Meski semakin banyak ayah masa kini terlibat dalam pengasuhan anak, kenyataannya sebagian besar pekerjaan rumah tangga masih dibebankan pada ibu. Bukan hanya tugas fisik seperti memasak atau mencuci, tetapi juga beban mental yang sering kali tidak terlihat dan jarang disadari.
Beban mental ini dikenal sebagai cognitive labor atau kerja kognitif—yakni aktivitas mengantisipasi kebutuhan keluarga, menyusun jadwal, merencanakan, mencari informasi, hingga memastikan semuanya berjalan lancar. Tugas-tugas ini mungkin tak tampak, tetapi menguras energi pikiran setiap hari.
Profesor psikologi dari University of Southern California, Darby Saxbe, menjelaskan kerja kognitif yang dimaksud, seperti memikirkan menu makan keluarga--yang tidak membosankan dan disukai semua orang di rumah; mencari pilihan les anak dan mengatur jadwalnya; memastikan semua tagihan bulanan sudah terbayar; memikirkan kado untuk kerabat hingga teman anak, dan masih banyak lagi.
Riset soal Beban Kognitif Rumah TanggaTim peneliti dari USC lantas mencoba mengukur secara khusus dampak kerja kognitif terhadap kesehatan mental ibu. Dalam studi yang diterbitkan di Archives of Women's Mental Health, lebih dari 300 ibu dengan anak kecil diminta melaporkan siapa yang bertanggung jawab atas 30 tugas rumah tangga, mulai dari mengatur kalender keluarga hingga mencuci pakaian. Tugas kemudian dipisahkan menjadi perencanaan mental dan pelaksanaan fisik.
Hasilnya menunjukkan ketimpangan yang jelas. Para ibu mengaku menangani sekitar 73% pekerjaan mental, sementara pasangan hanya 27%. Untuk tugas fisik pun ibu masih dominan dengan 64%, dan ayah 36%. Bahkan, satu-satunya tugas yang lebih banyak dilakukan ayah adalah membuang sampah.
Peneliti menemukan bahwa kerja kognitif berkaitan erat dengan depresi, stres, kelelahan, dan burnout pada ibu. Semakin besar beban mental yang ditanggung, semakin menurun pula kesehatan mental dan kualitas hubungan mereka.
Salah satu penyebabnya adalah karena pekerjaan ini sering tak diakui. Dalam banyak keluarga, satu pihak harus terus memberi instruksi atau membuat daftar tugas, sementara pasangannya hanya “menunggu disuruh”. Pola ini membuat pembagian kerja terasa tidak setara.
Karena tidak kasatmata, pasangan sering tidak menyadari betapa banyak waktu dan energi yang habis untuk berpikir, merencanakan, dan mengatur. Akibatnya, ibu merasa lelah tanpa tahu sumbernya, serta kehilangan ruang mental untuk diri sendiri, karier, atau hal-hal yang mereka nikmati.
Dengan menyadari dan membagi beban mental secara lebih adil, keluarga bukan hanya menjadi lebih seimbang, tetapi juga lebih sehat—terutama bagi para ibu yang selama ini memikulnya sendirian.





