Bandung: Perumda Pasar Juara Kota Bandung resmi meluncurkan Pasar Cijerah bertepatan menjelang memasuki bulan suci Ramadan. Peresmian ini menjadi angin segar bagi para pedagang yang telah menanti rampungnya revitalisasi pasar tersebut.
Direktur Utama Perumda Pasar Juara Kota Bandung, Pradana Aditya Wicaksana, mengatakan pembangunan pasar selesai lebih cepat dari target yang ditetapkan. Revitalisasi pasar tersebut dilakukan selama delapan bulan dan kini menjadi penopang kebutuhan warga yang berada di perbatasan Kota Bandung dan Cimahi.
"Launching pasar ini kita lakukan sekarang, bertepatan dengan memasuki bulan Ramadan. Alhamdulillah pembangunan telah selesai dan para pedagang juga sudah bisa segera menempati ruang dagang. Pasar ini kita bangun kurang lebih hampir satu tahun, namun realisasinya bisa diselesaikan dalam waktu delapan bulan. Alhamdulillah lebih cepat dari target, sehingga para pedagang kini sudah dapat berdagang dengan nyaman di Pasar Cijerah," ujar Aditya usai peresmian di Pasar Cijerah Bandung, Minggu, 15 Februari 2026.
Pasar Cijerah dibangun dengan sejumlah fasilitas penunjang yang lebih modern dan tertata. Seluruh fasilitas MCK dipastikan dalam kondisi baru, bersih, dan rapi. Selain itu, tersedia area parkir yang memadai untuk menunjang aktivitas jual beli masyarakat.
Aditya menuturkan dalam hal pengelolaan sampah, pasar ini diklaim memiliki sistem yang lebih baik dibandingkan sejumlah pasar lain yang dikelola Perumda. Saat ini hanya dua RW yang menitipkan sampah di lokasi tersebut dan pengolahannya sudah dilakukan secara mandiri.
"Berbeda dengan beberapa wilayah Perumda Pasar lainnya yang masih menerima titipan sampah dari beberapa kecamatan, di sini tidak. Pengelolaan sampah sudah dilakukan di lokasi sehingga lebih terkendali," kata Aditya.
Sebanyak sekitar 350 kios disiapkan di Pasar Cijerah dengan ukuran yang variatif. Komoditas yang dijual pun beragam, dengan fokus pada kebutuhan pokok seperti sayuran, daging, dan bahan pangan lainnya.
"Kehadiran pasar ini kami harapkan mampu mendukung stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok, terutama selama Ramadan," sahut Aditya.
Baca Juga :
Skema Investasi dan Evaluasi Kerja Sama
Diakui Aditya, proyek ini menelan investasi sekitar Rp20 miliar menggunakan skema kerja sama dengan pihak ketiga melalui mekanisme Build Operate Transfer (BOT) atau Kerja Sama Operasi (KSO). Melalui skema tersebut, mitra akan mengelola operasional pasar selama 20 tahun ke depan.
"Namun kita akan melihat situasi ke depan, apakah konsepnya akan dibuat tematik atau ada evaluasi pasal-pasal tertentu dalam kerja samanya," beber Aditya.
Aditya mengaku berbeda dengan Pasar Ciroyom yang dikelola secara mandiri oleh Perumda, pihaknya telah banyak belajar dari berbagai kelemahan kerja sama di sejumlah pasar lain. Evaluasi sejak awal dinilai penting agar kerja sama berjalan optimal dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
"Kita tahu di beberapa pasar lain masih terdapat berbagai kelemahan. Mudah-mudahan itu tidak terjadi di sini, sehingga pasar ini bisa menjadi percontohan di Kota Bandung," ungkap Aditya.




