Pantau - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyatakan perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan menjadi ruang pemujaan sekaligus penguatan identitas Hindu Nusantara dalam rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026.
Ia menegaskan perayaan Shivaratri tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah edukasi, toleransi, dan harmoni antarumat.
Menurutnya, kegiatan tersebut merepresentasikan kekuatan pariwisata Indonesia yang berbasis warisan budaya hidup, bukan hanya keindahan alam.
Pemerintah menilai perayaan ini sebagai harmonisasi antara pelestarian cagar budaya dan penguatan narasi kebangsaan melalui jalur spiritualitas.
Ia menyatakan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan ritual dan tradisi keagamaan tanpa mengurangi nilai kesakralannya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Wisnu Bawa Tanaya, menekankan Mahashivaratri sebagai momentum sakral bagi umat Hindu untuk merenung dan menyucikan diri.
Prosesi sakralisasi air suci melibatkan 33 sulinggih sebagai simbol penyatuan energi Nusantara.
Air suci dari sembilan candi digunakan sebagai simbol pembersihan jiwa kolektif umat.
Umat diajak menghadirkan kedamaian dan kejernihan pikiran melalui doa dan meditasi bersama.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menyebut Prambanan sebagai episentrum Hindu Nusantara dan jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Ia menyatakan Mahashivaratri perdana di Prambanan menjadi momentum pulang ke rumah bagi umat Hindu.
Kesakralan acara dibalut semangat inklusivitas dengan membuka akses luas bagi masyarakat.
Rangkaian penutup festival meliputi penyalaan 1.008 dipa sebagai simbol persatuan dalam doa dan kumandang damaru untuk memperkuat suasana meditasi.
Perayaan tersebut diharapkan menghadirkan Jagadhita atau kesejahteraan serta kedamaian dunia.
Mahashivaratri merupakan hari suci penting umat Hindu yang diperingati sebagai momen pemujaan kepada Dewa Shiva sebagai Sang Pelebur dan sumber kesadaran tertinggi dalam ajaran Hindu.




