksi Turun Lebih Rendah Lagi
Kondisi ini membuat sebagian investor memanfaatkan setiap reli sebagai peluang untuk menjual. Apakah pola tersebut akan terus berlanjut, atau justru peralihan ke pemegang dengan keyakinan lebih kuat akan mengubah arah pasar, masih menjadi tanda tanya bagi pelaku kripto.





