Perkembangan kecerdasan buatan dalam pendidikan kini tidak lagi sebatas wacana. Teknologi AI sudah mulai masuk ke ruang kelas, termasuk di jenjang sekolah dasar. Pertanyaannya, apakah kehadiran AI di sekolah dasar menjadi solusi transformasi digital pendidikan, atau justru memunculkan tantangan baru bagi guru dan siswa?
Di era serba digital, anak-anak tumbuh berdampingan dengan gawai dan internet. Karena itu, menutup akses terhadap teknologi bukanlah langkah bijak. Yang lebih penting adalah bagaimana sekolah mengarahkan penggunaan pembelajaran berbasis AI secara terkontrol, edukatif, dan beretika.
Transformasi Digital Pendidikan Dimulai dari SD
Banyak pakar menyebut bahwa transformasi digital pendidikan harus dimulai sejak pendidikan dasar. Mengapa? Karena sekolah dasar adalah fase pembentukan karakter, kebiasaan belajar, dan cara berpikir anak.
Dengan dukungan teknologi pendidikan SD, guru dapat memanfaatkan AI untuk:
- Membantu menjelaskan konsep abstrak melalui visual interaktif
- Memberikan latihan soal adaptif sesuai kemampuan siswa
- Menyediakan umpan balik cepat dan personal
- Meningkatkan motivasi belajar melalui pendekatan digital
Misalnya, dalam pelajaran sains, siswa dapat melihat simulasi tata surya berbasis AI yang interaktif. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, AI dapat membantu memberikan contoh kalimat dan latihan membaca yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.
Namun perlu ditegaskan, AI bukan pengganti guru. Peran guru tetap sentral sebagai pembimbing, pengarah, dan pendidik karakter.
Literasi AI Sejak Dini: Kunci Masa Depan
Integrasi AI di sekolah dasar tidak hanya soal penggunaan aplikasi, tetapi juga tentang membangun literasi digital siswa dan literasi AI sejak dini.
Anak-anak perlu diajarkan bahwa:
AI bisa salah
Informasi harus diverifikasi
Teknologi tidak menggantikan proses berpikir
Jika siswa hanya menggunakan AI untuk menjawab soal tanpa memahami prosesnya, maka pembelajaran kehilangan makna. Sebaliknya, jika AI dimanfaatkan sebagai alat eksplorasi dan diskusi, maka inovasi pembelajaran sekolah dasar akan berkembang pesat.
Di sinilah pentingnya pendidikan karakter dan etika penggunaan AI di sekolah.
Tantangan: Kesiapan Guru dan Infrastruktur
Meski potensinya besar, penerapan kecerdasan buatan dalam pendidikan menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua sekolah memiliki infrastruktur memadai. Selain itu, kesiapan guru dalam memanfaatkan AI secara pedagogis masih perlu ditingkatkan.
Pelatihan bagi guru menjadi kunci. Guru harus dibekali kemampuan:
- Mengintegrasikan AI dalam RPP
- Mengawasi penggunaan teknologi secara bijak
- Mengajarkan etika digital
- Mengembangkan pembelajaran interaktif berbasis teknologi
Tanpa pendampingan yang tepat, AI bisa disalahgunakan, misalnya untuk menyalin tugas tanpa proses berpikir kritis.
AI Bukan Ancaman, Jika Digunakan dengan Bijak
Pada akhirnya, perdebatan tentang AI di sekolah dasar seharusnya tidak berhenti pada pro dan kontra. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang memastikan teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan melemahkannya.
Jika diterapkan dengan bijak, pembelajaran berbasis AI justru dapat:
- Membantu personalisasi pembelajaran
- Meningkatkan daya saing siswa
- Menyiapkan generasi yang adaptif terhadap teknologi
- Mendukung masa depan pendidikan Indonesia
AI bukan ancaman bagi pendidikan dasar. Ancaman sebenarnya adalah ketika sekolah tidak siap menghadapi perubahan zaman.
Pertanyaannya kini bukan lagi “bolehkah AI digunakan di sekolah dasar?”, melainkan “sudahkah kita menyiapkan guru dan siswa untuk menggunakannya secara cerdas?”





